Mereka Bicara
Pembiasaan HOTS dalam Pembelajaran Matematika
Kebijakan Kemdikbud untuk menghadirkan lebih banyak lagi soal level HOTS (Higher Order Thinking Skills) dalam UNBK 2019
Misalnya terkait konsep luas segitiga. Kalau biasanya, guru langsung menuliskan rumus untuk menghitung luas segitiga, dengan soal tertutupnya, yaitu “Hitunglah luas segitiga ABC dengan panjang alas 6 cm dan tinggi 8 cm”. Maka, dengan pendekatan open-ended, soal tersebut diubah menjadi, “jika segitiga ABC memiliki luas 24 cm2, tentukan panjang alas dan tinggi segitiga tersebut”.
Hafalan ataupun pemahaman tentang rumus luas segitiga tidak cukup untuk menyelesaikan soal open-ended tersebut, diperlukan pemahaman lain tentang kombinasi dua bilangan yang mungkin menghasilkan luas segitiga 24 cm2. Disitulah kreatifitas, logika peserta didik akan terbangun dengan banyak kemungkinan solusi/penyelesaian benar.
Menitikberatkan
Konteks Realistik
Kedua, menitikberatkan pada konteks. Hans Freudenthal (Heuvel-Panhuzein, 1996: 12), mengatakan bahwa “when children learn mathematics in an isolated fashion, divorced from experienced reality, it will be quickly forgotten and they will not be able to apply it”.
Dengan kata lain, suatu pengetahuan tentang konsep Matematika, akan menjadi bermakna jika proses belajar melibatkan masalah realistik atau dilaksanakan dengan suatu konteks. Salah satu cara yang bisa digunakan adalah melalui pembelajaran Matematika yang menempatkan Matematika sebagai bagian dari pengalaman hidup peserta didik sehingga konsep Matematika menjadi lebih bermakna bagi mereka (baca: peserta didik).
Penggunaan konteks dalam pembelajaran Matematika dapat membuat konsep Matematika menjadi lebih bermakna bagi peserta didik, karena konteks dapat menyajikan konsep Matematika abstrak dalam wujud representasi yang mudah dibayangkan/diimajinasikan kemudian dipahami oleh peserta didik. Konteks di sini tidak harus berupa masalah dunia nyata, tetapi bisa dalam bentuk permainan, atau melalui penggunaan alat peraga untuk membelajarkan Matematika dari dasar di SD atau SMP, atau situasi lain yang bisa dibayangkan dalam pikiran peserta didik.
Akhirnya, adanya soal-soal level HOTS di UNBK, memang lambat laun akan menjadi suatu keniscayaan. Apalagi ketika berbicara target yakni anak-anak kita mampu bersaing/berbicara pada kompetisi PISA atau TIMSS.
Namun, menghadirkan soal-soal level HOTS dalam ujian, bukan menjadi solusi tepat, tetapi justru bisa menambah stigma negatif peserta didik terhadap Matematika. Melalui pembiasaan dengan menghadirkan soal-soal non rutin maupun penggunaan konteks di setiap pembelajaran Matematika, diharapkan mampu mengenalkan sejak dini HOTS, sehingga peserta didik tidak kaget dan canggung untuk menyelesaikan soal-soal level HOTS. Semoga (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/unbk-smp-d-u.jpg)