Jendela

Kritik, Cinta, Benci dan Tak Peduli

Demikianlah, dunia terus berputar, tetapi ceritanya tetap serupa. Teguran dan kritik bisa datang dari siapa saja, pecinta atau pembenci

Tayang:
Editor: Hari Widodo
ISTIMEWA
Mujiburrahman, Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin 

Misalnya, kita bisa teliti, apakah informasi itu masuk akal dan memiliki bukti yang nyata dan kuat? Jika ‘ya’, maka tak ada pilihan lain kecuali menerima dan menindaklanjutinya. Jika ‘tidak’, berarti bisa diabaikan.

Bagaimanakah jika teguran dan kritik itu datang dari orang yang memusuhi dan membenci kita? Kritik dari seorang pembenci memang bukan karena cinta, tetapi karena ingin menjatuhkan dan menghinakan kita belaka. Namun, kita juga tak boleh menutup mata jika teguran dan kritik itu mengandung kebenaran.

Sikap kita yang positif terhadap kritik objektif dari para pembenci adalah bukti cinta kita yang tulus pada kebaikan dan kebenaran. Ini artinya, kita setia pada suara hati nurani kita sendiri, meskipun suara itu diungkapkan oleh orang yang membenci kita.

Selain itu, para pembenci biasanya adalah para pengawas yang sangat teliti, terutama dalam mencari aib dan kesalahan orang yang dibenci. Karena itu, jika Anda ingin tahu banyak tentang kekurangan diri sendiri, tanyakan saja kepada para pembenci.

Memang, karena lahir dari kebencian, banyak kritik dari para pembenci itu yang bersifat subjektif bahkan fitnah, tetapi tentu adapula yang benar. Kita harus ingat, kebenaran tak tergantung pada siapa yang mengatakannya. Seperti kata al-Ghazali, “Kenalilah apa yang benar, niscaya kamu akan kenal siapa yang benar”.

Jika suara pembenci saja harus kita dengarkan, apalagi suara orang-orang yang sayang dan peduli pada kita. Lebih penting lagi jika teguran dan kritik itu datang dari orang yang tak punya kepentingan apa-apa selain kemaslahatan bersama, seperti dari seorang ahli yang memiliki rekam jejak panjang sebagai sosok yang berintegritas dan independen. Sungguh suatu anugerah, bahwa dalam setiap masyarakat dan setiap zaman, biasanya ada sosok yang tulus, berani dan berintegritas seperti itu. Biasanya pula, jika tegurannya diabaikan, cepat atau lambat, bencana akan melanda.

Tentu ada pula orang yang apatis, yang tak mau tahu dan tak mau peduli. Dia tidak mau membantu, tetapi juga tidak mau mengganggu. Dia main aman, cari selamat untuk diri sendiri. Mungkin dia dulu pernah peduli, tetapi kemudian kecewa karena merasa suaranya tak didengarkan. Mungkin pula dia oportunis, yakni hanya mau terlibat jika tampak jelas akan mendatangkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Namun, jika yang tidak peduli ini orang baik, maka orang jahat akan semakin bebas berbuat jahat. Padahal, akibat kejahatan itu akan menimpa semua orang, termasuk orang baik.

Demikianlah, dunia terus berputar, tetapi ceritanya tetap serupa. Teguran dan kritik bisa datang dari siapa saja, pecinta atau pembenci. Ada yang mau mendengarkan dan menindaklanjuti, dan ada pula yang menyangkal atau tak peduli. Yang pasti, setiap pilihan tentu ada akibatnya! (*)

 

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved