Fikrah

Aktivitas Seorang Muslim dalam Kesehariannya

UMAT Islam di Indonesia adalah mayoritas; (Muslim 87 persen, Protestan 7 pesen, Katolik 3 persen, Hindu 1,7 persen, Buddha 0,7 persen,

Aktivitas Seorang Muslim dalam Kesehariannya
banjarmasinpost.co.id/rahmadhani
KH Husin Naparin 

Oleh: KH Husin Naparin, Ketua Umum MUI Prov Kalsel

BANJARMASINPOST.CO.ID - UMAT Islam di Indonesia adalah mayoritas; (Muslim 87 persen, Protestan 7 pesen, Katolik 3 persen, Hindu 1,7 persen, Buddha 0,7 persen, Konghucu 0.05 persen, dan lainnya 0,45 persen persen). Banyak di antara umat Islam yang tidak tahu, apa yang seharusnya dilakukan dalam kesehariannya sehingga hidup tidak menampilkan keislamannya.

Imam Al-Gazali dalam kitabnya Bidayatul-Hidayah menerangkan, bahwa aktivitas seorang muslim dalam kesehariannya, pertama, melaksanakan ibadah fardhu salat lima waktu; kedua, memenuhi keperluan pribadi secara islami berupa makan dan minum, berpakaian, tidur dan istirahat termasuk hubungan suami istri.

Kemudian setelah itu, melakukan empat perkara, yaitu Pertama, menuntut ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang dapat menambah makrifat (pengenalan) kepada Allah SWT, menggiatkan ibadah kepada-Nya, menyadarkan akan keaiban diri, dan mengurangi keterkaitan dengan dunia dan lebih mementingkan akhirat.

Ada ilmu fardhu ain, yang harus dituntut oleh setiap muslim berupa Fiqh, Tauhid dan Akhlak; kemudian ilmu fardhu kifayah yang harus dituntut oleh sebagian umat Islam, berupa ilmu-ilmu umum seperti pemerintahan, perdagangan, pertukangan dan ilmu-ilmu kehidupan duniawi.

Kedua, melakukan dzikrullah melalui doa, istigfar, salawat, menyebut-nyebut Asma al-Husna, membaca Alquran dengan tadabbur, mendirikan salat-salat sunat antara lain dhuha di waktu pagi, tahajud dan witir di waktu malam.

Ketiga, melakukan amal saleh, yaitu kebaikan bagi sesama muslim khususnya dan makhluk Allah SWT lainnya, yaitu hewan, tumbuh-tumbuhan dan benda-benda mati. Jika tidak mampu berbuat kebaikan, maka jangan berbuat kerusakan, waa laa tufsiduu fil-ardhi ba’da um, jangan kalian berbuat kerusakan di muka bumi setelah (diciptakan) dengan baik. (QS.7/56).

Keempat, bekerja untuk mencari rezeki yang halal, sehingga nantinya bernilai ibadah di sisi Allah SWT. (Syekh Nawawi al-Bantani, Syarh Muraqy al-Ubudiyyah ala al-Bidayah al-Hidayah, hal 12).

Mencari rezeki akan bernilai ibadah jika:

1. Pekerjaan yang dilakoni tidak bertentangan dengan Syariat Islam, seperti bertani, berdagang, bertukang, mengambil upah, menjadi karyawan, pegawai, buruh, pegawai negeri atau swasta dan lain sebagainya. Yang bertentangan dengan syariat, seperti mencuri dan menipu.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved