Kolom
Hidup yang Berdampak
Sekjen Kemenag RI, Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, MA, yang membuka acara itu, menjelaskan panjang lebar arti ‘berdampak’. Pada Rapat UIN Antasari
Oleh: Mujiburrahman
Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin
BANJARMASINPOST.CO.ID- SABTU sore kemarin, saya turut hadir dalam Pembukaan Rapat Kerja UIN Antasari. Rektor kami, Prof. Dr. Nida Mufidah, M.Pd, memperkenalkan tagline baru untuk kampusnya: “Unggul dalam keilmuan, berakhlak dalam kepribadian, dan berdampak bagi kemanusiaan”.
Sekjen Kemenag RI, Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, MA, yang membuka acara itu, menjelaskan panjang lebar arti ‘berdampak’.
Menurutnya, kemajuan satu bangsa tecermin dari kualitas universitasnya. Universitas yang berkualitas adalah yang berkontribusi besar bagi kesejahteraan umat manusia, lahir dan batin.
Sebelum hadir di acara itu, saya dan sejumlah teman melaksanakan halaqah rutin di masjid Kampus 1 UIN Antasari. Pagi itu, kami menamatkan risalah al-Ghazali, al-Munqidz min al-Dhalâl. Risalah otobiografis ini sangat mengesankan, antara lain karena mengisahkan pergumulan intelektual, spiritual dan politik yang dialami al-Ghazali.
Meski usianya tergolong pendek, pengaruh karya-karyanya di dunia (Islam dan bukan) masih amat kuat hingga sekarang. Padahal, al-Ghazali hidup di penghujung abad ke-11 M, tanpa mesin ketik, listrik, apalagi komputer dan internet.
Al-Ghazali adalah contoh nyata tentang ilmu yang berdampak luas. Kalau dibandingkan dengan al-Ghazali, saat ini saya sudah berusia 54 tahun, kurang lebih sama dengan usia al-Ghazali saat dia wafat. Alangkah jauhnya perbedaan antara warisan beliau dan yang sudah saya kerjakan, sejauh langit dan bumi.
Tak ada keraguan bahwa Allah menganugerahi al-Ghazali kejeniusan yang tidak saya miliki. Namun, kejeniusan itu tidak akan berarti apa-apa jika tidak dimanfaatkan. Al-Ghazali telah menggunakan kejeniusannya secara maksimal, dan menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya.
Seorang kawan mengatakan, usia 50 tahunan sudah tergolong ‘manula pemula’. Demikianlah, lain dulu, lain sekarang. Kalau dulu suka memakai minyak harum, sekarang lebih sering mengoles minyak angin dan minyak urut. Kalau dulu sanggup berlari kencang, sekarang hanya sanggup berjalan cepat.
Kalau dulu rambut hitam dan tebal, sekarang sudah memutih dan rontok hingga botak. Kalau dulu mata masih melihat jernih, sekarang sudah harus dibantu kacamata plus atau plus dan minus sekaligus. Tentu masih banyak lagi “kalau dulu dibanding sekarang” yang bisa disebutkan.
Tubuh yang merapuh kadang diselimuti oleh penyakit pula. Ada yang beruntung hanya terkena penyakit ringan seperti flu dan batuk, namun ada pula yang sampai mengidap penyakit berat seperti gangguan jantung, ginjal, liver, paru-paru, diabetes hingga kanker.
Ada yang harus berobat rutin, dan adapula yang harus rawat inap di rumah sakit. Gara-gara sakit ini, kadang obat menjadi makanan, bukan makanan yang menjadi obat. Sudah maklum pula, jika tubuh digerogoti penyakit, maka kemampuan untuk berkegiatan akan menurun. Orang cenderung menjadi kurang produktif.
Secara alamiah, sakit dan penyakit dapat membawa kepada kematian. Manusia yang berusia di atas 50 tahun itu tentu dapat melihat kiri-kanan, siapa saja di antara teman-temannya seangkatan yang sudah pulang dipanggil Allah. Bahkan tak jarang, orang-orang yang lebih muda justru mendahului.
Usia tak dapat ditebak. Jika ajal tiba, tak seorang pun dapat menolak, meskipun seluruh dokter ahli di di muka bumi berkumpul untuk mencegahnya. Ada yang tampak sehat, dan baru kemarin berbincang ria dengan kita, ternyata esok harinya dia meninggalkan kita untuk selamanya.
Entah kebetulan atau sudah sewajarnya demikian, dalam beberapa minggu terakhir, sejumlah kawan yang seangkatan dengan saya, telah meninggal dunia. Kepergian mereka itu laksana bel peringatan bahwa suatu saat setiap orang pasti akan dipanggil-Nya. “Cukuplah kematian sebagai nasihat,” kata Nabi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Mujiburrahman-Rektor-Universitas-Islam-Negeri-UIN-Antasari-Banjarmasin3.jpg)