Berita Banjarbaru

Pinsar Kalsel Sebut Permintaan Ayam Ada Peningkatan

Pertengahan Ramadhan menuju Lebaran 1441 H, Pinsar Kalsel mengungkapkan sudah ada geliat peningkatan permintaan ayam meskipun sedikit.

Penulis: Nurholis Huda | Editor: Alpri Widianjono
BANJARMASINPOST.CO.ID/HELRIANSYAH
ILUSTRASI - Ternak ayam. 

Editor: Alpri Widianjono

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Selama terjadi wabah virus corona atau Covid-19, acara-acara kedinasan pemerintah tidak dibolehkan lagi. 

Acara berbuka puasa termasuk juga tak dibolehkan, sehingga permintaan daging ayam juga terbatas.

Malah permintaan ketika awal wabah, anjlok sampai 50 persen.

Kini di pertengahan Ramadhan menuju Lebaran 1441 H, perwakilan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Kalimantan Selatan, Junaidi, mengungkapkan sudah ada geliat peningkatan permintaan ayam meski sedikit.

"Mulai meningkat permintaan pasar 3 hari ini. Untuk Kalsel, pengaruh Covid-19 ke konsumsi masyarakat (keluarga) hampir tidak ada. Namun karena semua even ditiadakan, otomatis serapan pasar jauh menurun. Untuk minggu ini, mulai panen ayam yang sudah dikurangi (jumlah peliharaan) untuk antisipasi Covid-19 juga," kata Junaedi kepada Banjarmasinpost.co.id, Kamis (7/5/2020).

Dijelaskan dia, untuk harga kini Rp 15.500-Rp 16.500 per kilogram ayam hidup di kandang.

Produksi Ayam Potong di Banjarmasin Anjlok, Harga Terus Merangkak Naik

Disbunnak Kalsel Sebut Serapan Ayam Potong Turun 50 Persen Akibat Corona

Tangani Dampak Covid-19, Pemkab Balangan Alokasi Dana Stimulus Rp 1,5 M untuk Peternak

DPRD Kalsel usulkan Raperda Peternakan Berkelanjutan, Begini Reaksi Pinsar 

Produksi Melimpah, Harga Ayam Potong Terpuruk Hingga Rp 10 Ribu

Meski begitu, lanjutnya, Pinsar masih membahas cara mengurangi kerugian.

Mengenai ayam yang terlanjur di kandang, solusinya mungkin masalah teknis jualan. Ke depan, kami sepakat untuk mengurangi memasukkan bibit untuk dipelihara, sekitar 30-40 persen dari biasanya..

Terpisah, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Kadisbunak) Provinsi Kalimantan Selatan, H Suparmi, mengakui tentang situasi dihadapi pelaku usaha ayam potong atau broiler di kala pandemi Covid-19.

“Serapan ayam potong yang biasa memenuhi keperluan katering, hotel-hotel dan pasar tradisional, menurun sekitar 50 persen,” sebutnya.

Namun ditegaskan, kondisi darurat ini terjadi secara nasional, tidak hanya di Kalsel.

Mengatasi permasalahan ini, Disbunnak Kalsel menawarkan solusi dengan mengajak para peternak untuk meningkatkan pelayanan kepada konsumen dengan memanfaatkan aplikasi teknologi informasi dalam penjualan. Seperti, pesan antar sampai ke tempat konsumen.

Menurut Suparmi, meski sudah ada aplikasi tadi, tapi tetap tidak begitu banyak pengaruh.

"Lebih penting, kini menjaga bagaimana stok itu tersedia dulu. Jangan sampai langka. Karena ini juga sebagai persiapan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional  atau HKBN 2020," urainya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved