Salat Khusyu
Sebelumnya, telah diadakan di Kota Medan dan Makassar. Beruntunglah masyarakat Kalsel dikunjungi Ustadz Abu Sangkan.
Oleh: KH Husin Naparin
PEKAN terakhir ini, di beberapa pojok Kota Banjarmasin, kita menyaksikan baliho berukuran besar “Hadirilah Pengajian Akbar Salat Khusyu bertema ‘Menemukan Khusyu’ yang hilang bersama Ustadz Abu Sangkan, Jakarta,” Ahad 31 Mei 2015, pukul 10.00–15.00 Wita, di Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Banjarmasin.
Sebelumnya, telah diadakan di Kota Medan dan Makassar. Beruntunglah masyarakat Kalsel dikunjungi Ustadz Abu Sangkan. Beliau menulis buku antara lain, Pelatihan Shalat Khusyu’, shalat sebagai meditasi tertinggi dalam Islam (Best Seller) untuk membawa umat ke arah salat khusyu.
Belum lengkap rasanya kalau tidak mengikuti pengajian yang beliau laksanakan. Penulis telah menjadwalkan diri untuk mengikutinya, namun terbentur pada waktu yang sama harus memimpin rapat akbar Ponpes Rakha Amuntai, penutupan akhir tahun ajaran. Kita tahu pelatihan salat khusyu telah dilaksanakan oleh Abu Sangkan beberapa tahun terakhir ini.
Allah swt berfirman yang artinya, “...dan dirikanlah salat, sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar…” (QS. Al-Ankabut ayat 45). Berapa banyak manusia muslim-mukmin melaksanakan salat, namun belum mampu mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar.
Menjadi pertanyaan, mengapa bisa terjadi? Hal ini bisa jadi karena salatnya belum menemukan khusyu atau dengan kata lain kehilangan khusyu, padahal keberuntungan seorang mukmin diawali salat khusyu. Allah swt berfirman yang artinya, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu dalam salatnya,” (QS Al-Mu’minuun ayat 1 dan 2).
Selama ini, sepertinya salat menjadi beban bagi sebagian orang, sehingga bila datang waktu salat muncul gerutu dan omelan, “ah, Zuhur lagi,” dan seterusnya. Mengapa pula hal ini terjadi? Kembali jawaban yang sama, bisa jadi karena salat yang dilaksanakan belum menemukan khusyu yang hilang.
Allah swt berfirman yang artinya, “Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu” (QS Al-Baqarah ayat 45). Suatu ibadah bagi seorang muslim akan menjadi ringan bila ia memahami tujuan ibadah yang diwajibkan kepadanya.
Menurut para ulama, tujuan beribadah adalah:
Pertama, untuk menunaikan tugas (li-ada’il-fara’idh), ibadahnya diistilahkan dengan ibadatul-ibad, artinya ibadah orang kebanyakan, dan pelakunya disebut “awam”.
Kedua, untuk syukur nikmat (lisy-syukri ‘alan- ni’mah) ibadahnya disebut Ibadatul-abrar artinya ibadah orang baik-baik, pelakunya disebut “khawash” artinya orang sadar ibadah.
Ketiga, untuk mendekatkan diri kepada Allah swt (littaqarrub ilallah), ibadahnya disebut Ibadatul-muqarrabin, artinya ibadah orang-orang yang dekat dengan Allah swt, pelakunya disebut “khawashul-khawash” artinya orang yang sangat sadar dalam beribadah.
Apabila seseorang mampu mendirikan salat, tidak saja untuk menunaikan tugas, tetapi juga sebagai sarana untuk bersyukur dan mendekatkan diri kepada Allah swt; ia akan merasakan halawatul-ibadah (lezatnya ibadah), pada gilirannya munculah khusyu.
Tiga syarat mendasar mencapai khusyu, yaitu:
Pertama, pengenalan kepada Allah (Ma’rifatullah) yang mantap. Semakin tinggi tingkat ma’rifat seseorang kepada Allah, semakin mudah ia mendapatkan khusyu.