Mereka Bicara

Refleksi Hari Lahir Pancasila Pancasila sebagai Pemersatu

Hari ini tepat 1 Juni merupakan hari lahir Pancasila sesuai dengan Keppres Nomor 24 tahun 2016

Refleksi Hari Lahir Pancasila Pancasila sebagai Pemersatu
Tribunkaltim.co/Arief Zulkifli Selamat Hari Lahir Pancasila
Kumpulan Ucapan selamat hari Lahir Pancasila 1 Juni 2019 

Oleh: Rahmad MPd, Dosen IAIN Palangkaraya

BANJARMASINPOST.CO.ID - Hari ini tepat 1 Juni merupakan hari lahir Pancasila sesuai dengan Keppres Nomor 24 tahun 2016. Pancasila sebagai ideologi Negara telah membuktikan kepada kita bahwa ideologi ini memang menjadi sebuah ideologi yang paling tepat bagi masayarakat majemuk yang sangat besar seperti Indonesia. Pancasila menjadi sebuah jawaban terhadap berbagai tantangan dalam perkembangan bangsa ini.

Tentu kita tidak lupa bagaimana pada awal-awal kemerdekan bangsa, kita telah menghadapi berbagai macam pemberontakan yang sejatinya adalah ingin berpisah dan malah ada yag hendak mengganti ideologi Pancasila. Kita dapat sebut bagaimana pemberontakan PKI pada 1948 di Madiun dan 1965 dibawah pimpnan. D.N. Aidit, DI TII dibawah pimpinan Kartosuwiryo, serta pemberontakan RMS di Maluku dan berbagai pemberontakan lainnya.

Akhir-akhir ini kita tidak dapat pungkiri bahwa sehabis pesta demokrasi serentak yang diadakan di Indonesia. Masyarakat masih cenderung terpolarisasi melalui identitas pendukung para kandidat Presiden. Berbagai hinaan, cacian serta makian bahkan fitnah berseliweran di social media. Hal ini terlihat nyata pada social media kita cenderung lebih dulu sharing ketimbang saring sebuah konten isu yang belum tentu benar. Social media menjadi sebuah area perang maya yang sangat sengit, di mana berbagai perbedaan baik agama, suku dan golongan menjadi begitu vulgar dan menjadi bahan hinaan. Hal ini menjadi sebuah ironi terhadap bangsa ini yang dikenal ramah dan santun.

NIlai-nilai Pancasila

Pancasila memiliki berbagai unsur-unsur seperti; tidak memaksakan suatu agama atau kepercayaannya kepada orang lain (nilai Ketuhanan), mengakui persamaan derajat, persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia (nilai kemanusiaan), Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa yang ber-Bhineka Tunggal Ika (nilai persatuan Indonesia), Mendahulukan kepentingan negara dan masyarakat di atas kepentingan pribadi dan golongan (nilai kerakyatan Pancasila), menghormati dan mengakui hak-hak orang lain (nilai keadilan Pancasila). Nilai-nilai Pancasila telah menjelaskan bagaimana penghargaan terhadap bagaimana peran manusia Indonesia dalam persatuan dan kesatuan bangsa.

Nilai Pancasila tentu harus diterapkan oleh semua masyarakat tanpa terkecuali. Para pemimpin Negara ini juga harus mampu menerapkan nilai-nilai Pancasila, dalam setiap aspek. Bagaimana menjadi pemimpin dalam setiap tingkat yang benar-benar menjadi pemimpin yang Pancasilais, pemimpin yang menghadirkan keadilan bagi rakyatnya, pemimpin yang tidak korupsi, serta pemimpin yang tidak menguntungkan golongannya saja. Selain itu para pemimpin juga menghadapi tantangan yang tidak mudah, seperti kemajuan teknologi dan informasi yang luar biasa pesat. Kemajuan zaman tentu membawa dampak baik positif maupun negatif. Dampak negatif melalui penyebaran informasi yang sedemikian bebas. Dampak negatif tersebut mungkin dapat kita pada isu-isu yang berkembang saat ini.

Muncul pertanyaan bagaimana internalisasi nilai dalam kehidupan sehari-hari. Nilai atau value secara umum didefinisikan sebagai sesuatu hal yang dianggap berharga dalam kehidupan manusia.

Pancasila memiliki nilai fundamental, instrumental dan nilai praksis. Nilai fundamental adalah nilai yang sifatnya mutlak dan harus dilakukan sedangkan nilai instrumental biasanya berupa norma sosial, norma hukum, norma agama dan norma lainnya. Nilai praksis dalam pelaksanaannya merupakan penjabaran nilai dasar Pancasila itu yang tentunya akan selalu berkembang dan menyesuaikan dengan zaman. Nilai Pancasila tentunya berasal dari hasil ide, gagasan dan pikiran yang sifatnya tentu subjektif. Tetapi masyarakat dalam praktiknya telah melakukan dan mencirikan dirinya menjadi masyarakat yang ramah.

Indonesia dengan berbagai potensi besarnya tentu menjadi sebuah rumah besar bagi keberagaman baik itu perbedaaan fisik serta aspek budaya. Negara ini terlalu besar untuk pecah dikarenakan perbedaan paham politik. Kita semua mnyimak dari berita yang tersebar bahwa Aceh dikutip melalui https://www.suara.com Muzakir Manaf yang merupakan mantan panglima Gerakan Aceh Merdeka atau GAM yang saat ini menjadi Ketua Umum Komite Peralihan Aceh (KPA) dan Ketua Umum Dewan Pimpinan Aceh (DPA) Partai Aceh (PA). Beliau juga pernah menjadi wakil gubernur Aceh, menyerukan seruan referendum dalam sambutannya pada peringatan Kesembilan Tahun (3 Juni 2010-3 Juni 2019), wafatnya Muhammad Hasan Ditiro dan buka bersama di Gedung Amel Banda Aceh, pada hari Senin 27 Mei 2019. Suara ini tentu tidak dapat kita anggap remeh. Harus benar-benar diperhatikan Pemerintah kenapa wacana seperti ini muncul.

Kita menyadari bersama bahwa NKRI merupakan suatu bentuk yang tidak dapat diubah-ubah lagi. Indonesia adalah wilayah yang terbentang luas antara Sabang sampai Merauke, adanya ancaman dari KKB atau kalau boleh saya sebut “separatis” Papua tentu tidak akan kita biarkan, dan memang peran penting Pancasila sebagai sebuah ideologi yang menyatukan negara ini harus semakin di perkuat. Semoga dengan peringatan hari lahir Pancasila ini semakin mengokohkan Pancasila sebagai ideologi, falsafah hidup, serta pandangan hidup bagi bangsa ini yang memang sebuah ideologi yang mempersatukan. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved