Kalah Pun Siap

Siapakah pemenang Pilkada DKI Jakarta putaran kedua pada 19 April 2017 nanti? Inilah pertanyaan yang menggoda banyak orang,

Editor: BPost Online
BPost cetak
Mujiburrahman 

Oleh: MUJIBURRAHMAN
Akademisi UIN Antasari Banjarmasin

Siapakah pemenang Pilkada DKI Jakarta putaran kedua pada 19 April 2017 nanti? Inilah pertanyaan yang menggoda banyak orang, bukan hanya warga Jakarta, tetapi juga rakyat Indonesia bahkan orang-orang mancanegara. Namun, pertanyaan yang lebih penting kiranya adalah, apakah yang kalah kelak dapat berlapang dada menerima kekalahan?

Beberapa hasil survei terbaru menunjukkan, pasangan calon (paslon) Anies-Sandi unggul di atas Ahok-Djarot. Akankah hasi survei ini terus bertahan hingga hari pencoblosan? Entahlah. Kehidupan dunia ini memang penuh kemungkinan, apalagi di dunia politik yang dapat berubah dengan cepat. Yang semula survei mencatat sebagai pemenang, bisa saja kalah, atau bisa pula kemenangannya meningkat.

Kemenangan tentu menggembirakan, sementara kekalahan jelas mengecewakan. Setiap orang siap menerima kemenangan, tetapi belum tentu ikhlas menerima kekalahan. Menerima kemenangan laksana menjumpai kekasih yang dirindu, sementara menerima kekalahan laksana menjemput musuh jahat si buruk muka. Namun, apa boleh buat, dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) harus ada yang menang dan yang kalah.

Karena itu, alih-alih membayangkan manisnya kemenangan, masing-masing pihak mungkin lebih perlu menyiapkan diri untuk menghadapi kekalahan. Jika mental sudah siap, maka kekalahan itu tidak akan menghancurkan. Apalagi jika yang didapat justru kemenangan. Kegembiraan menerima kemenangan akan berlipatganda ketika orang justru tengah menyiapkan mental menerima kekalahan.

Tidak Merasa Terhina
Dalam menghadapi kekalahan, tak jarang manusia jatuh ke jurang putus asa hingga pasrah. “Hidup hanya menunda kekalahan…sebelum pada akhirnya kita menyerah” kata Chairil Anwar dalam puisinya, Derai-derai Cemara. Lebih pahit lagi, Jamal Mirdad bersenandung dalam tembang lamanya, Natalia: “Aku insan biasa yang selalu tersisih. Jangankan dalam kehidupan. Di dalam bercinta pun aku kalah.”

Dari sudut berbeda, Sang Guru dalam Manuskrip yang Ditemukan di Accra karya Paulo Coelho (2014) menegaskan, kalah dan menang hanyalah pergerakan dan perputaran roda kehidupan. “Apakah daun yang gugur dari pohon di musim salju merasa dikalahkan oleh hawa dingin?” katanya. Daun memang gugur, tetapi ia tidak mati. Ia tetap ada dalam tubuh pohon. Nanti di musim semi, ia tumbuh lagi.

Sang Guru juga mengajarkan, pada dasarnya, tidak ada kata kalah bagi yang berjuang. Ketika cintamu ditolak, bukan berarti kau telah kehilangan seluruh kemampuan untuk mencintai. Begitulah dalam hal cinta, begitu pula dalam hal pertarungan. Kalah hanya untuk orang yang takut gagal sehingga takut mencoba. Orang yang tidak pernah kalah justru tidak akan pernah menjadi pemenang sejati.

Baik Chairil Anwar yang pasrah, Jamal Mirdad yang merana ataupun Sang Guru yang optimistis, masing-masing menggambarkan ragam perasaan manusia menyikapi kekalahan. Ragam sikap itu memantulkan pandangan orang tentang dirinya di hadapan pihak yang mengalahkannya atau kekuatan yang tidak dapat dikendalikannya. Ada yang merasa terkulai tak berdaya, dan ada pula yang jatuh lalu bangkit lagi.

Menerima kekalahan dengan lapang dada hanya akan lahir dari pribadi dan kelompok yang tetap percaya akan kemampuan dan kekuatan diri mereka. Mereka berpikir, jika tidak hari ini, masih ada hari esok. Tetapi jika rasa percaya diri itu runtuh, dan harapan seolah punah, maka kekalahan akan sulit diterima.

Akibatnya,mereka hanya punya dua pilihan: roboh berputus asa atau menolak membabi buta.

Kita percaya, masing-masing pasangan calon (paslon) dan para pendukung mereka memiliki kepercayaan diri yang kuat. Kekalahan tidak berarti runtuhnya semua harapan karena tiap paslon sama-sama memberikan harapan. Karena itu, kita berharap kelak yang menang tidak sombong, yang kalah tidak merasa terhina. Akan lebih elok lagi jika pihak yang kalah langsung mengucapkan selamat kepada saingannya yang menang.

Pemilihan kepala daerah (pilkada) bukanlah pertarungan saling menghancurkan: menang jadi abu, kalah jadi arang. Yang kita inginkan adalah menang terhormat atau kalah bermartabat! (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved