Pasar Tanpa Tas Plastik

ATURAN yang membawa dampak bagus bisa mempengaruhi perilaku warga menjadi kian positif. Tentu hal ini perlu didukung semua pihak.

Pasar Tanpa Tas Plastik
net
Ilustrasi 

ATURAN yang membawa dampak bagus bisa mempengaruhi perilaku warga menjadi kian positif. Tentu hal ini perlu didukung semua pihak.

Seperti yang baru diterbitkan Pemko Banjarmasin mengenai pembatasan penggunaan tas plastik (kantong kresek). Setelah mengajak para guru dan pelajar membatasi penggunaan kresek kemudian menggandeng ritel modern, kini mulai menjamah pasar tradisional.

Awal kebijakan tersebut, tentu saja mengundang pro dan kontra. Pihak pro, harapannya makin mengurangi sampah tas plastik. Sedangkan yang kontra, tidak ada yang lebih mudah dan murah didapat selain tas plastik. Solusi sebagai penggantinya memang ada tas yang ramah lingkungan yang mudah terurai, tapi ini tak murah.

Pada 2017, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kalsel memperkirakan 600 ton sampah per hari. Sekitar 15 sampai 20 persen di antaranya adalah sampah plastik. Sementara, plastik sangat sulit atau bahkan mustahil terurai di tanah. Ini yang mendorong Pemko Banjarmaisn membuat kebijakan pembatasan penggunaan kantong plastik.

Langkah awal, mengajak toko modern untuk tidak lagi menyediakan kantong plastik kepada pelanggan. Melalui perizinan, Pemko juga bisa meminta manajemen toko modern mendukung kebijakan pembatasan kantong plastik itu. Melalui Peraturan Wali Kota Banjarmasin Nomor 18 Tahun 2016 yang dikeluarkan pada 1 Juni 2016, sebanyak 125 toko modern diminta melaksanakan ketentuan ini.

Toko modern pun kini tidak lagi menyediakan tas plastik. Meski sosialisasi telah dilakukan, tetap saja ada pelanggan toko yang mengeluh karena sering lupa membawa wadah barang belanjaan.

Ada pula toko modern yang menawarkan tas ramah lingkungan, tetapi pelanggannya harus membeli. Bahkan, bila pelanggan berbelanja hingga nominal tertentu, gratis mendapatkannya. Pemko mengklaim upaya itu mampu menurunkan volume sampah plastik dan diapresiasi pemerintah pusat. Karenanya akan terus digencarkan.

Dulu, Pemko sempat ragu mengajak para pedagang mendukung peraturan itu. Alasannya bakal sulit mengubah perilaku mereka meninggalkan tas plastik. Sekarang, Pemko mulai berani mencobanya, dimulai menerapkan pasar percontohan.

Meski telah memperhitungkan bakal ada yang kontra, mengingat tidak ada solusi penggantinya, tapi kebijakan ini sepertinya bakal terus dijalankan. Harapan pemko, bisa diterapkan di semua pasar tradisonal. Di sisi lain, bisa mendorong industri penghasil tas ramah lingkungan.

Di daerah lain, Banjarbaru dan Banjar juga sudah menerapkan pembatasan kantong plastik. Meski, masih ada toko modern setempat yang belum sampai pada aksi nyata mendukung kebijakan itu.

Jika semua daerah kompak membatasi penggunaan tas plastik tentu bisa memunculkan industri pembuat tas ramah lingkungan. Jadi, niatnya bukan ingin dapat pujian/apresiasi pemerintah pusat. Tapi, mengatasi sampah plastik dan mengubah perilaku masyarakat agar terbiasa menggunakan tas ramah lingkungan. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved