Sakralitas Tubuh
Alangkah sadisnya! Di Tangerang, seorang gadis diperkosa lalu dibunuh dengan menancapkan gagang pacul di kemaluannya.
Oleh: Mujiburrahman
Akademisi IAIN Antasari Banjarmasin
Alangkah sadisnya! Di Tangerang, seorang gadis diperkosa lalu dibunuh dengan menancapkan gagang pacul di kemaluannya. Di Bengkulu, anak 14 tahun diperkosa 14 remaja, lalu dibunuh. Di Bogor, balita 2,5 tahun diperkosa dan dibunuh. Masih banyak lagi deretan kasus serupa. Komnas Perlindungan Anak mengatakan, 58 persen dari 21,6 juta kejahatan terhadap anak pada 2015 adalah kejahatan seksual.
Kemudian kita pun ribut soal hukuman yang layak untuk pelaku pemerkosaan itu. Ada yang menuntut agar dia dihukum seberat-beratnya, sementara ada pula yang ingin memberi keringanan dengan alasan HAM. Namun, Rabu lalu, 25 Mei 2016, pemerintah akhirnya mengeluarkan Perppu Perlindungan Anak yang memungkinkan hukuman mati dan kebiri dijatuhkan kepada pelaku kejahatan seksual tersebut.
Bagi saya, pertanyaan yang lebih menggoda sebenarnya bukan berat-ringannya hukuman untuk pelaku, tetapi mengapa kejahatan serupa terus terjadi? Pertanyaan ini mungkin hanya bisa dijawab secara ilmiah melalui penelitian mendalam terhadap para pelaku dari sudut pandang sosial, budaya dan psikologis. Namun, mungkin penjelasan dari sudut pandang religio-filosofis dapat membantu.
Saya pun teringat dengan sufi-filosof abad ini, Seyyed Hossein Nasr, dan seniornya, Frithjof Schuon (Muhammad Isa Nuruddin), yang mengatakan bahwa krisis manusia modern terjadi akibat runtuhnya pandangan relijius terhadap alam dan manusia. Seperti dipekikkan oleh Nietzsche, “Tuhan sudah mati. Kitalah yang membunuhnya!” Ketika manusia menolak Tuhan, dia akan menuhankan dirinya sendiri.
Manusia modern yang congkak dengan sains dan teknologi itu, memandang alam tak lebih dari benda-benda tanpa jiwa, tanpa Pencipta. Baginya, yang nyata, yang ilmiah,dan karena itu, yang benar, hanyalah yang dapat diindera dan diuji di laboratorium. Kepercayaan pada Tuhan dianggap kebodohan. Alam gaib dianggap khayalan. Kehidupan sesudah mati dianggap ilusi. Hidup hanya di dunia ini, titik!
Dengan pandangan seperti itu, wajar jika manusia modern membabibuta mengeruk dan merusak alam. Alam hanyalah objek untuk dieksploitasi. Tidak ada lagi yang sakral, yang suci, yang gaib, yang perlu dijaga dan dihormati, di balik alam ini. Alam menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja alias profan. Hubungan antara alam dan manusia bukan hubungan antarsubjek, tetapi antara subjek dan objek.
Pandangan sekuler terhadap alam itu juga diterapkan pada manusia. Katanya, manusia hanyalah hewan yang berevolusi. Tubuh manusia tak lebih dari onggokan daging, tulang dan darah yang seolah mati, lalu dikaji di laboratorium biologi dan kimia. Bahkan psikologi enggan disebut ilmu jiwa. Psikologi katanya adalah ilmu tentang pikiran dan perilaku manusia. Jiwa, apalagi ruh, itu tak nyata, tak empiris, tak ilmiah.
Tubuh tanpa ruh yang berevolusi itu tentu saja tidak sakral, karena terlepas dari yang gaib, Tuhan, Penciptanya. Manusia sekuler itu berkata, “Tubuhku adalah milikku. Aku bebas berbuat apa pun terhadapnya.” Karena itu, hubungan seks bukan sesuatu yang sakral. Perkawinan tak lebih dari soal surat dan ‘urat’. Mau kumpul kebo, silakan. Mau kawin sejenis, silakan. Yang penting suka sama suka.
Jika hubungan seksual tidak lagi dianggap suci, maka pornografi yang mempertontonkan alat kelamin manusia dan adegan intim adalah hal biasa. Tak perlu ditutup-tutupi. Tak perlu malu-malu. Dorongan seks atau libido harus dipuaskan. Jika tidak disalurkan, orang akan sakit jiwa. Begitulah ajaran Sigmund Freud. Karena itu, pergaulan bebas, pelacuran, dan video porno bukanlah aib melainkan kewajaran.
Padahal, orang-orang yang dianggap primitif pun, sangat menjaga dan menghormati kelamin. Lihatlah pakaian mereka yang sederhana, baik lelaki ataupun perempuan. Mereka tetap menutup bagian alat vital itu. Sejauh yang saya baca, tidak ada orang primitif memperkosa anak-anak lalu menancapkan gagang pacul di kemaluan korban. Saya juga yakin, tak ada satu pun hewan yang berlaku sekejam itu!
Kita rupanya hidup pada era budaya dominan yang menolak segala yang sakral, termasuk sakralitas tubuh. Kekerasan seksual yang terjadi adalah wujud ekstrem dari penolakan itu. Sungguh disayangkan, agama seolah tidak mau atau malu membicarakan seks dan seksualitas. Seks hanya dibahas oleh biologi, kimia atau psikologi modern yang menampik sakralitas. Seks bahkan diajarkan oleh pornografi. (*)