Earth Hour + Nyepi

EARTH Hour gerakan memadamkan listrik satu jam sedunia, tak begitu terasa di Balikpapan.

Editor: Dheny Irwan Saputra

EARTH Hour gerakan memadamkan listrik satu jam sedunia, tak begitu terasa di Balikpapan. Tetapi ada beberapa lokasi yang melaksanakan seperti di Swiss-Belinn Hotel. Acara ini dihadiri sekitar 300 kalangan pemuda. Fajar, Koordinator Kota Earth Hour 60+ mengatakan aksi ini dipersembahkan untuk bumi yang sudah semakin tua.

Alam dan lingkungan sudah tercabik-cabik, kerusakan lingkungan sudah menunjukkan sinyal kuning kemerahan. Lapisan ozone sudah robek, es di kutub sudah mencair, beberapa pulau kecil mulai tenggelam. Di sisi lain, wajah Indonesia merona akibat kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan. “Kami mencari solusi agar bumi ini tidak lebih sakit lagi,” kata Fajar bersedih.

Menurut Fajar untuk mengurangi kerusakan itu harus mengurangi emisi kendaraan yang menggunakan bahan bakar fosil yang tak terbarukan, termasuk mengurangi penggunaan energi listrik.

Tercatat ada sekitar 200 peserta yang mengikuti berbagai kegiatan dimulai sejak jam 20.30 hingga 21.30. Selain Swiss-Belinn, beberapa hotel lainnya di Balikpapan juga menggelar Earth Hour dengan mematikan lampu selama 60 menit.

Earth Hour 2008 diadakan secara global 28 Maret 2008 mulai pukul 20.00 - 21.00 waktu setempat. Diikuti setidaknya oleh 35 negara berpartisipasi melalui kota utamanya dan dukungan dari 400 kota lainnya. Earth Hour 2008 berhasil diselenggarakan di semua benua di dunia.

Gerakan bermula pada 2004, diawali oleh WWF (World Wildlife Fund) Australia mulai mencari solusi baru untuk menanggulangi masalah perubahan iklim yang semakin parah. Kemudian mereka bertemu dengan sebuah biro iklan, Leo Burnett Sydney, untuk mendiskusikan ide-ide untuk melibatkan warga Australia dalam kampanye isu perubahan iklim, seperti yang dikutip dari earthhour.org. 2005-WWF Australia dan Leo Burnett Sydney mulai mengembangkan konsep skala besar untuk mematikan semua energi di bumi. Proyek ini berjudul The Big Flick.

Pada 2006 WWF Australia bersama Leo Burnett Sydney tertantang untuk mengambil konsep Earth Hour untuk Fairfax Media dan meminta mereka untuk mendukung acara tersebut. Mereka setuju dan sangat mendukung terselenggaranya kegiatan itu.

Perjuangan WWF membuahkan hasil gemilang, karena sebanyak 192 negara pada Konferensi Perubahan Iklim PBB di Kopenhagen, Denmark, setuju mengadakan kampanye Earth Hour di seluruh dunia. Earth Hour 2011 adalah Earth Hour pertama yang melampaui waktu pemadaman satu jam.

Jauh sebelum Eath Hour berkembang, sesungguhnya bangsa Indonesia juga sudah mempunyai konsep memelihara bumi. Suku Bali yang mayoritas penduduknya sebagai pemeluk Hindu (Bali), dan tentu semua pemeluk Hindu selalu merayakan Hari Raya Nyepi. Acara itu menurut penanggalan Bali, dilaksanakan bertetapan 31 Maret 2014 ini, dengan cara amati geni. Alias tidak menggunakan energi sama sekali. Manusia berada di posisi gelap gulita, tanpa api, tanpa listrik, tanpa sinar.

Nyepi merupakan sebuah ajaran untuk menghormati, menyucikan dan memelihara bumi agar tetap awet, aman dan nyaman untuk dihuni. Konsepnya jauh lebih dahsyat dibanding Eath Hour yang hanya satu jam itu. Nyepi bagi masyarakat Bali pemeluk Hindu merupakan pelaksanaan keimanan, masuk di dalam struktur keyakinan yang wajib untuk dilaksanakan.

Kalaulah dunia mau mengadopsi acara ritual ini, maka akan mampu mengungguli gerakan Eath Hour. Selamat merayakan Nyepi! (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved