One Way Ticket
ARY Ginanjar Agustian menulis: “Kita ini ibarat hidup dalam gerbong-gerbong kereta api cahaya.
Oleh: KH Husin Naparin
ARY Ginanjar Agustian menulis: “Kita ini ibarat hidup dalam gerbong-gerbong kereta api cahaya. One Way Ticket menuju satu titik dan tak pernah kembali lagi. Di dalamnya ada pengamen, ada ibu bersama anaknya, ada pedagang, ada politikus, ada guru, ada pelajar. Teruslah sadar bahwa kita akan turun di salah satu stasiun …“.
Ada yang menarik, mengapa kereta api selalu bermanfaat dan dipercaya untuk membawa barang dan penumpang selama berabad-abad. Karena kereta api mempunyai dua rel yang selalu lurus sejajar dan jelas mau kemana arahnya.
Coba bayangkan, apabila kedua rel kereta api berpisah dan masing-masing rel berbelok-belok suka-suka.
Begitu juga manusia, harus selalu punya rel yang lurus, dan jelas mau kemana, supaya bisa selalu dipercaya. Bayangkan kalau rel kereta api itu sering moody, dan relnya sensitif mudah tersinggung sehingga naik turun berbelok-belok, pasti kereta api di atasnya akan terguling-guling.
Oleh karena itu manusia harus punya rel yang jelas, rel yang lurus, dan rel yang kuat agar kita dipercaya sehingga orang lain selamat bersama kita, sebuah syarat rahmatan lil’alamin. Inilah yang dinamakan integritas (jujur dan tanggung jawab). Sebuah fitrah manusia. Keniscayaan.
Tanpa ini semua manusia tidak akan ada arti, dan tidak ada harganya. Semoga kita semua terus di sana, seperti bacaan Al-Fatihah kita setiap hari: ihdinsh-shiratal-mustaqim, tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan yang Engkau ridhai…”
Demikian tulisan Pak Ary dalam kolom “Inspirasi” Majalah ESQ A Family Magazine, Edisi 08/Tahun I/2014 halaman 3, berjudul: “Hidup di Atas Rel”.
Menurut Alquran Al-Karim standar jalan lurus yang diminta itu adalah: “Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” (QS. Al-Fatihah ayat 7).
Menurut para ulama, ungkapan permohonan “tunjukilah kami”, yaitu ihdina; dari kata hidayaat yang berarti memberi petunjuk ke suatu jalan yang benar; dan yang dimaksud dengan ayat ini bukan sekadar memberi hidayah, tetapi juga memberi taufik.
Adapun yang dimaksud mereka yang dimurkai dan mereka yang sesat, ialah semua golongan yang menyimpang dari ajaran Islam. (lihat: Al-Qur’an dan Terjemahnya, Depag RI).
Siapakah orang-orang yang telah Allah SWT beri nikmat?
Mereka itu ialah para Nabi, siddiqin, syuhada dan shalihin seperti yang diterangkan di dalam surah An-Nisa’ ayat 69 yang artinya:
“Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh, dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”
Dimanakah kita?