Berita Kabupaten Banjar

Tanah di Desa Rantaubakula Kabupaten Banjar Retak Diduga Dampak Tambang, Begini Kejadiannya

Video berdurasi 30 detik itu menampilkan kondisi tanah retak dan mulai ambles. Retakan tanah juga merambat hingga di bawah rumah salah satu warga sete

Tanah di Desa Rantaubakula Kabupaten Banjar Retak Diduga Dampak Tambang, Begini Kejadiannya
istimewa
RETAKĀ - Beginilah kondisi tanah retak di Desa Rantaubakula, Sungai Pinang Kabupaten Banjar, yang menyebar di media sosial benerapa hari terakhir._wm 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Aktivitas penambangan batu bara di Desa Rantaubakula, Kecamatan Sungaipinang, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel), ditengarai mulai memunculkan persoalan lingkungan. Ini menyusul retaknya lahan hingga ke permukiman warga.

Foto dan video tanah retak itu pun menyebar di sosial media sejak beberapa hari lalu. Di antaranya unggahan salah seorang pemilik akun berinisial FR di Facebook pada Sabtu (10/08/2019).

Video berdurasi 30 detik itu menampilkan kondisi tanah retak dan mulai ambles. Retakan tanah juga merambat hingga di bawah rumah salah satu warga setempat.

Disebutkan, tanah retak (subsiden) itu akibat tambang bawah tanah yang beroperasi di Desa Rantaubakula

Sementara itu sejumlah warga Rantaubakula ketika dihubungi umumnya memilih enggan berkomentar. "Oh, soal tanah retak itu, sudah lama. Datang aja supaya bisa melihat sendiri seperti apa," ucap seorang warga setempat, Rabu (14/08/2019).

Baca: Hotel Bandara Syamsudin Noor Resmi Dibangun, Hotel Bintang Dua Pelayanan Bintang Tiga

Heboh tanah retak tersebut juga telah diketahui aparatur desa dan kecamatan setempat.

"Perlu dipastikan terlebih dulu ke lokasi karena ada kemungkinan retakan tanah dalam video tersebut kejadian yang terjadi dua tahun silam," ucapnya ketika dikonfirmasi, Rabu (14/08/2019).

Ia menuturkan di wilayah Desa Rantaubakula memang ada perizinan penambangan batu bara. Izin terbit sejak era pemerintahan Bupati H Khairul Saleh. Baru pada 2017 lalu kegiatan penambangan mulai dilakukan.

Penambangan tersebut merupakan tambang dalam (bawah tanah). "Secara teknis di mana pun yang namanya tambang dalam memang akan selalu ada retakan tanah di permukaan. Tapi setahu saya itu sudah diantisipasi dan tidak akan menyebabkan persoalan serius, cuma retakan kecil," tandasnya.

Retakan tanah tersebut pun, lanjut Anto, juga telah terjadi sejak 2017 lalu. Pihak penambang pun telah melakukan pembebasan lahan di area yang mengalami keretakan. "Itu sebabnya warga di sekitar lokasi itu tidak ada masalah. Karena itu aneh jika baru sekarang diunggah di media sosial. Apalagi sebagiannya saya lihat foto/video setahun yang lalu," tandasnya.

Baca: BREAKING NEWS - Warga Kompleks BBP Mantuil Banjarmasin Geger Wanita Jadi Mayat dalam Rumah

Halaman
12
Penulis: Idda Royani
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved