Pilkada Gagah dan Ayu

Menunggu dalam bimbang dan ragu. Mungkin begitulah suasana batin dua pasangan cagub-cawagub Kalimantan Selatan menyusul Pilkada serentak minggu lalu.

Editor: BPost Online

Oleh: Mujiburrahman

Akademisi IAIN Antasari Banjarmasin

Menunggu dalam bimbang dan ragu. Mungkin begitulah suasana batin dua pasangan cagub-cawagub Kalimantan Selatan menyusul Pilkada serentak minggu lalu. Hasil hitung cepat yang disiarkan Metro TV Rabu malam, 9 Desember 2015, menunjukkan perolehan suara Muhidin-Farid hanya sehelai tipis berada di atas Sahbirin-Rudy (0,07%). Secara statistik, angka itu tidak memberi kepastian.

Mengingat dua pasang calon tersebut relatif sama kuat, wajar jika muncul kekhawatiran akan terjadi bentrok antara pendukung masing-masing, atau antara pendukung dengan pihak KPU dan aparat keamanan. Para pengamat yang terhormat juga sudah mulai membaca gelagat kemungkinan gugat-menggugat ke Mahkamah Konstitusi usai pengumuman hasil akhir dari KPU nanti.

Sebagian pengamat juga terkesan dengan kemampuan Muhidin-Farid sebagai calon independen mengimbangi Sahbirin-Rudy yang didukung tujuh partai. Menurut mereka, hal ini menunjukkan rakyat sudah lelah melihat tingkah polah orang-orang partai.

Slogan Muhidin-Farid bahwa mereka adalah ‘asli dukungan rakyat’ yang ‘murah senyum’ tampaknya berhasil mengena di hati.

Namun, boleh jadi kebosanan terhadap partai itu hanya dugaan belaka. Mungkin saja, pertarungan antarelite yang memiliki sumber daya yang besar justru merupakan kekuatan penggerak yang tak tampak. Ungkapan ‘saingan dari sainganku adalah temanku’ bisa jadi berlaku di sini. Di sisi lain, alih-alih bosan terhadap partai, di kalangan bawah, desas-desus yang terdengar masih politik uang.

Terlepas dari semua itu, masyarakat tetap berharap, proses demokrasi ini akan berjalan mulus dalam suasana damai dan santun, tanpa tindak kekerasan sedikit pun.

Untuk itu, tim pemenang masing-masing pihak diharap berlaku jujur dan fair, masyarakat tidak gampang dipanas-panasi, dan aparat pemerintah, terutama KPU, Bawaslu, dan polisi, berlaku adil, tidak memihak kubu mana pun.

Berlaku jujur dan fair dalam suatu pertarungan politik tentu tidak mudah. Rasa kebersamaan yang tercipta dalam kelompok-kelompok yang berebut kekuasaan memang luar biasa. Ada semacam energi tak terlihat, yang membuat orang sangat bergairah memenangkan jagoannya. Mereka rela begadang, berpayah-payah menempuh perjalanan dan berbagi suka-duka sesama rekan.

Ibnu Khaldun, sosiolog dan ahli sejarah klasik, menyebut gairah kebersamaan itu dengan ‘ashabiyyah. Rasa kebersamaan tersebut terutama kuat di tahap awal perjuangan merebut kekuasaan. Pada tahap ini, persekutuan menjadi kuat karena adanya ‘musuh bersama’, yakni saingan yang ingin dikalahkan. Apalagi, jika persekutuan itu diperkuat oleh kesamaan cita-cita dan keuntungan ekonomi.

Selain itu, teori Emile Durkheim tentang agama sebagai simbol penghadiran kebersamaan mungkin berlaku pula di dunia politik. Seperti halnya agama, politik seringkali menggunakan simbol-simbol, baik berupa kata-kata, warna, gambar, slogan dan sebagainya, yang menjadi perekat kebersamaan. Kebersamaan itu akhirnya menjadi sakral, sesuatu yang suci dan dipuja bagai dewa.

Karena itu, tidaklah aneh jika di masa lalu, ada kepercayaan bahwa seorang raja adalah titisan dewa. Bahkan Fir’aun mengaku sebagai tuhan.

Kekuasaan memang dapat membuat orang merasa seperti tuhan. Apa yang diinginkannya, harus terwujud. Kekuasaan seolah pantulan dari kemutlakan. Akibatnya, orang dan kelompok yang dimabuk kekuasaan, cenderung main mutlak-mutlakan.

Padahal, semua yang ada di alam semesta ini, termasuk manusia, terbatas dan relatif. Manusia hidup dalam ruang, waktu, dan energi yang terbatas. Manusia memang dapat menjadi penguasa atas manusia-manusia lainnya, tetapi kekuasaannya itu tetap terbatas. Seorang penguasa diktator sekalipun tidak akan bisa memaksa hati tiap orang untuk menyukai atau membenci sesuatu.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved