Jendela
Kearifan Desember
Setiap kali Desember tiba, ada desakan dalam jiwa untuk kembali merenungi hidup yang sudah dijalani.
Mereka ini jumlahnya banyak, dan biasanya suka berteman dengan orang-orang serupa.
Sebaliknya, kata Schopenhauer, orang yang berpikir mendalam dan melihat hidup secara menyeluruh cenderung tidak suka banyak teman karena memang tidak banyak orang yang berpikir seperti dirinya.
Karena kediriannya begitu kuat, kebahagiaannya juga kokoh, dia tidak banyak tergantung pada unsur luar. Dia adalah sosok perenung, reflektif, yang penuh kearifan. Di sini kebahagiaan makin subjektif.
Namun, “manusia yang diberkahi kekayaan intelektual adalah manusia yang paling bahagia sekaligus paling gelisah,” kata Schopenhauer.
Dia bahagia karena berkat kearifannya ia manjadi manusia yang sangat mandiri tetapi juga gelisah karena menyaksikan kedunguan manusia dan sangat ingin mengubah kenyataan pahit itu. Mungkin, sosok yang dibayangkannya di sini adalah para Nabi dan para filosof.
Di antara kedunguan manusia yang paling umum dan nyata adalah ambisinya yang menyala-nyala untuk menumpuk kekayaan.
Bahkan, demi meraih harta, banyak orang yang rela mengorbankan kesehatannya dan meruntuhkan moralnya. Padahal, kesehatan dan moral terletak dalam jatidiri manusia dan menjadi modal utama kebahagiaannya. Apalagi, memelihara harta menuntut kecemasan yang tak terhindarkan.
Kedunguan manusia yang kedua adalah gila penghormatan dan ketenaran. Intinya, dia menjadi budak pandangan orang lain terhadap dirinya. Inilah orang bodoh yang meletakkan kebahagiaan pada sesuatu di luar dirinya, yang tak bisa dikendalikannya.
• Ditolak dan Diberhentikan Secara Paksa, Kucumbu Tubuh Indahku Jadi Film Terbaik FFI 2019
• Mengenal 15 Orang Terkaya Indonesia Tahun 2019, dari Bos Djarum hingga Bos Sampoerna
• Inilah Koleksi Mobil Mewah Ari Askhara, Dirut Garuda yang Dicopot karena Selundupkan Harley Davidson
Seolah hanya orang lain yang benar-benar ada, sedangkan dirinya sendiri semu belaka. Padahal, penilaian orang lain seringkali salah, palsu dan pura-pura.
Alhasil, kebahagiaan bagi Schopenhauer memang lebih ditekankan pada kedalaman pikiran ketimbang tindakan, kesendirian ketimbang kebersamaan, kekuatan pribadi ketimbang bersandar pada Tuhan.
Namun, kritiknya akan kedunguan manusia yang gila akan kekayaaan, jabatan, ketenaran dan pujian orang lain sungguh terasa amat relevan di era media sosial abad ke-21 ini, bukan? (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/bpost-edisi-senin-9122019.jpg)