Musibah
PADA setiap pekan, tidak satu dua orang yang datang kepada penulis menyampaikan tentang musibah yang menimpa dirinya.
Oleh: KH Husin Naparin
PADA setiap pekan, tidak satu dua orang yang datang kepada penulis menyampaikan tentang musibah yang menimpa dirinya.
Ada yang sekadar curhat, memohon pemikiran penyelesaian, minta bantuan materi, baik meminta atau berutang; ya bermacam-macam keluhan yang disampaikan, ada penipuan, tindak kekerasan, kezaliman, yang terbanyak bermuara pada masalah ekonomi.
Ada anekdot yang saya terima lewat BBM, berbicara kemajuan teknologi, katanya,“ orang Amerika memikirkan membuat koloni di bulan, orang India memikirkan geologi dan mineralogi dari bulan, orang Tiongkok memikirkan engeksploitasi barang tambang di bulan, orang Indonesia memikirkan hidup dari bulan ke bulan.”
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, musibah adalah kejadian (peristiwa) menyedihkan yang menimpa, disebut juga malapetaka, bencana; contoh, “dia mendapat musibah yang beruntun, setelah ibunya meninggal dia sendiri sakit sehingga harus dirawat di rumah sakit.”
Contoh lain, “musibah banjir itu datang secara tiba-tiba, rumahnya runtuh, harta bendanya hancur, anak istrinya meninggal.”
Penulis kewalahan mencarikan jawaban pertanyaan mereka, “mengapa saya selalu ditimpa musibah beruntun, belum selesai satu musibah muncul lagi musibah baru.”
Ada delapan hikmah yang bisa diambil oleh umumnya orang yang tertimpa bencana, yaitu: 1. Agar yang bersangkutan tahu bahwa mencintainya.
Nabi saw bersabda “Setiap kali Allah mencintai sekelompok orang, Allah pasti memberi cobaan kepada mereka.”(HR Tarmizi).
2. Untuk mengangkat derajat yang bersangkutan. Nabi saw bersabda, “Jika agamanya kuat, maka akan ditambahkan musibahnya.” (HR Tarmizi).
3. Agar yang bersangkutan tidak takabur dan tinggi diri. Ini seperti yang dialami Fir’aun ketika tenggelam.
4. Agar yang bersangkutan lebih mendekatkan diri pada Allah.
5. Agar yang bersangkutan tahu bahwa hanya Allah saja Yang Mahakuat.
6. Agar yang bersangkutan tahu posisinya di sisi Allah. Dia berfirman, “Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin)…” (QS Ali-Imran 179).
7. Agar yang bersangkutan mulai merindukan surga. Allah berfirman,” Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS Ali-Imran 142).