Hari Santri dan Polemik
Penetapan Hari Santri ini sepertinya kembali memunculkan polemik di antara dua organisasi Islam di Indonesia, yakni Muhammadiyah dan NU.
Selama ini, lihatlah, banyak pondok pesantren yang dianggap sebagai pendidikan alternatif dan tempat pembinaan anak-anak nakal, kurang cerdas, dan kurang mampu. Santrinya dianggap sebagai kelompok tradisional yang tidak berkembang. Mereka identik dengan pemikiran lokal dan tradisional. Imej masyarakat tentang pesantren dan santri ini harus diubah, dan perlu konsep yang baik untuk ke depan yang lebih maju.
Selain itu, program-program pemerintah harus banyak terserap oleh pesantren yang -mohon maaf- banyak bertahan hidup dengan perjuangan sendiri. Kalaupun ada, bantuan sangat minim.
Kita buat kegiatan yang bisa menghasilkan santri berprestasi baik di tingkat lokal, nasional, bahkan internasional. Perbanyak kuantitas santri yang berkesempatan belajar di luar negeri. Pemerintah perlu membuat kebijakan strategis untuk menopang keberlangsungan pesantren, baik berupa pembangunan atau pemeliharaan sarana prasarana pendukung, pemberian beasiswa.
Pada peringatan hari santri ini kita jadikan momentum, agar ke depannya, bangsa Indonesia semakin lebih baik, semakin lebih bermoral, dan mampu memikirkan hal produktif dan strategis. Mampu memikirkan masa depan umat Islam dan masa depan bangsa untuk menjadi lebih baik. Kemudian, bisa menghindari kemiskinan, keluar dari krisis ekonomi dan krisis moral, menaikkan derajat bangsa Indonesia, dengan menciptakan generasi muda cerdas yang dilandasi iman dan takwa kepada Allah.
Selamat Hari Santri Nasional! (*)