Mereka Bicara

Pembiasaan HOTS dalam Pembelajaran Matematika

Kebijakan Kemdikbud untuk menghadirkan lebih banyak lagi soal level HOTS (Higher Order Thinking Skills) dalam UNBK 2019

Pembiasaan HOTS dalam Pembelajaran Matematika
banjarmasinpost.co.id/aprianto
UNBK SMP di Banjarbaru 

Banyak pendekatan pembelajaran yang bisa diambil oleh para pendidik Matematika, seperti dengan pendekatan problem solving, open-ended, problem based learning, problem posing, hingga pendekatan kontekstual.

Banyak alternatif pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi maupun peserta didik dalam belajar Matematika, tidak sebatas pada pembelajaran langsung, guru catat rumus, murid pakai rumus, selesai.

Pada pendekatan problem solving misalnya, dengan empat tahap dari bapak pemecahan masalah George Polya dengan judul bukunya How to Solve It, peserta didik akan diajak untuk memahami masalah (understand problem), merencanakan penyelesaian (plan), mengeksekusi rencana (carry out), hingga memeriksa proses dan hasil (looking back).

Memang terkesan menghabiskan banyak waktu, tetapi itu sebenarnya ruh belajar Matematika, yaitu berkegiatan untuk menemukan konsep atau dalil atau rumus Matematika, sehingga lebih bermakna. Tinggal bagaimana sentuhan guru, membawakan dengan fun, sehingga peserta didik seperti addicted atau ketagihan belajar Matematika.

Contoh lain dengan pendekatan open-ended, yaitu menyajikan soal-soal terbuka. Becker & Epstein (2006), mengatakan bahwa soal dapat terbuka (open) dalam tiga kemungkinan. Pertama, proses yang terbuka, dimana soal lebih menekankan pada cara dan strategi berbeda untuk menemukan solusi. Kedua, hasil akhir yang terbuka, dimana soal memiliki jawaban akhir yang berbeda-beda. Ketiga, cara untuk mengembangkan yang terbuka, dimana soal lebih menekankan pada bagaimana peserta didik dapat mengembangkan soal baru berdasarkan initial problem yang diberikan.

Misalnya terkait konsep luas segitiga. Kalau biasanya, guru langsung menuliskan rumus untuk menghitung luas segitiga, dengan soal tertutupnya, yaitu “Hitunglah luas segitiga ABC dengan panjang alas 6 cm dan tinggi 8 cm”. Maka, dengan pendekatan open-ended, soal tersebut diubah menjadi, “jika segitiga ABC memiliki luas 24 cm2, tentukan panjang alas dan tinggi segitiga tersebut”.

Hafalan ataupun pemahaman tentang rumus luas segitiga tidak cukup untuk menyelesaikan soal open-ended tersebut, diperlukan pemahaman lain tentang kombinasi dua bilangan yang mungkin menghasilkan luas segitiga 24 cm2. Disitulah kreatifitas, logika peserta didik akan terbangun dengan banyak kemungkinan solusi/penyelesaian benar.

Menitikberatkan
Konteks Realistik
Kedua, menitikberatkan pada konteks. Hans Freudenthal (Heuvel-Panhuzein, 1996: 12), mengatakan bahwa “when children learn mathematics in an isolated fashion, divorced from experienced reality, it will be quickly forgotten and they will not be able to apply it”.

Dengan kata lain, suatu pengetahuan tentang konsep Matematika, akan menjadi bermakna jika proses belajar melibatkan masalah realistik atau dilaksanakan dengan suatu konteks. Salah satu cara yang bisa digunakan adalah melalui pembelajaran Matematika yang menempatkan Matematika sebagai bagian dari pengalaman hidup peserta didik sehingga konsep Matematika menjadi lebih bermakna bagi mereka (baca: peserta didik).

Penggunaan konteks dalam pembelajaran Matematika dapat membuat konsep Matematika menjadi lebih bermakna bagi peserta didik, karena konteks dapat menyajikan konsep Matematika abstrak dalam wujud representasi yang mudah dibayangkan/diimajinasikan kemudian dipahami oleh peserta didik. Konteks di sini tidak harus berupa masalah dunia nyata, tetapi bisa dalam bentuk permainan, atau melalui penggunaan alat peraga untuk membelajarkan Matematika dari dasar di SD atau SMP, atau situasi lain yang bisa dibayangkan dalam pikiran peserta didik.

Halaman
123
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved