Jendela

Kearifan Desember

Setiap kali Desember tiba, ada desakan dalam jiwa untuk kembali merenungi hidup yang sudah dijalani.

Editor: Hari Widodo
BPost Cetak
BPost Edisi Senin (9/12/2019) 

Oleh: Mujiburrahman, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - Seminggu sudah Desember berlalu. Hujan mulai membasuh bumi, setelah cukup lama dibakar kemarau panjang. Setiap kali Desember tiba, ada desakan dalam jiwa untuk kembali merenungi hidup yang sudah dijalani. Usia makin menua dan tak lama lagi tahun akan berganti.

Dalam rangka merenung itu, saya membaca karya filosof Jerman, Arthur Schopenhauer (1788-1860) berjudul Kearifan Hidup, terjemahan Indonesia dari The Wisdom of Life.

Meskipun buku ini tipis, masalah yang diangkat sangat serius, yaitu filsafat kebahagiaan. Schopenhauer menganalisis hakikat bahagia-derita manusia dari sudut pandang khas sambil tetap merujuk kepada para filosof Yunani.

Menurut Schopenhauer, ada tiga hal yang mempengaruhi kebahagiaan manusia, yaitu jatidirinya sendiri secara jasmani dan ruhani, harta benda yang dimilikinya, dan derajatnya di mata manusia lain.

Diselundupkan di Garuda, Ini Istimewanya Sepeda Brompton Hingga Harganya Sampai Rp 60 Juta

Diduga Dibunuh, TKI Asal Trenggalek Ini Ditemukan Tewas di Perkebunan Sawit Serawak Malaysia

Usianya Baru 10 Tahun, Namun Atlet Termuda Indonesia Kyandra Susanto Raih Medali SEA Games 2019

Fakta Kemewahan Ari Askhara, Rumah Paling Mewah di Bali, Tapi Kalau Pulang Nginepnya di Hotel

Di antara tiga hal ini, katanya, yang paling utama dan menentukan adalah jatidiri manusia itu sendiri, sedangkan kekayaan dan kedudukan, reputasi dan ketenaran tidaklah utama karena berada di luar dirinya.

Karena itu, kualitas jatidiri kita, keadaan jasmani dan ruhani kita, sangatlah penting. Kesehatan tubuh adalah syarat penting bagi kebahagiaan. Percuma saja kaya dan terkenal jika badan sakit. Kualitas ruhani tentu lebih penting.

Cara kita menanggapi hal-hal yang terjadi di luar diri kita dengan sabar atau marah, rela atau dendam, syukur atau mengeluh, dan seterusnya akan sangat menentukan bahagia-derita kita.

Dengan demikian, bahagia itu subjektif sekaligus objektif. Bahagia itu subjektif karena tergantung cara kita menata hati menyikapi hidup.

Hal ini membuat kebahagiaan itu terbuka bagi semua orang, terlepas dari jumlah kekayaan yang dimilikinya atau ketenaran yang diraihnya. Namun, bahagia juga objektif karena orang yang bisa bersikap positif adalah orang yang mampu melihat hidup secara apa adanya.

Menurut Schopenhauer, lawan utama kebahagiaan adalah penderitaan dan kebosanan. Penderitaan fisik jelas mengganggu kebahagiaan, apalagi penderitaan batin.

Hal ini sudah dimaklumi banyak orang. Yang sering luput dari perhatian orang adalah kebosanan.

Banyak orang sukses merasa bosan dengan hidupnya, lalu menghabiskan uang dan waktunya untuk bersenang-senang dan hiburan tak bermakna.

Menurut filosof ini, kebanyakan orang yang dilanda kebosanan adalah orang-orang terdidik dan makmur secara ekonomi, tetapi pikiran mereka picik.

Pikiran mereka terbatas pada kebutuhan hidup praktis, kesenangan jasmani dan kedudukan di masyarakat tanpa mampu melihat keluasan dan kedalaman arti hidup.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved