Mereka Bicara

Bubur Asyura Tradisi Islami Masyarakat Banjar

Padahal istilah Asyura berasal dari bahasa Arab yang berarti sepuluh. Jadi, ‘Asyura bermakna hari ke-10 bulan Muharram.

Editor: Didik Triomarsidi
banjarmasinpost.co.id/jumadi
Puluhan warga Jalan Garuda RT11, Kompleks Perumahan Bumi Basirih, Kecamatan Banjarmasin Selatan, Kota Banjarmasin membuat bubur Asyura, Kamis (20/9/2018) siang 

Oleh: DR MIFTAH EL-BANJARY MA, Dosen & Wakil Ketua STIT Syekh Muhammad Nafis Tanjung Tabalong

Sekilas mendengar tentang tradisi Asyura bagi kebanyakan orang awam saat ini seringkali diidentikkan dengan perayaan Islam-Syiah. Padahal istilah Asyura berasal dari bahasa Arab yang berarti sepuluh (terambil dari kata ‘Asyara). Jadi, ‘Asyura bermakna hari ke-10 bulan Muharram.

Tradisi masyarakat Sunni memperingati tradisi hari Asyura, sesungguhnya tidak ada sangkut paut dari hubungannya sama sekali dengan tradisi hari Asyura yang diperingati di kalangan Islam Syiah yang menjadikan hari tersebut sebagai hari berkabungnya wafatnya Sayyidina Husien dalam tragedi pembantaian di Karbala-Irak.

Puasa Asyura
Tradisi memperingati hari Asyura di kalangan Islam-Sunni murni mengambil hikmah dari sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa manakala Rasulullah SAW tiba di Madinah dan mendapati orang-orang Yahudi sedang berpuasa ‘Asyura.

Lantas Nabi SAW bertanya, “Puasa apa ini?” Mereka menjawab, ”Hari ini adalah hari terbaik, hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israel dari kejaran musuhnya, maka Musa berpuasa sebagai syukurnya kepada Allah, dan kami pun ikut berpuasa. Nabi pun berkata, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Akhirnya, Rasulullah berpuasa pada hari itu serta memerintahkan para sahabat untuk berpuasa. [Syarah Shahih Muslim Juz 8/12/Fathul Bari; Ibnu Hajar 4/671.]

Memuliakan Keutamaan Muharram
Jika melihat lagi keutamaan bulan Muharram, ada banyak peristiwa bersejarah yang melatarbelakanginya, diantaranya: (1) Diampuninya dosa serta diterimanya taubat Nabi Adam (2) Diselamatkannya Nabi Nuh dari banjir besar (3) Diangkatnya Nabi Idris ke langit (4) Diselamatkannya Nabi Ibrahim dari siksaan Namrud (5) Dibebaskannya Nabi Yusuf dari ujian penjara (6) Disembuhkannya kebutaan NabiYa’kub (7) Disembuhkan ujian penyakit Nabi Ayyub (8) Diselamatkannya Nabi Musa beserta Bani Israel dari kejaran Fir’aun (9) Diampuninya dosa dan kesalahan Nabi Daud (10) Diangkatnya Nabi Sulaiman ke singgasananya menjadi Raja Bani Israel.

Semua hal itulah yang mendasari mengapa Islam-Sunni memuliakan bulan Muharram, khususnya hari ‘Asyura sebagai hari yang memiliki keistimewaan tersendiri dengan tradisi berpuasa pada hari itu sebagai bagian dari bentuk rasa syukur serta memperingati momentum sejarah di dalamnya.

Tradisi Bubur Asyura
Pada masyarakat Islam Banjar yang sangat kental tradisi keislamannya pun memiliki tradisi unik berkenaan dengan hari ‘Asyura. Setiap menjelang hari ‘Asyura, masyarakat Banjar di wilayah Hulu Sungai (Pahuluan) biasanya menyelenggarakan acara tradisi membuat bubur Asyura secara bersama-sama dalam kelompok kecil. Kebanyakan tradisi ini dilakukan oleh para ibu-ibu pada hari ke-9 atau ke-10 bulan Muharram setiap tahunnya.

Bubur yang dimasak seperti bubur nasi pada umumnya yang terdiri dari campuran rempah-rempah, sayur-sayuran serta daging ayam. Biasanya bubur dimasak dalam jumlah besar dalam sebuah kawah besar, kemudian dibagi-bagikan ke tetangga-tetangga sekitar. Hal ini dimaksudkan sebagai hidangan berbuka bagi mereka yang menjalankan puasa sunah hari Asyura.

Prof Alfani Daud; penulis buku Islam dan Masyarakat Banjar menulis tradisi bubur Asyura telah ada dan berlangsung sejak ratusan yang lalu dalam budaya Islam masyarakat Banjar. Konon, adanya tradisi acara Mambubur Asyura sebagai kenangan sekaligus momentum rasa syukur mengingat perjuangan pejuang kaum muslimin dahulu yang pernah mengalami masa-masa panceklik kelaparan, sehingga semua bahan-bahan apa saja yang bisa dimakan dimasak secara bersama-sama.

Wujud Rasa Syukur
Tidak ada yang salah atau keliru dari tradisi ini. Tradisi ini sesungguhnya sangat baik sebagai bentuk menunjukkan rasa syukur sekaligus pengajaran para orang tua dahulu bagaimana cara kita menghargai makna sebuah perjuangan dan momentum bersejarah peradaban Islam.

Terakhir, berpuasa di bulan Muharram sangat dianjurkan oleh Rasulullah. Pada sebuah hadits Nabi Saw bersabda, “Puasa Asyura aku memohon kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu.” [HR Muslim no1162].

Dari Ibnu Abbas “Aku tidak pernah melihat Nabi semangat berpuasa yang ada keutamaannya, selain puasa pada hari ini, hari ‘Asyura dan puasa bulan Ramadhan.” [HR. Bukhari, no. 2006, Muslim, no 1132]. “Puasa yang paling afdhal setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, al-Muharram. [HR. Muslim, no 1163].

Pada redaksi hadits lain, Nabi Saw pernah bersabda, “Sekiranya aku diberikan umur panjang sampai tahun depan insya Allah aku akan berpuasa pada hari ke-9 dan ke-10 bulan Muharram.” Semoga kita bisa mengamalkannya. Amin. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved