Ekonomi dan Bisnis

Ekspor Diprediksi Naik Kisaran 5%, Gapki Kalsel: Buka Pasar Baru di Afrika, Timteng & Amerika Latin

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memproyeksikan nilai ekspor produk minyak sawit mentah crude palm oil (CPO) Indonesia

Ekspor Diprediksi Naik Kisaran 5%, Gapki Kalsel: Buka Pasar Baru di Afrika, Timteng & Amerika Latin
kontan
Produksi minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memproyeksikan nilai ekspor produk minyak sawit mentah crude palm oil (CPO) Indonesia akan mengalami penurunan signifikan Walaupun kita lihat tonasenya (volume) meningkat hingga akhir 2019.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Umum Gapki Kalsel, Totok Dewanto menyatakan, pihaknya optimistis volume ekspor bakal tetap alami kenaikan meskipun tidak signifikan.

"Volume ekspor diprediksi tetap naik 5-10 persen, namun pendapatannya bakal menurun dibanding tahun lalu," ucap Totok Dewanto kepada Banjarmasinpost.co.id.

Diungkapkannya, saat ini produksi CPO Kalsel sekitar 1,2 juta ton per tahun. Pangsa pasar utama meliputi China, India, dan Pakistan.

"Kami coba buka dan kembangkan pangsa pasar baru di Afrika, Bangladesh, dan Timur Tengah serta juga akan memasuki Amerika Tengah dan Amerika Latin," paparnya.

Baca: Keluhan Soal Sertifikat Hak Milik Perumahan di Banjarbaru Meningkat, BPKN Sebut Sudah Lakukan Ini

Baca: Ivan Gunawan Komentari Rina Nose yang Akan Menikah, Teman Ayu Ting Ting Dapat Balasan Menohok

Baca: Nasib Ranty Maria Pasca Ammar Zoni Nikahi Irish Bella Diungkap Sosok Ini, Mischa Chandrawinata?

Salah satu negara Amerika Latin, yakni Peru yang berencana menjadi partner negara import bagi CPO Indonesia. Hal ini pun disambut baik Gapki Kalsel, Totok menyebutkan, Peru bakal menjadi pasar potensial produk kelapa sawit Indonesia.

Gapki yang menaungi sekitar 48 perusahaan kelapa sawit di Kalsel, akan mensosialisasikan perihal kerjasama tersebut kepada seluruh anggota.

Dikatakannya, data ekspor Mei 2019 masih dihitung. Ada kecenderungan meningkat, namun dari pendapatannya sangat turun karena harga tertekan akibat kelebihan stok, perang dagang USA-China & isu blokir CPO oleh Uni Eropa 2030.

"Pada saat harga minyak sawit rendah, tentunya akan berpengaruh terhadap pendapatan petani dan perusahaan sawit yang menurun. Saat ini pemerintah sedang mengupayakan kegiatan re-planting untuk meningkatkan produkvitasnya," pungkasnya. (Banjarmasinpost.co.id/Mariana)

Penulis: Mariana
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved