Harum Namanya
Nama Kartini selalu dikenang antara lain karena lagu Ibu Kartini terus dinyanyikan anak-anak.
“SIAPAKAH nama Kartini yang sebenarnya?” tanya seorang ayah pada anaknya.
“Raden Ajeng Kartini,” jawabnya penuh percaya diri.
“Salah! Yang benar adalah Harum. Seperti disebutkan dalam lirik lagunya: Ibu kita Kartini, putri sejati, putri Indonesia, harum namanya,” kata si ayah sambil tertawa.
Nama Kartini selalu dikenang antara lain karena lagu Ibu Kartini terus dinyanyikan anak-anak. Tanggal lahirnya, 21 April, juga diperingati sebagai titik penting bagi gerakan pemerdekaan perempuan Indonesia.
Impian Kartini agar perempuan Indonesia mendapatkan pendidikan yang setara laki-laki, sudah terwujud.
Namun, tindak kekerasan terhadap perempuan masih terus terjadi.
Kartini penting karena dia berhasil menggambarkan nasib perempuan Indonesia dalam surat-suratnya, sementara yang lain justru diam, karena takut atau bodoh.
Sebenarnya, banyak perempuan yang berpikir dan merasa seperti Kartini, bahkan hidup mereka jauh lebih menderita. Karena itu, Hari Kartini kiranya diperingati terutama sebagai pengingat dan pembangkit kesadaran, bukan pemujaan.
Mengapa isu-isu perempuan perlu perhatian khusus? Mungkin karena sifat keperempuanan seringkali diabaikan, sedang sifat kelelakian sangat mencengkeram kehidupan.
Padahal, hidup ini harus seimbang dan adil. Tanpa keseimbangan, takkan ada perdamaian dan kebahagiaan. Keseimbangan adalah hukum kosmis, tata aturan semesta yang harus diikuti. Merusak keseimbangan berarti merusak kehidupan.
Tak dapat disangkal, masih banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di negeri ini. Suami ringan tangan memukul istri.
Tak sedikit pula perempuan rela banting tulang bekerja di luar rumah. Sampai di rumah, dia tetap harus memasak, mencuci, bersih-bersih dan mengurus anak-anak. Sementara suami ongkang-ongkang kaki, minta dilayani bagaikan raja.
Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di ke luar negeri, kebanyakan juga kaum Hawa. Mereka rela menjadi babu di negeri orang, demi keluarga tercinta di tanah air.
Malangnya, cukup banyak di antara mereka yang disiksa bahkan diperkosa tuannya. Ada pula yang berusaha membela diri, hingga tuannya mati terbunuh. Akibatnya, dia harus menerima hukuman pancung, sementara pemimpin kita diam saja.
Belum lagi jika ditelisik dunia hiburan malam dan pelacuran. Demi segompah rupiah, tak sedikit gadis muda yang mau menjadi penghibur para lelaki buaya.