Mereka Bicara
Pembiasaan HOTS dalam Pembelajaran Matematika
Kebijakan Kemdikbud untuk menghadirkan lebih banyak lagi soal level HOTS (Higher Order Thinking Skills) dalam UNBK 2019
OLEH: MUH. FAJARUDDIN ATSNAN MPd, Dosen STKIP PGRI Banjarmasin (Penulis Buku Matematika Sekolah)
BANJARMASINPOST.CO.ID - Kebijakan Kemdikbud untuk menghadirkan lebih banyak lagi soal level HOTS (Higher Order Thinking Skills) dalam UNBK 2019, pada mapel Matematika, seyogyanya diimbangi dengan pembiasaan menyisipkan soal level HOTS dalam rutinitas pembelajaran Matematika. Memang benar, adanya penerapan soal level HOTS dalam ujian, diharapkan bisa melatih peserta didik untuk berpikir kritis, kreatif, dan analitis.
Namun, salahnya adalah, ketika momen ujian, seolah digunakan sebagai satu-satunya waktu terbaik untuk mengeluarkan soal-soal HOTS. Perlu pembiasaan agar peserta didik, tidak semakin “menyingkiri” Matematika, tetapi justru punya sikap menghargai kegunaan Matematika dalam kehidupan sehari-hari.
Sangat luas ketika membicarakan di mana batasan HOTS dalam pembelajaran Matematika. Namun, salah satu acuan yang biasa atau lazim digunakan adalah level kognitif dari Bloom, dimana level C1-C3 yaitu menghafal, memahami, dan menerapkan masuk dalam LOTS (Low Order Thinking Skill), sedangkan C4-C6, yaitu menganalisis, mengevaluasi, dan mengcreate, masuk dalam HOTS. Kemendikbud berdalih munculnya soal-soal level HOTS dalam UNBK Matematika adalah untuk mengenalkan soal-soal HOTS, yang biasa ditemui pada kompetisi PISA maupun TIMSS.
Namun, terlihat aneh, manakala dalam rutinitas pembelajaran Matematika di sekolah, tidak biasa dihadirkan soal-soal level HOTS, tiba-tiba anak harus berkenalan lebih dalam dengan sesuatu yang asing (baca: soal-soal HOTS), dalam ujian.
Pembiasaan Menyajikan
Masalah Non Rutin
Perlu pembiasaan sejak dini, melalui berbagai cara atau pendekatan dalam pembelajaran Matematika. Pertama, melalui pembiasaan menyajikan masalah-masalah non rutin. Selama ini, pembelajaran Matematika identik dengan bejibun rumus yang menuntut peserta didik menghafal rumus-rumus tersebut untuk menyelesaikan soal.
Ironisnya, soal-soal yang disajikan guru terkadang sebatas soal-soal rutin, yaitu masalah yang berada pada level kognitif LOTS. Memang, ada semacam konflik batin yang dialami oleh guru Matematika, dimana di satu sisi ada tuntutan untuk mengenalkan sedini mungkin soal-soal non rutin, tetapi di sisi lain, guru dihadapkan pada situasi mindset peserta didik cenderung apatis terhadap mata pelajaran Matematika.
Padahal, belajar Matematika sejatinya merupakan kegiatan olah pikir, olah rasa, yang bermain dengan logika dan intuisi yang menyenangkan, karena mathematics is a human activity (Hans Fruedenthal).
Menurut Freudenthal (Wijaya, 2012:20), Matematika sebaiknya tidak diberikan kepada peserta didik sebagai suatu produk jadi yang siap pakai, melainkan sebagai suatu bentuk kegiatan dalam mengkonstruksi konsep Matematika. Dengan berlandaskan pada Matematika sebagai suatu aktivitas insani dan Matematika adalah kegiatan, maka seluruh algoritma pembelajaran Matematika tidak hanya sekadar menghafal dan menggunakan rumus untuk situasi yang kurang bermakna. Belajar Matematika menjadi lebih bermakna (meaningfull), manakala di dalamnya terdapat aktivitas menganalisis, mengkreasi hingga paham asal muasal rumus-rumus Matematika, melalui soal-soal non rutin, yang biasa muncul di PISA atau TIMSS.
Untuk dapat menghadirkan masalah-masalah non rutin Matematika kepada peserta didik, tentulah guru Matematika terlebih dahulu membiasakan diri dengan apa itu soal non rutin, bagaimana pendekatan yang bisa diterapkan, hingga bagaimana cara mengembangkannya.
Banyak pendekatan pembelajaran yang bisa diambil oleh para pendidik Matematika, seperti dengan pendekatan problem solving, open-ended, problem based learning, problem posing, hingga pendekatan kontekstual.
Banyak alternatif pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi maupun peserta didik dalam belajar Matematika, tidak sebatas pada pembelajaran langsung, guru catat rumus, murid pakai rumus, selesai.
Pada pendekatan problem solving misalnya, dengan empat tahap dari bapak pemecahan masalah George Polya dengan judul bukunya How to Solve It, peserta didik akan diajak untuk memahami masalah (understand problem), merencanakan penyelesaian (plan), mengeksekusi rencana (carry out), hingga memeriksa proses dan hasil (looking back).
Memang terkesan menghabiskan banyak waktu, tetapi itu sebenarnya ruh belajar Matematika, yaitu berkegiatan untuk menemukan konsep atau dalil atau rumus Matematika, sehingga lebih bermakna. Tinggal bagaimana sentuhan guru, membawakan dengan fun, sehingga peserta didik seperti addicted atau ketagihan belajar Matematika.
Contoh lain dengan pendekatan open-ended, yaitu menyajikan soal-soal terbuka. Becker & Epstein (2006), mengatakan bahwa soal dapat terbuka (open) dalam tiga kemungkinan. Pertama, proses yang terbuka, dimana soal lebih menekankan pada cara dan strategi berbeda untuk menemukan solusi. Kedua, hasil akhir yang terbuka, dimana soal memiliki jawaban akhir yang berbeda-beda. Ketiga, cara untuk mengembangkan yang terbuka, dimana soal lebih menekankan pada bagaimana peserta didik dapat mengembangkan soal baru berdasarkan initial problem yang diberikan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/unbk-smp-d-u.jpg)