Opini

Ibu Kota Baru

Presiden Joko Widodo dalam pidato di depan DPR Jumat (16/8/2019) sudah memastikan ibu kota Republik Indonesia akan pindah ke Pulau Kalimantan

Ibu Kota Baru
dokbpost
H Pramono BS

Oleh: Pramono BS

BANJARMASINPOST.CO.ID - PRO kontra perpindahan ibu kota negara sudah selesai. Presiden Joko Widodo dalam pidato di depan DPR Jumat (16/8/2019) sudah memastikan ibu kota Republik Indonesia akan pindah ke Pulau Kalimantan dan sekaligus minta izin.

Jakarta akan menjadi kota besar dengan peran yang besar di bidang ekonomi tapi tak akan lagi menjadi simbol negara seperti sekarang ini.

Yang belum jelas dan membuat orang bertanya-tanya adalah di kota atau propinsi mana ibu kota baru akan dipilih. Bisa Kalimantan Tengah seperti cita-cita Presiden Soekarno, juga bisa di Kalimantan Timur. Yang selama ini tidak terbayang adalah Kalimantan Selatan yang ternyata masuk nominasi juga.

Masing-masing propinsi punya kelebihan dan kekurangan. Pilihan ini memang rumit karena jangan sampai ibu kota pindah berikut persoalannya, seperti kemacetan, kemiskinan, polusi, kekerasan, kriminalitas, fasilitas hidup dll yang kini sudah mendera Jakarta.

Baca: Si Palui Sudah Diludahi

Baca: Peredaran Narkoba di Sampit Makin Parah, Polisi Tangkap Tiga Pengedar Sabu

Baca: Driver Ojol Ini Bikin Melanie Subono Ingat Perbuatannya 23 Silam, Ternyata Lakukan Ini

Pilihan Kalimantan juga realistis karena berada di tengah hamparan wilayah negara dari Sabang sampai Merauke. Jadi bukan karena semua propinsi di pulau ini memenangkan Jokowi/Ma’ruf Amin kecuali Kalimanten Selatan. Jangan-jangan malah Kalsel yang dipilih, pemikiran Jokowi itu tidak bisa ditebak.

Contohnya, saat semua orang berharap MPR dikembalikan fungsinya sebagai lembaga negara tertinggi yang tugasnya antara lain membuat GBHN (Garis-garis Besar Haluan Negara) seperti masa lalu, Jokowi justru menolak GBHN.

Alasannya, kemajuan terus berkembang dan dunia terus bergerak sehingga tak cocok dengan model GBHN seperti zaman dulu. Nah, entah lah apa lagi yang akan dikerjakan MPR setelah GBHN yang “digadang-gadang” menjadi produk keramat mentah dalam sidang umum. Jokowi bekerja dengan target.

Kembali ke Jakarta, kota ini sudah stagnan, tak bisa lagi dikembangkan karena kepadatan penduduknya sudah melampaui ambang batas.

Daerah-daerah penyangganya seperti Bekasi, Tangerang dan Bogor juga mengalami kompleksitas yang tak kalah berat dari Jakarta. Jakarta kini sudah menjadi kota yang teramat komplek, mulai Presiden sampai preman tinggal di Jakarta.

Halaman
12
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved