Menggantang Asap

KALAU ditanya manakah objek yang paling rawan jadi sumber kejahatan, jawabannya adalah hutan. Di hutan terkandung kekayaan

Editor: BPost Online

Oleh: Pramono BS

KALAU ditanya manakah objek yang paling rawan jadi sumber kejahatan, jawabannya adalah hutan. Di hutan terkandung kekayaan alam yang tak terbilang. Ada tambang seperti minyak, batu bara, nikel, uranium, emas, dan tembaga.

Juga hasil-hasil hutan seperti kayu, rotan, karet, damar dan segala macam komoditas. Yang tak kalah menariknya adalah lahan ‘nganggur’yang tinggal dikapling untuk ditanami aneka tanaman.

Bisa juga dibilang hutan itu markasnya penjahat, mulai pencuri kayu, penambang ilegal, penjarah lahan sampai bos yang tak pernah bersentuhan dengan hutan.

Tambang batu bara ilegal ibarat sudah dilegalkan, taman nasional sudah lama menjadi objek penjarahan lahan. Jangan dikira semua lahan perkebunan itu halal. Begitu pun pencurian kayu, dari dulu tak pernah berhenti.

Yang lagi ramai sekarang adalah kebakaran hutan yang telah menyengsarakan masyarakat Sumatera dan Kalimantan bahkan negara tetangga akibat asap tebal yang tak kunjung hilang. Kebakaran sudah tak bisa dikendalikan kecuali hujan deras turun berhari-hari.

Kebakaran itu bisa diakibatkan oleh kesengajaan dan ketidak sengajaan, semisal akibat puntung rokok. Dalam Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP), kejahatan yang disengaja atau tidak tetaplah kejahatan dan dapat dipidana. Orang membuang puntung rokok pun kalau mengakibatkan kebakaran bisa dipidana.

Kebakaran yang disengaja di area perkebunan, atau perorangan, dari dulu modusnya selalu sama. Bakar sampai habis sesudah itu tanam sawit, karet atau yang lain. Cepat dan murah.

Pelakunya bisa saja orang lain, tapi pemilik lahannya jelas orangnya. Kalau bukti-buktinya juga jelas tunggu apa lagi tinggal tangkap dan diminta bertanggung jawab. Mereka inilah yang sedang diincar polisi.

Yang paling susah kalau kebakaran itu menyambar lahan gambut. Api tak akan mati hanya dengan disemprot karena ketebalan gambutnya sudah sampai beberapa meter. Di atas aman tapi di bawahnya api menyala sehingga hanya terlihat asapnya seperti yang terjadi sekarang. Nah, dari lahan siapa api itu membakar gambut, ini yang sulit dilacak.

Entah kebetulan atau tidak, hutan-hutan di Sulawesi dan Papua tidak mengalami kebakaran separah Sumatera dan Kalimantan. Tampak ada korelasi antara kebakaran hutan dan perluasan lahan sawit yang terkonsentrasi di kedua pulau itu.

Luas tanaman sawit di Indonesia terus bertambah. Menurut data Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian, pada 2014 mencapai 10,9 juta hektare dengan produksi 29,3 juta ton CPO (minyak sawit mentah).

Dari luas itu 41,55 persen di antaranya milik rakyat, 0,75 persen milik negara, dan swasta 51,62 persen. Dari luasan iniswasta asing 1,54 persen atau 0,17 juta hektar.

***

Anehnya, menurut data, luas kebakaran hutan di Indonesia menurun drastis. Di Riau, misalnya, data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BNPD) menyebutkan, dari Januari-Agustus 2015, hanya terdapat 1.957 hektare hutan yang terbakar, menurun dari tahun lalu. Titik panas pada 2014 sebanyak 3.951 dan tahun ini 1.288. Tapi kenapa asapnya tak habis-habis.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved