Kolom
Relevansi dengan Industri?
Sulit disangkal, masih banyak orang di masyarakat kita yang menganggap bahwa semua alumni UIN itu adalah ahli agama
Mujiburrahman
Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin
BANJARMASINPOST.CO.ID- Dalam sebuah dialog di Politeknik Negeri Tanahlaut, seorang dosen yang merupakan alumni UIN Antasari bercerita bahwa dia sering diminta orang menjadi tukang baca doa. “Padahal, saya ini aslinya bukan ahli agama. Latar belakang pendidikan saya bukan pesantren atau madrasah. Saya juga kuliah di Prodi Perbankan Syariah,” katanya. “Memang alumni UIN itu, minimal kerjanya di bank. Maksud saya, tukang bang (dalam bahasa Banjar artinya azan),” kata saya. Semua tertawa.
Sulit disangkal, masih banyak orang di masyarakat kita yang menganggap bahwa semua alumni UIN itu adalah ahli agama. Padahal, mayoritas mahasiswa UIN bukan berasal dari tamatan pesantren dan madrasah, melainkan SMA bahkan SMK.
Mereka biasanya mengambil prodi-prodi “umum” di UIN seperti pendidikan matematika, bahasa Inggris, fisika, bilogi, kimia, ekonomi, akuntansi, manajemen, psikologi, komunikasi, teknik informasi, ilmu lingkungan, bisnis digital dan lain-lain.
Memang ada kesan bahwa kita dihormati ketika diminta membaca doa. Bukankah tidak semua orang bisa melakukannya, terutama jika harus melafalkan bahasa Arab dengan fasih? Namun, kesan penghormatan ini bisa ambyar jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda.
Doa hanyalah unsur pelengkap seremonial dalam sebuah kegiatan, bukan inti dari kegiatan tersebut. Di sini seorang pembaca doa terkesan sebagai tukang stempel saja dari apa yang akan atau sudah diputuskan.
Masalah menjadi lebih serius ketika orang mempertanyakan relevansi prodi-prodi di perguruan tinggi dengan dunia industri. Apa manfaatnya prodi-prodi yang tak bisa menyediakan lulusan yang siap pakai di dunia industri? Dalam konteks ini, tak sedikit orang yang mencibir dan merendahkan ilmu-ilmu agama, sosial, dan humaniora. Saya pernah bertemu dengan orang semacam ini, termasuk kalangan terpelajar di perguruan tinggi. Bagi mereka, hanya sains dan teknologi yang relevan saat ini.
Yang menjadi pertanyaan bagi saya, mengapa kita berpikir sangat sempit, melihat relevansi hanya dengan dunia industri? Seolah-olah pekerjaan itu hanya ada di dunia industri. Seolah-olah pendidikan hanya bengkel yang melatih tukang-tukang, laksana robot-robot yang siap bekerja di industri.
Seolah-olah hidup ini tak lebih dari urusan ekonomi. Pandangan materialis-kapitalis seperti ini tentu sangat picik dalam melihat dunia pendidikan, dan berbahaya dalam jangka panjang.
Seharusnya, relevansi pendidikan itu bukan hanya dengan dunia industri, tetapi dengan kebutuhan hidup manusia. Semua ilmu, keterampilan dan karakter yang ditanamkan dalam proses pendidikan adalah bekal seseorang untuk menghadapi hidup sebagai manusia.
Karena itu, hal paling mendasar dalam pendidikan adalah pemahaman kita tentang hakikat manusia itu sendiri. Manusia adalah makhluk jasmani sekaligus ruhani, individu sekaligus anggota masyarakat.
Tak ada keraguan bahwa manusia adalah makhluk jasmani yang membutuhkan materi. Dia perlu makan-minum, pakaian, tempat tinggal, dan menjaga kesehatan. Agama pun tidak hanya peduli dengan urusan ruhani.
Mencari rezeki yang halal itu wajib. Menafkahi keluarga bagi suami juga wajib. Zakat diwajibkan kepada orang yang memiliki harta dalam jumlah tertentu. Sedekah dan wakaf dianjurkan. Materi itu penting. Ekonomi itu penting. Agama bukan sekadar ratapan doa!
Namun, manusia bukan hanya jasmani, tetapi juga ruhani. Bahkan, dalam pandangan filsafat Islam, jasmani adalah unsur paling rendah dari struktur eksistensi manusia. Yang paling tinggi dan hakiki dari keberadaan manusia adalah ruh, yang kedua nafsu/jiwa dan yang ketiga tubuh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Mujiburrahman-Rektor-Universitas-Islam-Negeri-UIN-Antasari-Banjarmasin7.jpg)