Kewarganegaraan sang Menteri
Paspor itu disebut-sebut dipegang Arcandra sejak Maret 2012, setelah dia lulus proses naturalisasi dan kemudian mengambil sumpah setia pada Amerika
PESAN berantai melalui WhatsApp sedemikian kencang meluncur dari gadget ke gadget lain, sejak Sabtu (13/8/2016) pagi. Pesan itu menyebut Menteri ESDM, Archandra Tahar memiliki dwi kewarganegaraan Indonesia dan Amerika Serikat.
Paspor itu disebut-sebut dipegang Arcandra sejak Maret 2012, setelah dia ‘lulus’ proses naturalisasi dan kemudian mengambil sumpah setia pada Amerika Serikat (AS).
Sejak saat itu, menurut kabar yang belum terkonfirmasi, si manusia jenius dengan sejumlah penemuan terpatenkan itu, sudah beberapa kali masuk ke Indonesia tidak sebagai orang yang pulang, tapi sebagai pengunjung yang memegang paspor AS.
Tentu, bila soal paspor ganda tersebut benar adanya, pengangkatan Archandra sebagai menteri akan menjadi persoalan. Kalaupun tidak sampai berujung pemidanaan pun, bisa menjadi aib politik istana.
Sebab, sama saja presiden telah mengangkat warga negara asing sebagai menteri, karena secara otomatis Archandra tidak lagi menjadi WNI sejak dia mengangkat sumpah setia pada AS. Sebagaimana ketentuan pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 2 Tahun 2007, dalam pasal 31, ayat (1) Warga Negara Indonesia dengan sendirinya kehilangan kewarganegaraan karena: (e) Secara sukarela mengangkat sumpah atau menyatakan janji setia kepada negara asing atau bagian dari negara asing tersebut.
Selain soal keabsahan pengangkatanya sebagai menteri, (isu) paspor ganda Archandra juga menyisakan persoalan akurasi data yang masuk ke meja Presiden Joko Widodo.
Ya, sebagai presiden tentu dia tidak akan pernah mau main-main mengangkat menteri. Jokowi pastilah mengumpulkan data sebanyak-banyaknya soal orang yang akan masuk dalam jajaran kabinetnya.
Pertanyaannya adalah, mengapa Jokowi tidak menimbang data soal (isu) kewarganegaraan ganda Archandra? Atau, jangan-jangan sang presiden tidak pernah mendapatkan informasi soal status kewarganegaraan sang menteri, sehingga dia menganggap kewarganegaraan calon menterinya tidak ada bermasalah?
Bila kemungkinan kedua yang benar, sungguh Jokowi perlu melihat ulang orang-orang yang ada di sekitarnya. Perlu memastikan corak, ragam, motif, kapastitas, kesungguhan dan sebagainya pada orang-orang yang selama ini dipercaya memasok data di meja kerjanya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/archandra-15082016_20160815_004131.jpg)