Kolom

Relevansi dengan Industri?

Sulit disangkal, masih banyak orang di masyarakat kita yang menganggap bahwa semua alumni UIN itu adalah ahli agama

Tayang:
Editor: Irfani Rahman
Foto Ist
Mujiburrahman, Direktur Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin 

Ruh terhubung ke tubuh melalui nafsu hewani dan nabati. Tubuh adalah kendaraan bagi ruh. Sebagai tamsil, kuda adalah tubuh plus nafsu, dan ruh adalah pengendara kuda. Tubuh akan mati dan hancur. Ruh tidak.

Menurut Jalaluddin Rumi, tugas utama ruh di dunia ini adalah mengemban amânah, kepercayaan yang diberikan Tuhan untuk membuat keputusan moral, memilih antara yang baik dan buruk, benar dan salah, adil dan zalim. Manusia terikat dengan hukum moral. Hukum moral itu tertanam di dalam dirinya.

Bagi kaum beriman, hukum moral itu juga digariskan dalam ajaran agama. Manusia bisa tunduk atau melawan hukum moral itu, tetapi dia harus siap menerima segala akibatnya.

Dengan demikian, jika manusia hanya sibuk mengurus sisi-jasmani hidupnya, atau sisi-nafsu hewani dirinya, maka dia telah mengabaikan unsur paling utama dalam dirinya, yang merupakan hakikat kemanusiaannya, yakni ruhaninya.

Jika pendidikan sekadar diarahkan untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan nafsu hewani belaka, maka pendidikan akan melahirkan makhluk setengah-manusia yang lebih mirip dengan hewan. Saat jahat, dia bahkan bisa lebih bejat dari binatang!

Dalam konteks ini, spesialisasi keilmuan jangan sampai membuat orang menjadi eksklusif, menutup diri, apalagi merasa hebat sendiri. Hidup manusia membutuhkan rupa-rupa ilmu dan teknologi.

Alih-alih membuang ilmu tertentu, yang kita butuhkan adalah integrasi dan kolaborasi. Manusia tidak hanya membutuhkan sains, matematika dan teknologi, tetapi juga ilmu-ilmu sosial dan humaniora, termasuk ilmu-ilmu agama. Semua ilmu ini dapat menjadi pelita bagi hidup manusia yang kompleks.

Karena itu, ilmu yang relevan adalah ilmu yang berfungsi sebagai petunjuk bagi hidup manusia. Ilmu itu dapat menopang hidup jasmani dan ruhani, pribadi dan masyarakat. Ilmu dan keterampilan yang hanya mengurus sisi jasmani-materi manusia, atau sebaliknya, yang hanya sibuk dengan sisi ruhani manusia, adalah ilmu yang timpang, yang tidak selaras dengan kebutuhan manusia. Selain itu, yang ruhani, yang moral-spiritual, harus dapat menjadi pemandu yang jasmani, pribadi dan masyarakat.

Jika terbalik, ilmu dan keterampilan bukan hanya tidak relevan, tetapi juga menghancurkan hidup manusia itu sendiri. Sejarah umat manusia telah membuktikannya hingga hari ini! (*)

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved