Fikrah

Karamput atau Dusta

Karamput (bah.Banjar), Indonesianya bohong/dusta. Bagi orang Banjar kata “karamput” dan “pangaramput” lebih menusuk perasaan dari kata bohong

Karamput atau Dusta
istimewa
KH Husin Nafarin LC Ketua MUI Kalsel 

Oleh: KH Husin Naparin, Lc. MA

BANJARMASINPOST.CO.ID - Karamput (bah.Banjar), Indonesianya bohong/dusta. Bagi orang Banjar kata “karamput” dan “pangaramput” lebih menusuk perasaan dari kata bohong. Pangaramput lebih jahat dari pendusta/pembohong. Orang Betawi mengatakan bohong “ngibul,” pelakunya dipanggil “tukang-kibul.”

Harian Pos Kota, Jakarta (4/1/2020) menulis: Seorang bocah bercerita kepada kawan-kawannya, “Ada orang jatuh dari lantai sepuluh apartemen, nggak mati. Dia hanya luka lecet sedikit. Bahkan begitu dia jatuh, langsung bisa jalan.” Kawan-kawannya yang mendengarkan berteriak serentak “ngibul, luh, bohong, bohong, bohong, ngaku luh?” Si bocah yang berbohong tertawa terbahak-bahak, puas mengerjai kawan-kawannya, walaupun kepalanya digebuki. Ini biasa di lingkungan anak-anak, besok cerita lagi yang lebih seru. Di Barat, setiap 1 April, orang boleh berbohong, disebut April Move. Kebiasaan ini ditiru oleh muda-mudi muslim tanpa sadar, meniru tradisi non-muslim, “man tasyabbaha biqaumin fahuwa minhum, Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia digolongkan sebagai kaum tersebut. (HR. Abu Daud). Ini penulis jumpai di Mesir.

Bohong/dusta hukumnya haram, kecuali darurat atau hajat seperti seorang perempuan hendak diperkosa penjahat, ia menangis dan mengatakan sedang haid. Seorang pegawai mengaku dirampok di perjalanan ketika membawa uang gaji karyawan sebuah perusahaan. Ia rela mukanya dibikin lebam-lebam seperti sudah babak belur, ia bersekongkol dengan pengawalnya. Zaman now, penipuan berjamaah terjadi di kalangan petinggi bangsa (anggota DPR atau pegawai/pejabat) pusat/daerah menjadi rahasia umum, buktinya korupsi merebak di mana-mana. Tentu tidak semua, yang jujur jauh lebih banyak. Mudah-mudahan mendatang tidak lagi demikian.

Dalam kondisi kepepet bisa digunakan “ma’aridh”atau “tauriyah” tanpa terjerumus ke jurang kebohongan. Ketika Nabi Ibrahim a.s. bersama isterinya Sarah melewati sebuah negeri yang dipimpin penguasa lalim yang biasa merampas perempuan cantik dan membunuh suaminya, beliau ditanya, “siapa perempuan ini ?” Nabi Ibrahim membuat jawaban ambigu (kata bersayap), “saudaraku,” bisa berarti saudara kandung dan bisa berarti saudara seagama. Ibrahim a.s mengambil arti saudara seagama sehingga tidak bohong, Mendengar jawaban itu, istrinya jadi tidak dirampas

Banjarmasin Post edisi Jumat (24/1/2020).
Banjarmasin Post edisi Jumat (24/1/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Dibolehkan berbuat bohong untuk kemaslahatan atau menghindari bahaya yang lebih besar. “Laisal-kazddzaabu alladzii yashluhu bainannaasi fayanmii khairan aw yaquulu khairan.” Bukan seorang pendusta, orang berbohong untuk mendamaikan antar sesama manusia. Dia menumbuhkan kebaikan atau mengatakan kebaikan.”(HR. Bukhari-Muslim).

Wa lam asma’ahu yurakh-khishu fi syai’in mimmaa yaquulun-naasu illaa fi tsalaatsin, ta’anii al-harbu, wal-ishlaahu bainannaasi, wa hadisturrajuli imra’atahu wa hadistul-mar’ati zaujaha. Belum pernah aku dengar bohong yang diringankan kecuali tiga hal, perang, mendamaikan antar sesama, dan suami berbohong kepada isterinya dan sebaliknya.”(HR. Muslim). Bohong dalam perang dibenarkan untuk mengelabui musuh; mendamaikan orang berselisih dibenarkan agar mereka tidak bermusuhan, antara suami-isteri dibenarkan untuk melestarikan kasih-sayang sehingga suami/isteri tersanjung, bukan untuk lari dari tanggung-jawab. Nabi Sulaiman a.s tersenyum mendengar perkataan seekor merpati jantan kepada betinanya, bahwa ia akan membuatkan sarang (istana) di atas puncak gunung. Itu bohong si jantan kepada betinanya, keduanya tidak mungkin terbang sampai ke puncak gunung itu. Sang betina terhibur kendati, keduanya juga sadar tidak akan mampu terbang sampai kesana.

Di dunia pembohong bisa bergembira-ria menikmati hasil kebohongannya, nanti akan terbongkar di akhirat pada Pengadilan Rabbun-Jalil. Keadilan tegak, tak ada suap dan sogok.

Sebelum meninggal pembohong hendaklah mengembalikan hak pihak lain; hak negara dikembalikan kepada negara, hak rakyat dikembalikan kepada rakyat. Jika tidak, semua kebaikan para pembohong akan diambil oleh pemiliknya yang berhak. Sang pembohong menjadi bangkrut. Nabi SAW menanya para sahabat, “Atadruuna manil-muflis. Tahukah kalian, siapakah orang bangkrut?” Mereka menjawab, “Almuflisu man laa dirhama wa laa mataa’: Orang bangkrut ialah orang tadinya kaya kemudian jatuh miskin.” Beliaupun menerangkan, “Almuflisu min ummati ya’tii yaumal-qiyaamati bishalaatin washiyaamin wazakaatin, waya’tii qad syatama haadzaa waqdzafa haadzaa waakala maala haadzaa wasafaka dama haazdaa wadharaba haadzaa, fayu’thaa haadzaa min hasanaatihi wahaazda min hasanaatih. Fa in faniyat hasanaatuhu qabla an-yuqdha maa alaihi ukhidza min khathaayaahum fathurihat aaihi tsumma thuriha fin-naar. Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku, di hari kiamat datang membawa pahala shalat, puasa dan zakatnya. Dahulu mereka mencaci, menuduh, memakan harta orang lain dan memukulnya. Semua kebaikannya diberikan kepada semua orang itu, jika belum cukup, maka diambil dosa-dosa orang yang disalahinya dan dipikulkan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke neraka. (HR. Muslim. No.2584). Na’udzubillah. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved