Kalimat Penyelamat

Masjid megah ini simbol keberhasilan Bupati Balangan, H Sefek Effendi dan jajarannya.

Editor: Dheny Irwan Saputra

Oleh: KH Husin Naparin

RABU, 28 Januari 2015 M, Masjid Al-Akbar Balangan diresmikan oleh Gubernur Kalsel, H Rudy Ariffin. Empat tahun yang lalu, beliau pula yang meletakkan batu pertama pembangunan. “Saya hanya meletakkan batu pertama, Pak Sefek yang kuncang kirap menyelesaikan,” katanya.

Masjid megah ini simbol keberhasilan Bupati Balangan, H Sefek Effendi dan jajarannya. ntah. Baik Gubernur Kalsel, H Rudy Ariffin maupun Bupati Balangan, H Sefek Effendi keduanya sama-sama akan mengakhiri tugas.

Pelaksanaan salat Jumat di Masjid Al-Akbar, sejak dibuka beberapa waktu selalu diikuti oleh ribuan orang. Masjid ini akan dilengkapi sarana pendidikan memadai, diharapkan betul-betul menjadi pusat kegiatan Islam (Islamic Center) di kabupaten ini.

Guru Danau, KH Asmuni menyampaikan tausiah, antara lain mengatakan, “tinggal masyarakat mampukah memanfaatkannya dan tidak membiarkannya sepi.”

Rudy Ariffin menutup sambutan dengan sebuah cerita pendek menyentuh pikiran dan perasaan, berjudul “burung.”

Ada seorang tuan guru, ia mempunyai hobi memelihara burung; segala jenis burung dipeliharanya kecuali burung Nuri.

Pada suatu hari seorang muridnya memberinya hadiah seekor burung Nuri (sejenis burung yang pandai meniru ucapan orang lain).

Tuan guru mengajari burung ini kalimat dzikir la ilaha illallah, sehingga akhirnya mahirlah ia berzikir. Betapa senangnya hati si tuan guru. Suatu ketika, seekor kucing memasuki sangkar burung ini, kejadian itu begitu cepat sehingga tuan guru tidak sempat menyelamatkan.

Burung kesayangannya itu pun tewas diterkam kucing. Si tuan guru bersedih hati, ia menangis tersedu-sedu.

Murid-muridnya heran, “gerangan apakah yang membuat guru menangis,” Tuan guru menerangkan, “aku menangis karena burung nuri kesayanganku tewas diterkam kucing.”

Sang murid menghibur, “nanti kita cari gantinya wahai guru, berapa ekor pun kita bisa didapat.”

Tuan guru berkata lagi, “bukan masalah gantinya, yang aku sedihkan burung ini mahir berdzikir; tetapi ketika diterkam kucing, ia hanya berteriak sejadinya, tidak ada dzikir yang keluar dari mulutnya, karena kalimat zikir itu hanya ia ucapkan di mulut tidak masuk ke akal, memang burung tidak berakal, tidak masuk ke dalam hati, memang ia tidak mempunyai jiwa.

Alangkah sedihnya aku, jika murid-murid dan anak cucu keturunanku yang telah aku ajari kalimat zikir, kalimat itu tidak masuk ke akal padahal mereka berakal, tidak merasuk ke dalam hati padahal mereka mempunyai hati; sehingga nanti saat menghadapi sakaratul maut, bukan kalimat zikir yang keluar dari mulut tetapi keluh kesah.”

Seorang mukmin hendaklah mengucapkan kalimat la ilaha illallah dengan lidahnya, diistilahkan iqrarun bil-lisan, namun tidak cukup, tetapi hendaklah pula dibenarkan dengan hati, diistilahkan tashdiqun bil-jinan.

Halaman 1/2
Tags
Fikrah
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved