Sosok yang ada di Mana-mana
Hari ini 8 Mei 2013, bagi sosok Haji Pangeran Gusti Rusdi Effendi AR mengandung makna tersendiri sebagai seorang anak manusia yang nota bene adalah sebagai khalifah di muka bumi.
Oleh: H Muhammad Arsyad
Pensiunan PNS/Widyaiswara Pemprov Kalsel
Hari ini 8 Mei 2013, bagi sosok Haji Pangeran Gusti Rusdi Effendi AR mengandung makna tersendiri sebagai seorang anak manusia yang nota bene adalah sebagai khalifah di muka bumi.
Tujuan hidup untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi keluarga dan bagi masyarakat insya Allah telah diraihnya. Keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah telah mampu diwujudkannya. Dan manfaat keberadaannya telah dirasakan dan diakui eksistensinya oleh masyarakat banua.
Pak Rusdi seolah ada dimana-mana. Berbagai jabatan organisasi sosial kemasyarakatan melekat di belakang pundaknya. Gelar Kesultanan Demak sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Aryo Suryadiningrat pun telah menghias namanya. Berbagai even upacara kenegaraan dan beragam acara seremonial yang diselenggarakan terasa kurang afdol tanpa kehadirannya.
Memang usia 71 tahun sudah di atas rata-rata, telah mendapat bonus dari Allah SWT. Bagi sebagian orang, dalam usia ini tidak jarang telah renta, berjalan tertatih-tatih dengan menggunakan bantuan kaki ketiga, atau harus selalu setia berada di atas kursi roda.
Namun penampilan Pak Rusdi membuat orang merasa iri, tetap bugar dan ceria serta penuh percaya diri. Olahraga tenis dan gulai kambing masih dilirik, aktivitas yang padat diatur secara apik, undangan apapun tak pernah ditampik.
Tamu datang silih berganti, dari rakyat biasa sampai pejabat tinggi, semua diterima tanpa perbedaan, dan mascot bekantan pun laris manis diberikannya sebagai kenang-kenangan bagi tetamu.
Keberadaan Pak Rusdi yang selalu “ada dimana-mana” memang tidak terlepas dari kiprahnya sebagai jurnalis yang telah dirintisnya sejak usia muda. Harian Banjarmasin Post yang didirikannya bersama Djok Mentaya dan Yustan Azidin pada 2 Agustus 1971 menjadi titik tolak yang sangat bermakna, kunci sukses meniti karir jurnalis dan perjalanan hidup dari masa ke masa.
Walaupun Djok Mentaya dan Yustan telah tiada, bahtera Banjarmasin Post tetap berkembang dalam kepemimpinannya dan mampu menempatkan diri menjadi media pilihan dan koran terbesar di Kalimantan, dengan berbagai prestasi, keberhasilan dan sejumlah penghargaan.
Setelah berada di mana-mana, sekarang setelah berusia 71 tahun, mau ke mana? Memang 2013, 2014 dan 2015 adalah tahun-tahun peluang dan kesempatan. Tahun-tahun yang penuh tantangan dan (sekaligus) menjanjikan sejuta harapan, terutama bagi mereka yang ingin berkiprah dalam bidang politik dan pemerintahan.
Pak Rusdi memang sudah mapan dalam karir jurnalistik dan kemasyarakatan. Akankah kemapanan ini dilengkapi dengan tantangan baru yang walaupun tidak asing, namun belum pernah dirasakan, yaitu arena politik pemerintahan.
Pada 2013 sebagai tahap pencalonan untuk keanggotaan DPR-RI dan DPD-RI sudah dirampungkan dan pada gilirannya daftar calon sementara (DCS) serta daftar calon tetap (DCT) akan diumumkan.
Pada 9 April 2014 sebagai ajang pesta demokrasi yaitu hari pemungutan suara telah ditetapkan dan calon-calon terpilih tinggal menunggu garis tangan. Jatah sepuluh kursi untuk legislator (DPR-RI) dan empat kursi untuk senator (DPD-RI) yang mewakili Kalimantan Selatan di Komplek Senayan, cukup bergengsi untuk menjadi tempat perjuangan dan pengabdian.
Kita membutuhkan kader-kader legislator dan senator pilihan, yang siap dan mumpuni berada di saf depan, memberikan andil bagi kemajuan masyarakat dan pembangunan daerah Kalimantan Selatan.
Sementara itu tahun 2015 peluang yang paling menggiurkan dan akan diramaikan oleh kandidat-kandidat berpengalaman adalah posisi DA 1 periode 2015 - 2020, baik jabatan gubernur Provinsi Kalimantan Selatan maupun jabatan bupati/ wali kota di tujuh kabupaten/ kota yang waktunya bersamaan.
Tahun 2015 yang dua tahun lagi tidaklah lama, hanya tujuh ratus hari namun bagaikan sudah berada di depan mata. Meskipun aturan teknis pilkada masih menjadi perdebatan, beberapa kandidat sudah mulai mengambil ancang-ancang. Berbagai posisi dalam Partai Politik terus digalang, loncat pagar bukan lagi menjadi penghalang, asalkan “jukung politik” tidak menjadi pecundang.
Pak Rusdi mau ke mana dan tertarik (mau coba) yang mana? Atau justru tidak ke mana-mana? Tetap konsisten membawa bendera Banjarmasin Post menegakkan keadilan, kebenaran dan demokrasi? Sebuah tugas yang suci dan mulia, karena kita memang belum sepenuhnya diperlakukan secara adil karena masih adanya tebang pilih dalam berbagai kebijakan.
Dan belum sepenuhnya pula mampu melaksanakan tugas dan kewajiban secara benar, baik menurut aturan perundang-undangan, apalagi menurut aturan Tuhan YME. Lebih dari itu raut wajah demokrasi kita belum sepenuhnya “dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat”, namun banyak melenceng menjadi “dari rakyat, oleh rakyat dan untuk...yang membayar”.
Selamat Ulang Tahun Ke-71 Pak Rusdi. Apapun yang Anda pilih, semoga menjadi yang terbaik bagi bangsa, negara, agama dan keluarga. (*)