Fikrah

Aku Sudah Melihat Tuhan, Kendati Mataku Buta

PA Juferi, seorang penduduk Jakarta pulang kampung dengan mobilnya ke Jawa Timur. Dalam perjalanannya, ia singgah di sebuah kota dan menginap di sebua

Aku Sudah Melihat Tuhan, Kendati Mataku Buta
Net
KH Husin Naparin 

Oleh: KH. Husin Naparin, Lc. MA

BANJARMASINPOST.CO.ID - PA Juferi, seorang penduduk Jakarta pulang kampung dengan mobilnya ke Jawa Timur. Dalam perjalanannya, ia singgah di sebuah kota dan menginap di sebuah hotel. Badannya terasa cape sekali, ia pun pergi ke panti pijat yang tersedia di hotel itu. Bertemulah ia dengan seorang tukang pijat pria masih muda tuna netra berumur dua-puluh lima tahunan.

Pa Juferi bertanya,”Nama kamu siapa dan sudah berapa lama kerja disini.” “Nama saya Tamam, jawabnya “bekerja disini kira-kira sepuluh tahunan” Sebelumnya bekerja di mana?” Tamam menjawab, “Di bengkel las,“ “Di bengkel las, “ Kalau begitu dulu kamu tidak buta.’ Kata pa Jufri.””Betul, dulu saya tidak buta.” “Mengapa kamu sampai buta?”

Inilah cerita Tama. “Sewaktu saya masih duduk di SMP, ayah meninggal dunia dan tidak meninggalkan warisan, ia hanya buruh kecil di pelabuhan. Rumah kami menyewa, penghasilannya setiap bulan dicukup-cukupkan. Ibu saya tidak pandai mencari uang karena mengasuh tiga orang adik, masih SD dan TK. Sepeninggal ayah, sewa rumah tak terbayar, makan-minum kami hanya karena belas-kasih orang lain. Pemilik rumah akan mengusir kami bila tidak membayarnya. Akupun memutuskan berhenti sekolah dan berkerja. Ada bengkel las yang mau mempekerjakan. Sayapun bekerja, dan penghasilannya dicukup-cukupkan, kadang-kami makan hanya sekali dalam sehari.

Pada suatu hari aku bekerja, entah bagaimana, aku lengah dan tutup mata saya terbuka, percikan api las tepat mengenai kedua mata saya. Aku terpejam dan digotong ke rumah sakit. Kedua mataku diperiksa oleh dokter mata. Ia berkata mataku harus dioperasi, dengan biaya yang mahal sekali. Aku minta diobati saja Matakupun diberi obat dan suntikan lalu aku dibawa pulang. Malam-malam aku tidak bisa tidur, kelopak mataku bengkak dan perih sekali. Setelah beberapa malam, aku sudah tidak tahan lagi dan minta dibawa kembali ke dokter mata pertamaku. Biaya operasi sementara dijamin pemilik bengkel. Operasi dilaksanakan, mataku diperban berlapis-lapis. Mataku sudah terasa nyaman dan tidak sakit lagi.

Banjarmasin Post edisi Jumat (7/2/2020).
Banjarmasin Post edisi Jumat (7/2/2020). (Dok Banjarmasinpost.co.id)

Setelah waktu yang ditentukan perban mataku dilepas. Alangkah senangnya, aku. Selapis demi selapis perban dibuka. Setelah semua habis terkuak, aku memcoba membuka mata, tetapi ternyata semua gelap, akupun berteriak sejadi-jadinya, “Aku buta, aku buta. Alangkah kejamnya Engkau wahai Tuhan, kau kan tahu aku harus bekerja, mengapa musibah ini Engkau timpakan kepadaku, mana kasih-sayang-Mu.” Aku dibawa pulang, menangis dan mengurung diri. Ibu dan adik-adikku juga hanya bisa menangis. Entah apa dan bagaimana keadaan kami hari-hari mendatang.

Beberapa minggu kemudian, atas inisiatip keluargaku, aku dibawa ke Surabaya untuk kursus memijat. Setelah lulus, akupun ditempatkan di hotel ini untuk bekerja. Sewaktu aku belajar memijat, suatu hari guruku berkata kepadaku’ “Tamam, apa keputusanmu tentang Tuhan ?” Aku jawab, “Tuhan kejam, bohong pengasih penyayang. Guruku berkata lagi, “Kau jangan berkata begitu, setidaknya kau lebih beruntung dari aku.” Aku keheranan, “Guru, apa untungnya, aku kan buta.” Guruku berkata lagi “Setidaknya, kau lebih beruntung dari aku.

Kau sudah pernah melihat ibu dan adik-adikmu, sedang aku tidak pernah sama sekali. Kau sudah pernah melihat matahari, aku tahu matahari hanya lewat panas cahayanya yang menerpa wajahku. Kau sudah pernah menyaksikan bintang gemintang dan rembulan, sedang aku tidak tahu apa itu bintang dan rembulan. Kau sudah pernah melihat bunga-bunga yang orang bilang indah, aku hanya tahu indahnya bunga lewat harum baunya yang aku cium. Kau sudah pernah menyaksikan luasnya laut dan deburan ombak ditiup angin memecah di tepi pantai.” Aku bertanya lagi, “Mengapa guruku?” Guru menjawab, “Aku sudah buta sejak lahir.” Mendengar jawabannya, “Akupun beristigfar berkali-kali.”

“Kini aku bekerja di hotel ini, alhamdulillah, mendapatkan uang jutaan rupiah setiap bulan, jauh melebihi ketika aku bekerja di bengkel las yang hanya mendapatkan uang ratussan ribu rupiah. Kini, aku sudah melihat Tuhan, kendati mataku buta.” (Ref. Ary Ginanjar/Training ESQ)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved