Jendela

Humor Ramadan

Humor Adzan Magrib adalah salah satu yang banyak diciptakan orang. Selain meme di atas, meme lain menggambarkan dialog antara Rhoma dan Ani.

Editor: Elpianur Achmad
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman
Rektor UIN Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - “Diduga Tidak Kuat Menunggu Adzan Magrib, Seorang Jomblo Nekad Adzan Sendiri.” Demikian judul berita ‘koran’ dalam bentuk meme.

Dalam jurnal Prisma terbaru Vol.39 No.1 (2019) yang mengangkat tema “Humor yang Adil dan Beradab” dikutip pernyataan Arwah Setiawan bahwa humor itu serius. Yang lain lagi mengatakan, humor itu menghibur, cerdas dan perlu. Humor Ramadan tidak terkecuali.

Humor Adzan Magrib adalah salah satu yang banyak diciptakan orang. Selain meme di atas, meme lain menggambarkan dialog antara Rhoma dan Ani.

“Apakah itu suara adzan Magrib, Ani?” “Oh, tidak! Itu Adzan Zhuhur,” jawab Ani. “Subhanallah, sungguh mirip sekali!” kata Rhoma.

Yang lain, dalam bentuk kalimat mengingatkan: “Hati-hati dengan adzan, jangan-jangan itu hanya contoh adzan Magrib!”

Adzan Magrib memang yang paling ditunggu-tunggu orang yang berpuasa sebagai tanda waktu berbuka. Humor adzan Magrib tampaknya menjadi sarana melepaskan rasa tertekan menahan lapar dan haus.

Di situ tersirat pula usaha menertawakan diri sendiri. Puasa rupanya terasa berat, sehingga orang tak sabar menunggu waktu berbuka. Bahkan, bunyi pukulan atas kasur yang dijemur dikira suara bedug Magrib!

Mungkin pula, humor di atas adalah sejenis protes halus. Bagi sebagian orang, mungkin saja puasa itu tidak hanya berat, tetapi amat berat. Namun, karena hidup di lingkungan kaum Muslim yang rata-rata berpuasa, mereka terpaksa melaksanakannya. Boleh jadi, ketegangan ini melahirkan pernyataan yang maksudnya bertentangan: hormatilah orang-orang yang berpuasa (dan yang tidak berpuasa)!

Namun, jika kita cermati humor tersebut, tampaklah bahwa di situ tersimpan hakikat puasa itu sendiri, yakni usaha melawan hawa nafsu. Bukan main-main, ketika pulang dari perang yang dimenangkan, Nabi bersabda,”Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad yang besar.”

Sahabat bertanya, “Apakah jihad yang besar itu?” Nabi menjawab,”Itulah jihad melawan hawa nafsu.” Puasa adalah latihan melawan nafsu.

Menurut Seyyed Hossein Nasr dalam artikel pendek berjudul “Why Do Muslims Fast?”, puasa mendidik manusia untuk hidup asketis, yakni tidak terikat dengan gemerlap hidup duniawi. Ketika nafsu badaniah dapat dikendalikan, maka muncullah kesadaran tentang ‘Aku’ sejati yang ruhani, ‘Diri’ yang spiritual.  Manusia dapat merasakannya jika ia berpuasa dengan tulus sebagai ketundukan pada perintah Tuhan.

Selain itu, menurut Nasr, manusia sekali-kali memang harus menarik diri dari tuntutan indera dan tubuhnya. Melalui puasa, dia dapat membuat jeda dan jarak dengan tubuhnya itu sehingga lahirlah harmoni antara tubuh dan ruh. Berkat puasa, makanan dan minuman yang selama ini dianggap biasa-biasa saja, benar-benar terasa sebagai nikmat Tuhan tiada tara ketika disantap waktu berbuka tiba.

Selain adzan Magrib, ada pula humor tentang salat tarawih. Tarawih adalah ibadah sunnah, 11 atau 23 rakaat.

Biasanya, di hari-hari pertama Ramadan, jemaah tarawih penuh. Namun, di pertengahan bulan, jumlahnya makin berkurang. Menanggapi hal ini, penceramah kondang (Alm.) Zainuddin MZ menyindir bahwa shaf (barisan) salat tarawih mengalami ‘kemajuan’ (maju ke depan karena di belakang kosong)!

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved