Opini Publik

Waspada, Gejala Psikologis di Tengah Pandemi Corona

PEMBERITAAN mengenai wabah Virus Corona sampai pada saat ini tak kunjung mereda

Kemenkes
Ilustrasi virus corona (COVID-19). Polisi bersikap tegas untuk meredam virus corona di Indonesia. 

Oleh: Dyta Setiawati Hariyono
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - PEMBERITAAN mengenai wabah Virus Corona sampai pada saat ini tak kunjung mereda. Hal ini dapat memengaruhi kesehatan mental masyarakat. Masyarakat dilanda kecemasan yang luar biasa.

Perilaku masyarakat tersebut dapat muncul karena kebingungan masyarakat untuk merespons hal yang baru dan bersifat mengancam.
Dapat dikatakan bahwa wabah virus Covid-19 ini telah menyebabkan stres dan cemas massal.Rasa cemas yang muncul pada kondisi pandemi seperti saat ini wajar terjadi.

Namun yang perlu diperhatikan adalah rasa cemas ini ternyata bisa memicu munculnya segala perilaku kita. Salah satunya adalah munculnya rasa sugesti tubuh bahwa diri kita memiliki gejala Covid-19, yaitu merasakan radang tenggorokan atau sakit tenggorokan, bahkan sesak napas. Namun, gejala ini muncul tidak disertai demam atau flu. Gejala ini akan timbul dan akan hilang, pada saat setelah melihat dan membaca berita atau update terkait virus Corona ini. Hal ini ternyata bisa terjadi pada individu yang sehat fisiknya. Beberapa gejala ini akan muncul jika kita merasakan rasa cemas secara berlebihan. Hal ini bias kita sebut gejala psikosomatik.

Untuk mengurangi gejala psikosomatik ini maka lakukan hal berikut ini. Relaksasi pernapasan. Cara melakukannya adalah dengan cara mengambil napas perlahan kemudian ditahan beberapa detik kemudian hembuskan napas secara perlahan. Hal tersebut dilakukan secara berulang sampai pada keadaan tenang. Lakukan relaksasi pernapasan ini beberapa kali dalam sehari.

Mengalihkan sesaat perhatian dan batasi konsumsi berita mengenai virus Corona. Saat ini berita mengenai virus Corona banyak mengalihkan perhatian kita sehingga kita banyak fokus terhadap berita Virus Corona ini. Karena itu kita harus mencoba mengalihkan perhatian dengan kegiatan-kegiatan positif, misalnya bermain permainan kesukaan bersama keluarga, berolahraga sederhana atau melakukan hobi yang selama ini mungkin tidak dilakukan karena kesibukan pekerjaan. Selain itu, batasi konsumsi berita mengenai virus Corona ini atau tidak berfokus pada berita sepanjang waktu atau secara berlebihan. Lebih baik perbanyaklah cari berita positif dan menenangkan serta menyenangkan. Kita harus yakin bahwa di tengah wabah ini, masih ada tayangan atau sajian berita yang baik dan menyenangkan.

Detoksifikasi gadget. Selain merasakan kecemasan sehingga muncul gejala psikosomatik, kita juga mungkin mengalami over thinking atau berpikiran secara berlebihan. Ketika perasaan ini muncul, kita mungkin bisa mempertimbangkan detoksifikasi Gadget, yaitu dalam perhari mengurangi menggunakan gadget. Jika tidak memungkinkan melepas gadget, kita bisa menguranginya sedikit demi sedikit secara berkala. Termasuk membatasi diri sejenak dalam menutup pintu komunikasi yang tidak berhenti diberbagai grup chat yang membahas tentang Covid-19.

Melakukan mindfulness. Mencoba agar mindfulness pada situasi pandemik seperti ini sangatlah dianjurkan. Mindfulness yaitu memunculkan kesadaran penuh pada hal-hal yang terjadi di sekitar kita. Kondisi individu yang memiliki kesadaran penuh pada hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Individu yang sedang dalam kondisi mindfulness menjadi lebih sadar, peka, dapat menyeimbangkan dirinya dan mampu menempatkan diri terhadap situasi pandemik ini, sehingga tetap melakukan hidup yang aware terhadap kebersihan. Sebaliknya, tanda bahwa individu yang sedang tidak dalam kondisi mindfulness akan memunculkan sikap yang ceroboh, kaku, dan terjebak dalam suatu rutinitas tanpa mampu memaknainya.

Individu yang mampu memunculkan mindfulness adalah individu akan cenderung memiliki tingkat stres yang lebih rendah sehingga dapat mengurangi keresahan dan kecemasan yang terlalu berlebihan yang malah akan dapat memperburuk kondisi fisik atau akan mengurangi daya tahan tubuh individu tersebut. Melalui kondisi psikologis yang sehat, maka kekebalan tubuh juga akan lebih prima, dan yang mengalami sakit akan menjadi lebih cepat sembuh.

Mindfulness ini berperan sebagai upaya psikologis individu untuk dapat meluruskan kebingungan pada pikiran dan perasaan khawatir yang sedang dialami. Individu yang mindfulness ini akan mampu melakukan tindakan-tindakan yang rasional, mampu menganalisa situasi-situasi secara jernih dan memiliki pikiran yang lebih terbuka. Individu yang memiliki pikiran yang sepenuhnya ada di saat ini.

Halaman
12
Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved