Berita HSS

Kayu Ulin Kian Mahal, Penggunaan Atap Sirap Kian Ditinggalkan

Seiring mahalnya harga kayu ulin, sirap tak lagi digunakan masyarakat sebagai atap untuk rumah.

Kayu Ulin Kian Mahal, Penggunaan Atap Sirap Kian Ditinggalkan
banjarmasinpost.co.id/hanani
Atap sirap memperindah penampilan atap masjid Asu’ada di Desa Wasah Hilir Kecamatan Simpur, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Pasca direhab, masjid tua dengan arsitek yang indah tersebut tetap mempertahankan bahan bangunan seperti aslinya, antara lain atap sirap . 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN- Tradisi menggunakan atap sirap sebagai atap rumah di kalangan masyarakat hulu sungai kian ditinggalkan.

Seiring mahalnya harga kayu ulin, sirap yang berbahan kayu ulin dan dibuat menjadi kepingan tipis tersebut tak lagi digunakan masyarakat sebagai atap untuk rumah. 

Padahal, zaman dulu sirap merupakan bahan utama yang digunakan masyarakat, termasuk masyarakat  Hulu Sungai Selatan

 H Abdurrahman, pemilik usaha bahan bangunan sekaligus usaha pengolahan kayu kepada banjarmasinpost.co.id, beberapa waktu lalu menuturkan, lebih 10 tahun, tak lagi menjual  sirap.

Baca: Cara Live Streaming ESPN + : Jadwal Khabib Nurmagomedov vs Dustin Poirier di UFC 242

Baca: Daun Sapat Bakal Dilarang, Begini Reaksi Perajin Teh Kratom di Tabalong

Baca: Melaney Ricardo Sebut Elza Syarief Miliki Ban Karate Saat Ditanya Kesan Bertemu Nikita Mirzani

Baca: Amalan Nabi Muhammad SAW di Bulan Muharram, Anjuran Rasulullah dan Keistimewaan Tahun Baru Islam

Selain pasokan dari perajin jarang ada, juga harganya kian mahal.

“Dulu saya memang menjual sirap, sekarang tidak lagi. Masyarakat lebih pilih bahan sejenis seng yang harganya lebih terjangkau,”ungkap pria asal Nagara yang puluhan tahun menggeluti usaha kayu di Jalan Baluti, Kandangan.

 Dijelaskan, sirap dijual dengan hitungan pak, dimana satu pak terdiri 50 sampai 100 keping.  Sirap kebanyakan dipasok dari Kalimantan Timur, Samarinda.

“Sekarang harga satu paknya ratusan ribu, karena kayu ulin sendiri kian mahal harganya,”ungkap

Abdurrahman. Meski kian ditinggalkan, bukan berarti masyarakat tak menyukai bahan bangunan tradisional tersebut.

 Ida, warga Tibung Raya menyatakan lebih menyukai atap sirap ketimbang bahan modern. Selain alasan lebih bernilai seni dan etnik, juga bisa membuat rumah makin dingin.

“Berbeda dengan jenis bahan seng, kalau cuaca panas dalam rumah pun sangat panas. Bahkan, jika hujan menimbulkan bunyi berisik. Kalau atap sirap, tetap dingin dan tak berisik saat hujan,”kata Ida yang mempertahankan atap sirap rumahnya sampai sekarang.

 Menurutnya, daya tahan sirap juga cukup kuat puluhan tahun. Sayang, tak ada lagi penjual atap sirap di HSS, sehingga jika ingin menggunakan bahan tersebut, terpaksa di datangkan dari luar daerah.

“Setahu saya saat rehab masjid As Su’ada di Wasah Hilir  Kecamatan Simpur, pemerintah tetap menggunakan atap sirap. Informasinya didatangkan dari Samarinda,”ungkap salah satu aparat Desa Wasah Hilir.

Baca: Semifinal Elite Pro Academy, Barito Putera U-20 Hadapi Persija, Persipura dan PSIS Semarang

Baca: Ditanya Soal Kepastian Hubungan, Pria Ini Malah Emosi dan Pukul Tunangannya

Baca: Ini beberapa dari 20 jargon yang akan melekat pada kota Banjarmasin

 Menurut warga setempat, untuk memasang atap sirap diperlukan tukang khusus. Sampai sekarang, masih banyak tukang bangunan yang punya keahlian memasang atap sirap tersebut.

Namun, hampir tak ada lagi yang menggunakannya, kecuali bangunan masjid As Su’ada atau masjid baangkat yang direhab beberapa tahun lalu, dengan tetap mempertahankan bahan bangunan sesuai aslinya, yaitu kayu ulin dan atap sirap. (banjarmasinpost.co.id/hanani)

Penulis: Hanani
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved