Fikrah

Program Ibadah Seorang Muslim

SEBAGAI seorang muslim, banyak diantara kita tidak tahu ibadah apa yang harus dilakukan dalam keseharian; waktu-waktu pun berlalu sia-sia

Kaltrabu
KH Husin Naparin 

Program Ibadah Seorang Muslim

Oleh: KH Husin Naparin

BANJARMASINPOST.CO.ID - SEBAGAI seorang muslim, banyak diantara kita tidak tahu ibadah apa yang harus dilakukan dalam keseharian; waktu-waktu pun berlalu sia-sia. Syekh Sa’id Hawwa dalam bukunya Tarbiyatuna Ar-Ruhiyyah, memaparkan dalam keseharian seorang muslim hendaklah melakukan lima perkara: salat lima waktu, beristigfar, bersalawat, membaca Alquran dan berdoa.

Salat lima waktu, idealnya didirikan di awal waktu, berjemaah dan di rumah Allah (masjid). Nabi SAW bersabda, ash-shalaatu ‘imaaduddiin, faman aqaamahaa faqad aqaamaddiin, wan tarakahaa faqad hadamaddiin, salat (fardhu lima waktu) adalah tiang agama, siapa yang mendirikannya, sungguh dia telah mendirikan agamanya; dan siapa yang meninggalkannya, sungguh dia telah merobohkan agamanya. (HR Bukhari).

Salat fardu dianjurkan agar dilengkapi salat-sunat. Di hari kiamat, salat seseorang diperiksa, jika sempurna maka sempurnalah amal-amal lainnya, jika kurang sempurna maka Allah SWT menyuruh malaikat untuk melihat, adakah ia melaksanakan salat sunat. Jika ada, maka disempurnakan kekurangannya dengannya; jika tidak, maka bolonglah salatnya. (HR Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).

Beristigfar tujuh puluh sampai seratus kali dalam sehari, Nabi SAW bersabda, Wa inni la’astagfirullaaha wa atuubu ilaihi sab’iina ilaa mi’ati marratin. (HR Ahmad dan An-Nasa’i), Beliau bersabda pula, Innallaaha yabsuthu yadahu billaili liyatuuba musii’an-nahaari, wayabsuthu yadahu bin-nahaari liyatuubba musii’al-laili hatta tathlu’asy-syamsu min magribihaa.

Sesungguhnya Allah menghamparkan tangan-Nya (ampunan-Nya) di malam hari untuk mengampuni mereka yang berdosa di waktu siang, dan menghamparkan tangan-Nya (ampunan-Nya) di siang hari untuk mengampuni mereka yang berdosa di waktu malam sampai matahari terbit dari tempat tenggelamnya (kiamat). (HR.Muslim).

Allah SWT tidak peduli, selama manusia mau bertaubat, Dia tetap mengampuni mereka, kendati dosa menumpuk setinggi awan atau sebanyak isi bumi. (HR. Tirmidzi).

Disyaratkan pemohon ampun mengiringi istigfarnya dengan taubat; yaitu: iqla’ (meninggalkan kemaksiatan), nadam (ada rasa penyesalan yang luar biasa) dan azam (tekad untuk tidak mengulangi kembali).

Bertaubat paling baik di waktu sahur, merupakan amalan ahli surga, kaanuu qaliilan minallaili maa yahja’uun wa bil’ashaari hum yastagfiruun, di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar. (QS 51 /18).

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved