Opini Publik

Ajaran Martin Luther yang Tergerus (Refleksi Titik Nadir 501 Tahun Reformasi/ Protestan)

Khusus bagi umat Nasrani (Protestan) bulan Oktober, tanggal 31 hari ini, merupakan bulan gaung reformasi yang digagas Martin Luther

Tayang:
Editor: Elpianur Achmad
capture Bpost
Marudut Tampubolon SH MM MH 

Oleh: Dr Marudut Tampubolon SH MM MH
(Advokat, pendiri/ Ketua Pembina Yayasan Mardiko Borneo Indonesia)

BANJARMASINPOST.CO.ID - Hari pangan se-Dunia (world food day) XXXVIII yang berlangsung 18 hingga 20 Oktober di Desa Jejangkit, Kalimantan Selatan, Indonesia baru saja berlalu, meskipun ada rasa yang kurang dengan ketidakhadiran Presiden Joko Widodo pada perhelatan tersebut. Pangan yang menjadi kebutuhan jasmani bagi seluruh umat, sempurna terlengkapi dengan memenuhi kebutuhan pangan rohani berupa agama.

Khusus bagi umat Nasrani (Protestan) bulan Oktober, tanggal 31 hari ini, merupakan bulan gaung reformasi yang digagas Martin Luther, meskipun seremonialnya kerap berlalu begitu saja tanpa semangat iman untuk merenungkannya. Renungan yang sejatinya dipelopori oleh kaum pendeta gereja Protestan yang selalu menganggap dirinya baik sebagai “wakil” Tuhan, hingga lupa dan asyik-masyuk menikmati hasil panen buah pikir Luther yang kini melenceng jauh. Sejarah berulang kembali, kini kembali ke keadaan ketika Luther belum menentang keadaan yang sama meskipun dalam wujud yang berbeda.

Martin Luther (1483-1546) adalah tokoh Reformasi Protestantisme. Limaratus satu tahun berselang, dia menoreh sejarah yang dalam ajaran gereja membuat sebuah awal kesadaran urgensinya perubahan atau reformasi. Doktrin dan ajarannya membawa dampak besar bagi Gereja Katolik. Melalui gerakan Reformasi Protestantisme, Luther mengidealismekan adanya bentuk baru dari tata gereja. Dia melakukan reformasi (Reformare) terhadap kinerja gereja.

Pada masanya, Gereja Katolik berada pada titik kemerosotan substantif yang mengarah kepada kesesatan ajaran. Oleh karena itu Luther memelopori perubahan, agar eksistensi gereja tidak melenceng. Dia mengarahkan agar gereja kembali menjadi lebih baik menurut bentuk yang semestinya.
Ibarat peperangan, ajaran dan doktrin yang dikemukakan Luther menjadi gempuran besar terhadap Gereja Katolik. Perubahan mendasar yang diinginkannya dicatat sejarah gereja untuk kembali kepada kebenaran hakiki. Gempuran terhadap kinerja gereja itu pada perkembangannya ditandingi dengan pembaruan internal melalui Konsili Trento.

Kesalahan Fatal
Kesalahan yang dilakukan secara resmi oleh gereja begitu kasatmata dan sulit diterima akal sehat. Kesesatan terjadi dengan adanya komersialisasi surat penghapusan dosa (Indulgensia). Kendatipun begitu besar dosa sang hamba dan dilakukan berulang kali, namun selama itu pula dosa bersangkutan bisa dihapus jika membeli surat pengampunan dosa yang dikeluarkan oleh gereja.

Refleksi ajaran Martin Luther diringkaskan dalam 95 dalil yang membawa reformasi besar pada kinerja gereja. Inti ajarannya sederhana, bahwa manusia bisa menyempurnakan kehidupannya ketika dia melakukannya dengan ketekunan dan berhati suci untuk mengabdi kepada agama. Semua perilakunya ditujukan untuk kebesaran agama. Rumusan 95 dalil Luther yang ditempelnya di pintu gerbang gereja istana Wittenberg, 31 Oktober 1517, tanggal yang kemudian diperingati sebagai Hari Reformasi.

Pemberian atau komersialisasi surat pengampunan adalah ajaran tidak masuk akal dan karenanya harus ditentang dengan tujuan agar kehidupan gereja dipulihkan kepada kodratnya, sebagai wadah pengabdian yang tulus.

Dari ajarannya itu faktanya membawa pengaruh sangat mendasar bagi Gereja Katolik. Itulah sebabnya ajarannya kemudian diberi label Kristen Protestan, sebagai semacam sempalan dari aslinya yaitu Kristen Katolik. Kala protes yang diinginkan Luther berkembang pesat, kendati awalnya ide tersebut mendapat tantangan, namun melalui perdebatan dan diskusi panjang di berbagai forum akhirnya semakin hari pengikut reformasi Luther semakin besar. Demikian pula pertentangan dengan Gerja Katolik juga semakin membara.

Dari ke 95 dalil yang dibangun, setidaknya ada 3 hal yang secara substansial menjadi doktrin teologis Martin Luther dalam usahanya memperbarui gereja. Doktrin inilah yang abadi hingga kini.

Doktrin pertama adalah ajaran tentang yustifikasi (pembenaran) yang radikal atas manusia melalui sola fide. Sola Fide adalah pemahaman iman yang benar-benar menekankan keimanan kepada Yesus Kristus. Sola Fide mengajarkan bahwa keselamatan manusia di dunia dan menuju keabadian hanya diperoleh dari pembenaran dan iman semata.

Kedua, ajaran tentang infalibilitas (ketidaksesatan) Alkitab dipandang sebagai satu satunya sumber kebenaran. Dogma ini memberi pemahaman bahwa dengan kuasa Roh Kudus, Sri Paus dilindungi dari kemungkinan membuat kesalahan ketika dia secara resmi menyatakan atau mengumumkan kepada Gereja mengenai sebuah ajaran dasar. Konkretnya tentang iman atau moralitas seperti terkandung di dalam wahyu Tuhan atau memiliki hubungan yang sangat dalam dengan wahyu Tuhan. Untuk semua ajaran infalibilitas, Roh Kudus juga berkerja melalui gereja untuk memastikan bahwa ajaran ajaran tersebut diterima oleh semua umat Katolik.

Ketiga, ajaran tentang Imamat umum dalam hubungannya dengan kuasa untuk menafsirkan Alkitab. Refleksi dari hal ini tentang kewajiban keimaman di Israel. Itu menekankan kekudusan Allah dan tatanan yang dengannya umat-Nya dapat hidup untuk menjadi kudus. Maksudnya adalah untuk mengajarkan ajaran moral dan kebenaran keagamaan dari hukum Musa melalui cara ritual. Musa yang menulis kitab Imamat dan menjadi dasar keimanan.

Semua proposisi teologis lainnya merupakan akibat dari prinsip tersebut terus berkembang, misalnya ajaran tentang yustifikasi, predestinasi, kembali ke Alkitab, sakramen, gereja, pemikiran politik reformasi dan pengaruh pemikiran reformasi atas sejarah. Kesemuanya menjadi ajaran dasar yang berkembang dinamis hingga kini.

Reflektif
Bagi Gereja Katolik, munculnya ajaran dan doktrin Luther ini dijadikan bahan refleksi. Diyakini bahwa sejak kemunculan ajaran dan doktrin Luther, gereja bersikap tegas untuk melawannya. Akan tetapi, secara rasional pula, apa yang diajarkan Luther mengandung kebenaran hakiki.
Bahkan dalam perkembangan pada masa itu adalah kenyataan kemerosotan iman dalam berkinerja, hingga masanya Gereja Katolik kembali ke kemurnian dan kesucian ajarannya. Oleh sebab itu, kebaikan sejati jika peristiwa reformasi protestantisme yang juga disertai kemunculan ajaran dan doktrin Luther dijadikan bahan untuk berkontemplasi tentang kemurnian ajaran Yesus Kristus.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved