Bauntung

PROVINSI Kalimantan Selatan (Kalsel) berusia 64 tahun, 14 Agustus 2014. Hari jadinya diperingati

Editor: Dheny Irwan Saputra

Oleh: KH Husin Naparin

PROVINSI Kalimantan Selatan (Kalsel) berusia 64 tahun, 14 Agustus 2014. Hari jadinya diperingati Pemprov Kalsel, mengusung tema: Syari’at Dijunjung, Adat Diusung, Banua Bauntung” Bauntung (Bahasa Banjar, dalam bahasa Indonesia adalah beruntung). Alangkah indahnya tema ini? Bauntungkah sudah warga Kalsel? Banyak yang menilai “belum” karena:

1). Kalsel sebagai provinsi yang dikenal kaya sumber daya alam, namun kekayaan itu hanya dinikmati oleh segelintir warganya, sisanya dinikmati oleh warga provinsi lain dan pemerintah pusat.

2). Kalsel dikenal agamis banyak melahirkan para ulama, tetapi hanya dipermukaan; di bawah arus pada semua lini kehidupan terjadi negatif silent competition negative persaingan negatif yang tersembunyi, bacakut papadaan lawan manjuhut batis kawan nang naik ka atas.

3). Di arena nasional Kalsel kalah selalu.

Penulis ingin mengemukakan sisi lain, yaitu tercapainya keberuntungan (bauntung) menurut standar Alquran, dimana Allah SWT berfirman: Qad aflaha man tazakka, wa dzakaras-ma rabbihi fa shalla. Artinya: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman) dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia salat.” (QS Al-A’la ayat 14-15).

Menurut kedua ayat ini ada tiga syarat tercapainya keberuntungan dalam hidup dan kehidupan, yaitu :

Pertama, bersihnya jiwa; ada empat bersih yang harus dicapai:

a). Bersih akidah; hidup dimaksudkan untuk mencari rida Ilahi sehingga dalam beramal dan beraktivitas menimbulkan “ikhlas,” lawannya “riya” mencari nilai kepada selain Allah SWT.

b). Bersih hati dari penyakit hati, antara lain angkuh, ingkar, dengki dan serakah (AIDS) dewasa ini, banyak manusia yang takut kepada penyakit AIDS, namun sebenarnya di dalam hatinya ada AIDS (Angkuh, Ingkar, Dengki, dan Serakah).

Hati yang kotor mengakibatkan sakit, itulah sakit hati (sakit jiwa). Sakit hati biasanya didahului dengan banyaknya “makan hati.” Nasihat orang-orang bijak “hati-hati dengan hati, jangan sampai makan hati, kalau hati makan hati, kita akan sakit hati.”

Selanjutnya, “hati-hati dengan hati, awas kalau-kalau jatuh hati; kalau hati jatuh hati, seseorang bisa-bisa patah hati.” Dunia ini akan berantakan bila dipimpin dan dihuni oleh orang-orang yang “makan hati” (sakit hati), atau oleh orang-orang yang “patah hati.”

c). Bersih akhlak/pergaulan, dimaksudkan bersih dari segala silang sengketa. Hidup diupayakan agar mendatangkan manfaat bagi kehidupan atau minimal tidak membawa onar, apalagi malapetaka. Seorang muslim (yang sempurna) ialah orang Islam lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya (perkataan dan tingkah lakunya).

Hidup seorang muslim seperti lebah hinggap dan mengisap manisan dan menyebarkan kemanisan, bukan seperti lalat hinggap di tempat yang kotor dan menyebarkan kekotoran.

d). Bersih harta dari sesuatu yang haram dan syubhat; dengan kata lain halal, didapat pula dengan jalan yang halal dan digunakan pada jalan yang benar sesuai kehendak Maha Pemberi, yaitu beribadah kepada-Nya.

Halaman 1/2
Tags
Fikrah
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved