Breaking News

Siklus Ramadan

TAK terasa kini Ramadan lagi. Waktu berlalu, hari ke hari, bulan ke bulan, hingga tahun ke tahun,

Editor: Dheny Irwan Saputra

Oleh: Mujiburrahman

TAK terasa kini Ramadan lagi. Waktu berlalu, hari ke hari, bulan ke bulan, hingga tahun ke tahun, seolah mengalir bagai air sungai yang nyaris tak beriak dan berombak. Waktu laksana udara yang selalu ada bersama kita, tetapi kehadirannya seringkali tidak kita sadari dan hiraukan.

Kita mengenal waktu berdasarkan peredaran matahari dan bulan. Siang diawali terbitnya matahari dan berakhir ketika ia tenggelam. Malam ditandai oleh gelap, ketika langit dihiasi oleh bintang-bintang dan bulan.

Begitu sederhana dan nyata, sehingga kita menganggapnya biasa. Sesuatu yang sangat tampak bisa menjadi tidak tampak. Mata kelelawar menjadi buta ketika melihat benderang sinar matahari.

Kedatangan Ramadan telah menyentak kesadaran kita. Kita yang disebut sebagai manusia modern ini, tanpa sadar tenggelam hanyut dalam gairah tanpa batas, ingin terus meraih segala hal yang disebut kemajuan.

Sains terus dikaji dan dikembangkan. Teknologi terus diperbarui. Produksi terus ditingkatkan, seiring dengan nafsu konsumsi yang tak pernah terpuaskan. Kekayaan diburu, kekuasaan direbut.

Padahal, hidup bukanlah garis lurus, melainkan garis melingkar. Bukan kebetulan jika Ramadan dihitung berdasarkan gerak bulan. Fenomena bulan menunjukkan gerak melingkar.

Dimulai dari satu titik dan kembali ke titik itu lagi. Ada tiga malam, langit tanpa bulan, kemudian tampaklah bulan sabit, lalu membesar hingga purnama, kemudian perlahan menyusut hingga lenyap, lalu muncul lagi bulan sabit.

Begitulah alam mengajarkan kepada kita tentang awal dan akhir. Tetapi anehnya, banyak orang modern yang merasa pintar justru tak peduli dengan masalah paling dasar ini, yaitu dari mana manusia berasal, apa yang harus dia lakukan dalam hidup ini, dan ke mana kelak dia akan kembali.

Padahal, manusia tidak akan bisa mendapatkan hidup yang bermakna tanpa jawaban terhadap pertanyaan penting ini.

Sains dan teknologi yang kini dipuja laksana berhala, tidak akan bisa memberikan jawaban. Sains hanya melihat alam semesta sebagai fakta-fakta dalam tali temali hukum sebab-akibat.

Teknologi hanya merekayasa tali-temali sebab akibat itu untuk menciptakan alat-alat yang memudahkan hidup manusia. Sains dan teknologi tidak mampu melihat alam sebagai simbol atau tanda yang sarat makna.

Karena itulah, manusia memerlukan agama, sebab agama memberikan jawaban yang jelas tentang dari mana kita berasal, apa yang harus kita lakukan dalam hidup ini, dan ke mana kelak kita akan kembali.

Seperti rembulan, semula tiada, lalu ada dalam bentuk yangkecil, kemudian sempurna, terus menyusut hingga tiada. Kita tidak ada dengan sendirinya. Kita diciptakan, dan akan kembali kepada Sang Pencipta.

Secara umum, agama terdiri atas dua unsur dasar, yaitu doktrin dan metode. Doktrin adalah penjelasan tentang perbedaan dan hubungan antara Sang Khalik dan makhluk, Yang Mutlak dan yang nisbi.

Metode adalah cara atau jalan yang harus ditempuh manusia untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Dalam Islam, doktrin disebut ‘aqîdah atau iman, dan metode disebut syarî’ah atau amal saleh.

Puasa Ramadan adalah bagian dari syariah, amal saleh, atau jalan yang wajib ditempuh untuk mencapai kebahagiaan sejati. Karena itulah, puasa diperintahkan kepada orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang sudah percaya kepada aqidah Islam.

Memang mungkin saja ada orang yang mau berpuasa demi kesehatan atau lainnya, tetapi nilainya jelas berbeda dengan puasa yang dilandasi dengan iman.

Selain percaya, kata îmân dalam Bahasa Arab juga seakar dengan kata amn, artinya aman dan damai.  Karena itulah, rasa percaya akan melahirkan rasa aman.

Rasa saling curiga membuat masyarakat gelisah, sedangkan rasa saling percaya membuat seluruh anggota masyarakat merasa aman. Begitu pula, rasa percaya kepada Tuhan membuat manusia pasrah dan merasa aman dan damai dalam lindungan-Nya.

Karena itu, puasa kiranya menuntut manusia agar bisa meluluhkan ego-nya, ke-akuannya, karena ia percaya kepada syariat, yakni jalan yang telah ditunjukkan-Nya.

Ketika manusia mampu mengendalikan egonya, menundukkan hawa nafsunya, maka ketika itulah ia menemukan kemanusiaannya yang sejati.

Ketika itulah pula manusia menemukan Tuhan, asal-usul dirinya, dan kepada-Nya dia akan kembali.

Ramadan adalah siklus, suatu gerak memutar, dari satu titik kembali ke titik itu lagi. Tetapi bukan berarti semuanya sama seperti semula ketika garis lingkaran itu kembali ke titik awal, karena titik itu bergerak dan berproses.

Dalam gerak itu, ada orang yang mengikuti jalan yang ditunjukkan-Nya, ada pula yang tidak. Ada yang pulang disambut oleh rahmat-Nya, dan ada pula yang kembali justru dibakar oleh murka-Nya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved