‘Dirakit’
ADA peristiwa menarik yang baru terjadi di Istana. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerima seorang perakit televisi tabung
Oleh: Pramono BS
ADA peristiwa menarik yang baru terjadi di Istana. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerima seorang perakit televisi tabung kelas kampung yang baru saja tertimpa musibah.
Kendati usahanya sudah mendapat izin tapi produksinya tidak memiliki sertifikat SNI (Standar Nasional Indonesia) sehingga dianggap melanggar Undang Undang (UU).
Muhamad Kusrin (42) --perakit televisi yang malang itu-- adalah penduduk Desa Jatikuwong, Gondangrejo, Karanganyar, Jateng. Lulusan SD yang senang mengutak-atik barang elektronik ini secara tak sengaja bisa membuat usaha perakitan televisi dari bahan daur ulang. Ia dapatkan bahan-bahannya dari televisi bekas atau monitor komputer yang sudah tak terpakai. Dia beli, lantas dirakit.
Ternyata hasilnya disukai banyak orang dan berkembang menjadi usaha. Mantan tukang batu ini bisa memproduksi sampai 150 unit/hari. Untuk menambah nilai produk, Kusrin membuat merek televisi buatannya dengan nama keren, Maxreen, dari kata Mas Srin (Kusrin).
Ada juga merek Veloz dan Zener agar terkesan modern. Produksinya laku keras di desa-desa karena harganya hanya Rp 380.000 sampai Rp 500.000 per unit sesuai ukuran. Semuanya televisi tabung, kebetulan masih disukai masyarakat desa.
Suatu saat dia terkena musibah. Tempatnya bekerja digerebek polisi karena dianggap menyalahi UU, produknya tidak memiliki sertifikat SNI.
Ia diperkarakan, dihukum 6 bulan percobaan dan 116 televisi siap jual dimusnahkan oleh Kejari Karanganyar. Kusrin rugi Rp 58 juta dan usahanya pun bangkrut.
Mendengar kisah itu, Jokowi pada Senin (25/1) kemarin lalu memanggil Kusrin ke Istana. Presiden kagum dan mendorong Kusrin untuk terus berkarya. Bahkan, juga memberikan tambahan modal.
Produksi rakitan Kusrin, kata Jokowi, sangat membantu menyebarkan informasi karena harganya terjangkau rakyat perdesaan. Dia janji membantu upaya mematenkan usaha Kusrin.
Ilustrasi itu hanya menggambarkan betapa di dunia yang makin diwarnai persaingan ini diperlukan kreativitas.
Pemerintah pun mengantisipasi dengan mendorong industri kreatif bahkan membentuk lembaga pembinanya sendiri. Tak terbayang seorang lulusan SD seperti Kusrin bisa membuat televisi dan memekerjakan sampai 40 orang di desanya. Ini kreativitas luar biasa.
Upaya seperti ini selayaknya mendapat dukungan. Kalau toh ada kekurangan harus diberi penyuluhan. Bukan diberangus. Kusrin tidak mencuri, dia memulung barang-barang yang tak terpakai dari masyarakat.
***
Kusrin hanya contoh betapa orang yang lemah dan buta hukum gampang dizalimi. Beda dengan mereka yang kuat.
Ingat kasus Setya Novanto? Saat Bank Bali sulit menagih piutangnya pada tiga bank yang kolaps era 1990-an, Novanto selaku Direktur Utama PT Era Giat Prima mengambil alih penagihan, dengan komisi tentunya.