Tajuk

Kabut Asap Belum Usai

KABUT asap masih menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan. Kabut pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) itu tentu sangat

Kabut Asap Belum Usai
Dari Satgas Karhutla BPBD Kalsel untuk BPost
Kabut asap selimuti Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin dan mengganggu penerbangan 

BANJARMASINPOST.CO.ID - KABUT asap masih menyelimuti sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan. Kabut pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) itu tentu sangat mengganggu aktivitas warga.

Berbagai upaya yang melibatkan banyak elemen, seperti pemerintah, TNI, Polri, dan masyarakat memang sudah dilakukan untuk mengatasi kabut asap. Namun sepertinya upaya ini belum optimal. Titik panas atau hotspot masih banyak, bahkan data terakhir mencapai ratusan.

Titik-titik panas itu ternyata bukan hanya dari kebakaran hutan yang tidak disengaja, tapi ada pula yang dilakukan secara sengaja oleh oknum-oknum masyarakat.

Hal ini memang menjadi dilema. Sebab bagi sebagian petani, membakar lahan adalah solusi praktis dan cepat untuk membersihkan lahan sebelum musim tanam. Meskipun ada ancaman hukuman bagi pelaku Karhutla, namun tidak membuat jera.

Kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran atau pembiaran lahan terbakar tampaknya harus terus ditingkatkan, tidak hanya melalui channel resmi seperti melalui penyuluhan di kelurahan bahkan di tingkat RT, tapi juga di sekolah dan di tempat ibadah.

Tentu akan sangat ironis, saat petugas pemadam dari Satgas Karhutla berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan, namun masyarakat sekitar justru hanya menjadi penonton.

Lebih parah, mereka justru menghalangi petugas yang akan memadamkan api. Seperti dialami petugas saat memadamkan kebakaran lahan di wilayah Pemangkih, Kabupaten Banjar beberapa waktu lalu. Petugas justru dihalangi petani pemilik lahan, karena mereka sengaja membakar lahan untuk persiapan musim tanam.

Padahal dampak dan bahaya Karhutla sangat nyata. Tidak hanya menimbulkan kabut asap yang berdampak pada kesehatan warga dan terganggunya penerbangan serta layanan publik lainnya, hal ini juga berpotensi menghilangkan harta benda.

Hal itu sudah terbukti, saat Karhutla merembet ke permukiman seperti terjadi pada sejumlah rumah warga di Desa Malintang RT01, Kecamatan Gambut, Banjar belum lama ini. Ini karena abu api Karhutla jatuh di kawasan permukiman terdekat.

Terlebih yang patut dipertimbangkan, saat persoalan kabut asap belum teratasi, saat ini status darurat Karhutla telah diturunkan menjadi siaga Karhutla. Dan, status siaga Karhutla sendiri berakhir pada 31 Oktober 2019 ini.

Sementara jumlah hotspot atau titik panas akibat kebakaran lahan masih banyak, hingga ratusan titik. Semoga dengan kesadaran yang meningkat, bisa membantu mengurangi terjadinya kasus Karhutla dan bencana kabut asap bisa benar-benar teratasi. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved