Tajuk

Keluhkan Lapangan

BEBERAPA hari terakhir, kondisi lapangan Stadion Demang Lehman (SDL) di Martapura, Kabupaten Banjar, menjadi sorotan

Keluhkan Lapangan
banjarmasinpost.co.id/nia kurniawan
KONDISI Stadion Demang Lehman pada awal 2020 bakal ditutup sementara karena akan dilakukan pemeliharaan. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BEBERAPA hari terakhir, kondisi lapangan Stadion Demang Lehman (SDL) di Martapura, Kabupaten Banjar, menjadi sorotan atau tepatnya sasaran keluhan. Mulai dari pelatih sepak bola kawakan Djajang Nurjaman alias Djanur, hingga pemain timnas sekelas Evan Dimas.

Djanur yang menangani klub Barito Putera menyebut kondisi rumput yang kering membuat permukaan lapangan jadi keras dan tidak rata. Hal itu membuat pemain Barito tidak bisa mulus memainkan bola dari kaki ke kaki. Bahkan penggawa Laskar Antasari telah merasakan tiga kekalahan menyakitkan di markas sementara tersebut. Masing-masing 2-4 versus PS Tira-Persikabo, 0-4 kontra Persipura Jayapura dan 1-4 lawan Bhayangkara FC.

Pemain Timnas Indonesia, Evan Dimas mengeluhkan hal serupa. Dia mengatakan kondisi lapangan yang keras sangat menyulitkan. Bola sulit dikontrol dan itu sangat mempengaruhi permainan tim. Asisten pelatih Barito Putera, Yunan Helmi, menyebut hal itu juga karena sistem penyiraman lapangan yang kurang baik.

Tak hanya dari kubu Barito. Tim tamu juga pernah menyoal hal itu. Pelatih Persela Lamongan,

Nil Maizar, mengatakan kondisi rumput SDL sedikit kurang rata. Rumputnya tidak terlalu datar.

Sejauh ini, pihak pengelola SDL belum memberikan tanggapan secara resmi.

Namun sekadar diketahui, sebelum Barito Putera menyewa sebagai homebase sementara karena Stadion 17 Mei Banjarmasin akan direnovasi, stadion milik Pemkab Banjar tersebut, memang tidak begitu terawat. Pihak Barito sampai turun tangan melakukan beberapa perbaikan dan pembenahan agar lulus verifikasi untuk kompetisi Liga 1 Indonesia 2019.

Namun terkait kondisi lapangan, entah saat itu belum sempat dibenahi sepenuhnya lantaran mepetnya waktu menjelang bergulirnya kompetisi atau terlewat, sejatinya ada faktor lain yang memengaruhi.

Di antaranya intensitas pemakaian. Sekadar diketahui, selain Martapura FC dan Barito Putera. SDL juga digunakan tim junior Barito Putera. Masing-masing U-16, U-18 dan U-20. Ada kalanya jadwal pertandingan tim-tim tersebut hanya berselang sehari. Hal ini tentu membuat pihak pengelola SDL cukup sulit melakukan perawatan secara ideal. Penyebab lainnya adalah faktor cuaca. Pendapat ini disampaikan pelatih Martapuar FC, Frans Sinatra Huwae. Menurut dia, kemarau panjang membuat air untuk penyiraman rumput lapangan jadi terbatas.

Di luar persoalan dan kendala di atas, ada baiknya pihak Pemkab Banjar serius merespons keluhan ini. Andai tak punya sumber pendanaan untuk melakukan pembenahan, bisa dicarikan jalan lain untuk mengatasinya. Pihak ketiga, terutama perusahaan yang beroperasi di kabupaten tersebut bisa dimintakan partisipasinya. Saat ini beberapa juga menjadi sponsor Martapura FC.

Selain itu, mumpung tahun depan diadakan pemilihan bupati dan wakil bupati setempat, semoga ada pasangan calon yang tergerak untuk membenahi SDL dan bukan sekadar janji kampanye. Soalnya saat ini, itulah stadion terbaik yang ada di Banua. Ironi sekali di wilayah yang kaya batu bara, tak ada stadion bertaraf nasional apalagi internasional. Masa kita selamanya tertinggal oleh provinsi tetangga yang belum lama ini diputuskan jadi ibu kota baru Indonesia. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved