Opini Publik
Urgensi Mata Pelajaran Sejarah di Sekolah
Mapel Sejarah dihilangkan pada jenjang SMK, dan menjadi mata pelajaran tidak wajib atau pilihan di jenjang SMA.
Oleh: Sari Oktarina, M.Pd, Kepala SMAN 11 Banjarmasin/ Ketua MGMP Sejarah SMA Prov Kalsel/Ketua Asosiasi Guru Sejarah Indonesia Prov Kalsel
BANJARMASINPOST.CO.ID - RAGAM siar warta bahwa Mata Pelajaran (Mapel) Pendidikan Sejarah akan dihapuskan, membuat berbagai kalangan terhenyak, bahkan warga awam sekalipun mengernyitkan kening. Tetapi sikap itulah yang terjadi di saat berbagai sektor kehidupan di tanah air sedang menghadapi ujian berat, khususnya musim pandemi corona. Benar, Mapel Sejarah akan dihapus, di SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) dan akan didegradasikan (bahasa sederhananya akan disederhanakan) kedudukannya di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Rencana itu muncul, menyusul beredarnya dokumen dari kinerja pihak Kemendikbud, bertajuk Penyederhanaan Kurikulum dan Asesmen Nasional tertanggal 25 Agustus 2020.
Intinya, Mapel Sejarah dihilangkan pada jenjang SMK, dan menjadi mata pelajaran tidak wajib atau pilihan di jenjang SMA. Kepastiannya, Kemendikbud memang sedang melakukan penyederhanaan kurikulum.
Menyikapi rencana Kemendikbud itu, sejumlah kalangan mempertanyakan rencana tersebut. Draf itu sendiri sudah luas beredar di kalangan akademisi dan para guru. Sejak Februari 2020, tim Kemendikbud memang menyusun penyederhanaan kurikulum dan asesmen nasional. Para pihak yang terkaget-kaget dengan beredarnya draf itu umumnya memberikan kritik keras. Intinya rencana itu mencerminkan sebuah tragedi pemerintah yang sedang mencari jawaban untuk bersikap “sederhana”, bagaimana menyederhanakan sesuatu yang mendasar, tetapi dapat dipertanggungjawabkan secara akademis dan intelektual.
Dari draf yang beredar itu, secara politis pendidikan bisa disebut sebagai upaya mengalihkan berbagai permasalahan yang sangat kompleks di era pandemi. Pancingan yang disampaikan, tetapi terkesan tidak masuk akal ini merupakan upaya pengalihan berbagai isu kompleksitas pendidikan. Adalah hal yang sulit dipahami jika di jenjang SMA (pelajaran) Sejarah menjadi pilihan. Sebagai bahan perbandingan, jika menempatkan pelajaran sejarah sebagai pilihan, seperti di Singapura, siswa dan masyarakat umum bisa tidak akan pernah belajar Sejarah. Pelajaran Sejarah di SMA merupakan kesempatan siswa untuk mengenal bangsanya lebih jauh. Bagi bangsa Indonesia yang dari sisi kebangsaan masih berusia muda, sangat penting maknanya untuk mengembangkan jati diri bangsa, mengembangkan memori kolektif bangsa, juga mengembangkan karakter para tokoh pendiri bangsa.
Pelajaran Sejarah juga mempunyai nilai sangat penting untuk mengembangkan inspirasi guna mengembalikan martabat bangsa ini sebagai bangsa yang besar serta mengembangkan kreativitas. Semua guru Sejarah harus menyadari, dari apa yang mereka lakukan (ajarkan), bisa mengembangkan kreativitas dan inovasi, bagaimana mereka menyelesaikan masalah sebagaimana teladan para pendahulu yang telah gugur mendahului kita.
Penanaman dan merekonstruksi sejarah menjadi sangat penting guna mempertebal rasa nasionalisme. Nasionalisme yang merupakan satu kesadaran suatu bangsa yang mempunyai tujuan yang sama dengan semangat kebangsaan untuk mempertahankan, mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran dan kekuatan bangsa, merupakan hal yang mutlak ditekankan kepada rakyat Indonesia. Satu cara paling efektif dan menjadi semacam lem perekat nasionalisme adalah melalui pembelajaran Sejarah.
Pada kenyataannya banyak kejadian yang sangat disayangkan seperti generasi muda yang menggelar aksi demo, awalnya berjalan damai justru berakibat pada sikap rusuh dan kisruh. Mapel Sejarah menjadi benteng efektif untuk memberikan penyadaran agar perilakunya terarah pada hal bersifat positif.
Hilangnya Identitas
Mengapa para pemangku kepentingan tidak menyadari efek negatif terhadap perubahan kurikulum Mapel Sejarah ini? Faktanya semua komponen pendidikan merasa betapa generasi muda kita sudah mulai nampak kehilangan identitas.
Fakta terjadinya kesenjangan sosial yang tajam antara kaya dan miskin karena persaingan bebas dalam sebuah globalisasi ekonomi yang bisa menimbulkan pertentangan antara yang kaya yang miskin yang dapat mengganggu kehidupan nasional bangsa. Apalagi munculnya sikap individualisme dapat mengakibatkan ketidakpedulian antar perilaku sesama warga berimbas pada ketidakpeduliaan seseorang dengan kehidupan suatu bangsa. Selain itu, di Indonesia sendiri sangat beragam jenis etnis, suku, ras, dan agama yang sangat beresiko terjadinya salah paham yang berujung dengan pertikaian. Multikulturalisme sebagai fakta konkret tidak bisa begitu saja dikelola berdasarkan manajemen kekinian.
Pemupukan nasionalisme, dengan substansi memiliki rasa cinta pada tanah air (patriotisme), mempunyai nilai kebanggaan menjadi bagian dari masyarakat Indonesia, mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi ataupun golongan, merupakan elemen yang mutlak harus ada untuk kehidupan multikultural. Mengedepannya sikap toleransi atas keberagaman yang ada di Indonesia, bersedia membela dan memajukan negara demi nama bangsa, membangun sebuah rasa kekeluargaan baik persaudaraan, solidaritas, kedamaian dan anti kekerasan antarkelompok, merupakan modal dasar yang terus menerus harus dipupuk.
Satu modal dasar yang dapat mempertemukan itu semua adalah dengan menghayati sejarah. Mapel Sejarah mempertemukan berbagai perbedaan persepsi, dan menjadi semacam “Kendaraan Bersama” untuk meniti masa kini, dengan beroreintasi masa depan, dalam satu bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan mempelajari Sejarah sama dengan mengenal diri sendiri. Sebaliknya, melupakan Sejarah sama dengan orang yang menderita hilang ingatan. Melupakan sejarah berarti kehilangan identitas diri. Sejarah merupakan petunjuk tentang apa dan siapa manusia itu sebenarnya. Sejarah adalah pengalaman manusia dan ingatan manusia yang diceritakan atau direkonstruksi kembali.
Secara elementer nasionalisme itu bersumber dari sejarah. Manusia berperan dalam Sejarah, bahkan sebagai pembuat sejarah. Karena manusia yang membuat pengalaman menjadi sejarah. Manusia adalah penutur Sejarah yaitu yang membuat cerita sejarah (sumber Sejarah). Kisah manusia dibatasi oleh waktu, ruang dan tempat manusia itu berada.
Dengan selalu mempelajari sejarah, membuat manusia dari zaman ke zaman mengetahui kesalahan kesalahannya di masa lalu, bahkan mengetahui kunci keberhasilan para pendahulu.