Ridhwan
RIDHWAN adalah nama malaikat penjaga surga; di Indonesiakan menjadi Ridwan atau Riduan. Ada juga orang memakai
Oleh: KH Husin Naparin
RIDHWAN adalah nama malaikat penjaga surga; di Indonesiakan menjadi Ridwan atau Riduan. Ada juga orang memakai nama ini; penulis mempunyai pengalaman khusus dengan dua orang manusia yang bernama Riduan.
Riduan pertama, seorang tukang becak warga Kelurahan Sungai Jingah, Kota Banjarmasin. Penulis kenal dua tahun yang lalu, sewaktu menumpang becaknya dari depan Masjid Raya Sabilal Muhtadin ke Masjid Jami Banjarmasin.
Riduan masih muda. Kulitnya hitam akibat sengatan panas matahari. Dalam dialog yang terjadi antara penulis dengannya, saya tahu bahwa pendapatannya tidak seberapa. Setiap hari ia harus setor sewa beca sepuluh ribu rupiah, sebulan menjadi tiga ratus ribu rupiah.
Setiap hari Riduan pulang ke rumah membawa hasil pekerjaan hanya mampu membeli beras dan lauk pauk serta keperluan lain. Istrinya tidak bisa bekerja apa-apa, karena dua orang anaknya masih kecil, satu di antaranya sudah sekolah di SD. Keinginan Riduan sederhana, ingin sekali memiliki sebuah becak.
“Berapa harga sebuah becak?” tanyaku.
Ia menjawab: Becak bekas sekitar delapan ratus ribu rupiah.
Aku sarankan agar ia meminjam uang ke Baznas. Pembayarannya, bisa dicicil. Ia menjawab: Susah, aku tidak pandai berurusan.
Timbullah iba hatiku kepadanya, lalu aku berkata: Bagaimana kalau aku beri pinjaman sebanyak delapan ratus ribu rupiah untuk membeli becak, pembayarannya dicicil seratus ribu perbulan, delapan bulan berarti pinjaman menjadi lunas.
Ia setuju. Ringkas cerita, aku serahkan uang delapan ratus ribu rupiah kepadanya dan ia pun membeli sebuah becak, sehingga setiap hari tidak perlu setor. Riduan membayar cicilan kepadaku secara rutin dan tepat waktu. Delapan bulan kemudian lunaslah utangnya.
Aku percaya kepadanya, karena kulihat Riduan mendirikan salat; ia tidak pernah mengeluh. Setoran terakhir aku sedekahkan kepadanya, aku terenyuh akan kejujuran dan keuletannya dalam bekerja melunasi utang.
Riduan satunya lagi warga sebuah kelurahan di Banjarmasin Selatan. Awal Juni 2014, ia datang kepadaku bersama istri dan dua anaknya yang masih kecil. Ia masih muda, badannya kekar dan gemuk. Ada kartu keluarga dan surat nikah. Ia mengaku tinggal bersama mertua. Mertua perempuannya menyuruh istrinya memilih antara dua alternatif; pilih tinggal bersama orangtua tetapi cerai dengan suami; atau pilih suami tetapi harus keluar dari rumah.
Hal ini terjadi gara-gara sang mertua tidak senang dengan sang menantu yang bernama Riduan ini, karena tidak bisa memberikan kekayaan kepadanya dan anaknya. Ini cerita Riduan dan istrinya. Sang istri memilih suami, sehingga harus keluar dari rumah.
Jalan keluarnya pasangan ini akan menyewa rumah dan telah menemukan rumah sewa; sewanya Rp 250.000 perbulan, namun harus dibayar enam bulan sekaligus, sehingga berjumlah Rp. 1.500.000.
Problemanya, Riduan tidak mempunyai uang sebanyak itu dan ingin berutang kepada penulis; ia berjanji membayar setiap hari Rp 100.000,- sehingga dalam tempo setengah bulan menjadi lunas, karena Riduan punya pekerjaan menjajakan ikan basah ke rumah-rumah makan dengan upah Rp 100.000 per hari dan untuk biaya sehari-hari ada Rp 50.000, hasil istrinya mengambil upah mengupas bawang.