Trump dan Skandal Amoral

DUNIA serempak mengecam bahkan mengutuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Penyataan Trump yang mengakui

Editor: BPost Online
BPost Cetak
Ilustrasi 

DUNIA serempak mengecam bahkan mengutuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Penyataan Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel telah mengusik warga dunia, khususnya negara berpenduduk Islam. Bahkan, Uni Eropa, sekutu Trump di Benua Biru, mengecam keras langkah Trump tersebut –yang dinilai telah mengoyak proses perdamaian di Palestina yang sudah berlangsung selama ini.

Persoalan Trump tidak hanya soal Yerusalem, tapi juga persoalan di negerinya sendiri. Seperti diketahui, pemilihan presiden yang dimenangkannya menyisakan masalah –terkait peran Rusia ikut memenangkan Donald Trump pada Pemilihan Umum Presiden 2016. Dan, kabarnya sebelum kasus itu semakin melebar, Trump memecat Direktur FBI James Comey yang tengah menyelidiki keterlibatan Rusia dalam hubungan kampanye Trump saat pilpres.

Namun, sejatinya yang menarik dari sepak terjang Trump tidak bisa dilepaskan dari pibadinya yang dinilai banyak rakyat AS figur amoral. Tak lepas dari berbagai skandal dengan perempuan. Terkadang apa yang dilakukan Trump kerap menyalahi sopan santun dan etika. Bahkan, melanggar hak-hak privasi kaum wanita.

Sebagai bukti, pengakuan 16 wanita yang merasa telah dilecehkan oleh Trump. Pengakuan ke-16 wanita itu telah dijadikan sebuah film dokumenter pendek. Dalam film (pengakuan) itu para wanita menyebut bagaimana Trump yang disebut sebagai figur bejat menyentuh mereka secara tidak pantas dan mencium secara paksa.

Tidak jelas memang Brave New Film sebagai rumah produksi membuat dokumen pendek berjudul 16 Women and Donald Trump, itu sebagai langkah politik atau lebih dari sebuah pengungkapan bejatnya moral seorang Donald Trump.

Namun terlepas motif rumah produksi itu mendomentasikan pengakuan 16 wanita dalam bentuk film, kita melihat apa yang dilakukan Brave New Film adalah sebuah pesan moral yang baik.

Ketika seorang berkuasa memiliki kesempatan untuk bertingkah laku sesuai apa yang dimaui dan dan dinginkannya. Dan, ketika keinginan itu dipengaruhi oleh nafsu syahwat, maka peran moralitas bakal semakin mengecil. Itu sebabnya, pengaruh (kekuasaan/power) bisa menjadi sangat dominan mengatur akal sehat untuk menjadi baik atau sebaliknya.

Dan, apa yang dilakukan Trump adalah dominasi keinginan tidak baik yang mengantarkannya untuk berbuat amoral terhadap siapa saja, termasuk wanita.

Sejauh ini, Trump menepis semua tudingan kejahatan amoral yang dialamatkan kepadanya. Pengakuan 16 wanita itu dianggapnya hanya sebuah publisitas murahan yang dianggap tak berpengaruh pada kekuasaannya.

Artinya, kita melihat Donald Trump menggunakan pengaruhnya (kekuasaan) sebagai presiden untuk mengeliminasi setiap ketidakbenaran yang diarahkan kepadanya. Suka tidak suka, harus kita akui, Trump memiliki daya untuk melakukan sesuatu seperti apa yang diinginkannya, tidak peduli kecaman orang. Dan, itu pula yang dilakukan Trump yang tidak peduli terhadap kutukan atau kecaman di luar atas kebijakannya mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved