Kolom
Jeda di Zaman Bergegas
Baru saja kita bertemu Tahun Baru, semakin tua usia kita. Idealnya, semakin tua, semakin bijaksana
Mujiburrahman
Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin
BANJARMASINPOST.CO.ID- Semakin sering kita bertemu Tahun Baru, semakin tua usia kita. Idealnya, semakin tua, semakin bijaksana. Bukan tua-tua keladi, makin tua makin gatal. Kebijaksanaan itu, kata para cendekiawan, diperoleh melalui perpaduan ilmu dan amal, renungan dan tindakan, refleksi dan aksi.
Tahun Baru adalah saat yang tepat untuk merenung. Sistem penanggalan berdasarkan matahari ataupun bulan, antara lain berfungsi menyiapkan titik-titik jeda dalam rentang waktu hidup kita, laksana anak tangga yang harus kita naiki satu demi satu.
Saat kita berpindah dari satu momen ke momen lain, kita sebaiknya merasakan denyut perpindahan itu, dan ketika terasa langkah sudah jauh dan lelah, kita harus berhenti sejenak. Saat berhenti itulah kita merenung, melihat ke belakang apa yang sudah kita lewati dan di mana sekarang kita berdiri, lalu akan kemana nanti kita menuju.
Jika kita tidak berhenti sejenak untuk merenung, berarti kita terus berjalan tanpa henti, mengejar entah apa. Berkat kemajuan teknologi, banyak hal dalam hidup ini bisa kita percepat. Dengan sepeda motor, mobil, kapal laut, hingga pesawat terbang, kita bisa melipat jarak yang jauh menjadi dekat.
Dengan teknologi komunikasi digital, kita bisa terhubung ke hampir semua sudut dunia hanya dalam hitungan detik. Lambat laun, kita terbiasa dengan kecepatan, dan akhirnya menjadi tidak sabaran, ingin serba otomatis dan instan. Meminjam istilah Bre Redana, kita hidup di “zaman bergegas”.
Selain tergesa-gesa dan sibuk, di zaman komunikasi digital ini, kita nyaris tak pernah sendirian. Kita selalu terhubung ke dunia luar. Kemana pun dan dimana pun, ponsel hampir selalu menemani kita.
Entah berapa ratus kali sehari kita menyentuh dan mengelus layar ponsel itu untuk berkomunikasi, mencari informasi dan hiburan, hingga meminta bantuan kecerdasan buatan (AI) untuk berpikir. Ada juga yang sibuk membuat “konten” untuk dikirim ke media sosial, dan terus memantau respon warganet atas konten itu. Akibatnya, kita tak punya waktu lagi untuk menyendiri dan merenung.
Dalam dunia yang serba sibuk dan serba terhubung itu, manusia akan mudah kehilangan makna hidupnya. Dia tidak lagi mampu menghayati apa arti hidupnya. Mengapa dia terlahir di dunia ini, melalui ayah dan ibu yang tidak pernah dipilihnya? Dari mana dia berasal, untuk apa dia hadir di dunia ini, dan kemana kelak setelah mati? Jika semua pertanyaan ini pernah bergelayut dalam pikirannya, atau dia pernah tersentuh oleh jawaban-jawaban yang diberikan oleh agama, apakah di zaman bergegas dan selalu terhubung ini dia masih sempat kembali memikirkannya?
Sebenarnya setiap hari kita mengalami berbagai peralihan sebagai jeda. Ada siang dan malam. Ada pagi dan sore. Ada tidur dan jaga. Ada kenyang dan lapar. Ada kerja dan istirahat. Ada bicara dan diam. Ada detik, jam, hari, minggu, tahun, abad, dan milenium. Semua ini adalah jeda-jeda dalam aliran waktu hidup kita.
Namun, manusia seolah ingin melupakan semua perhentian itu. Dengan listrik, siang dan malam seolah tak ada beda. Dengan teknologi digital yang serba internet dan elektronik, orang bisa bekerja kapanpun dan di mana pun. Konon, inilah yang disebut kemajuan.
Sebenarnya apa yang kita maksud dengan kemajuan itu? Apakah kemajuan berarti peningkatan kualitas hidup? Apa yang dimaksud dengan kualitas hidup? Saya teringat akan satu percakapan dengan seorang kolega di Singapura, negara kaya yang sangat menuntut orang untuk bekerja keras mencari uang hingga tua renta.
Kolega itu berkata, “We have money, but we don’t have life” (Kami punya uang, tetapi tidak memiliki kehidupan). Jika di negara kaya seperti itu, bagaimanakah di negara miskin, yang para elitnya amat serakah sehingga tak pernah mau berhenti korupsi?
Sejak Desember 2025 hingga Januari 2026 ini, kita menyaksikan dan merasakan akibat buruk dari perubahan iklim. Banjir bandang yang menerjang Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, membuat kita terperangah sekaligus pedih-perih menyaksikan kerusakan dan penderitaan yang terjadi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Mujiburrahman-Rektor-Universitas-Islam-Negeri-UIN-Antasari-Banjarmasin3.jpg)