Tejuk

Belajar Kelola Hutan

HARI ini, Jumat 15 November 2019, rombongan Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan berangkat ke Finlandia.

Editor: Didik Triomarsidi
banjarmasinpost.co.id/man hidayat
wisata Puncak Hutan Meranti 

BANJARMASINPOST.CO.ID - HARI ini, Jumat 15 November 2019, rombongan Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan berangkat ke Finlandia. Di negara yang terletak di Benua Eropa bagian utara itu, Kadishut Kalsel Hanif Faisol Nurofiq dan rombongan akan belajar bagaimana mengelola hutan selama sekitar 10 hari.

Mendengar rencana tersebut, hal pertama muncul dalam pikiran adalah mengapa ke Finlandia. Itu karena hutan di Finlandia tidak sama dengan hutan di Kalimantan. Mengapa tidak belajar ke Brasil yang juga memiliki hutan tropis? Seperti juga Kalimantan, negara di Benua Amerika ini juga terkenal menjadi paru-paru dunia.

Maaf, pikiran negatif pun muncul, yakni mungkin mereka ingin jalan-jalan ke Benua Biru yang terkenal indah tersebut.

Ternyata yang ingin dipelajari wakil rakyat yang mengikutkan dosen Fakultas Kehutanan ULM itu adalah cara mengelola hutan. Memang kita sangat lemah dalam pengelolaan hutan. Kita hanya tahu babat dan potong. Tak peduli hutan menjadi gundul. Inilah yang terjadi di Kalsel.

Dikatakan, hutan di Finladia tetap lestari kendati ditebangi untuk diproduksi karena dikelola oleh para pemilik hak atas lahan tersebut. Ini sepertinya mirip dengan Hak Pengelolaan Hutan (HPH) di Indonesia. Pertanyaannya mengapa hutan di Indonesia malah gundul. Itu karena HPH itu lebih pada hak penggundulan hutan. Belakangan muncul Hutan Tanaman Industri (HTI).

Namun ternyata lahan HTI yang diberikan masih berupa hutan. Pohonnya pun dibabat dan masuk pabrik. Bagaimana dengan penanaman pohon produksi? Penanaman hanya dilakukan di tepian jalan sehingga saat dikontrol terlihat program ini berjalan dengan baik. Apakah pihak berwenang dalam hal ini kehutanan tidak tahu? Jawabannya adalah tahu sama tahu.

Kita di Indonesia ini memang kerap salah mengambil posisi. Namanya kementerian atau dinas ketenagakerjaan, tapi lebih banyak berdiri di samping pengusaha. Tidak heran jika buruh kerap mendemo instansi ini. Demikian pula mereka yang bertugas di bagian lingkungan hidup.

Di sinilah pentingnya komitmen. Mereka yang bertugas di dinas kehutanan harus komit menjaga kelestarian hutan.

Oleh karena banyak hutan di Kalsel telah gundul maka yang harus dilakukan pertama adalah menumbuhkan kembali. Agar semangat ini tumbuh mengapa kita tidak ubah saja nama dinas kehutanan menjadi dinas reboisasi sehingga pekerjaanya jelas.

Belajar dari Finlandia, bagikan lahan-lahan gundul itu kepada masyarakat untuk ditanami kembali. Bantu mereka mengelola hingga bisa mengambil manfaatnya. Selamat belajar. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved