Breaking News:

Fikrah

Hakikat Berzikir

Zikir yang paling lengkap adalah ungkapan Tasbih Subhanallah, mensucikan Allah SWT akan segala sesuatu yang tidak layak bagi-Nya.

istimewa
KH Husin Nafarin LC Ketua MUI Kalsel 

Oleh: KH Husin Naparin Lc MA

BANJARMASINPOST.CO.ID - DIRIWAYATKAN bahwa Nabi Muhammad SAW “dzakarallaha fi kulli ahyanihi, yang artinya bahwa Nabi Muhammad SAW mengingat Allah pada setiap saatnya yang maksudnya bahwa beliau mengingat Allah SWT pada setiap saatnya,tidak pernah lupa kepada Allah SWT.

Bisakah kita seperti Rasulullah SAW? Kita bisa seperti beliau, jika kita mau. Zikir yang paling lengkap adalah ungkapan Tasbih Subhanallah, mensucikan Allah SWT akan segala sesuatu yang tidak layak bagi-Nya.

Alhamdulillah, puji-pujian kepada Allah SWT akan segala nikmat-Nya yang tidak bisa didustakan, Allah berfirman “fabi ay aala ‘irabbikuma tukadzibaan, maka nikmat Allah yang manakah yang bisa kamu dustakan.” (QS.Ar-Rahman, ayat ini diulang oleh Allah SWT di dalam surah Ar Rahman sekian kali, hal ini menunjukan betapa pentingnya sindiran Allah ini kepada manusia yang suka melupakan nikmat Allah apalagi mensyukurinya untuk taat kepada-Nya).

Takbir Allahu Akbar, pengakuan akan kebesaran Allah SWT dan kekuasaan-Nya, dan tahlil, yaitu pengakuan ke Maha Esaan Allah, serta hauqalah yaitu pengakuan akan ketidakmampuan kita sebagai makhluk Allah SWT kecuali kemampuan dan daya yang diberikan-Nya.

Untuk itu kita bisa membeli alat untuk menghitung tasbih yang memakai angka dua buah yang berwarna merah untuk zikir “Laa ilaha illallah” dan yang berwarna hijau untuk bershalawat allaahumma shalli ‘ala muhammad.

Dalam keseharian kita berzikir tiga ribu kali dan bersalawat juga tiga ribu kali. Hal ini dapat meredam dan menolak stres dalam kita menghadapi problema kehidupan, contoh ketika kita kemacetan di tengah perjalanan. Dengan demikian waktu-waktu yang kita lalui dalam keseharian kita dipenuhi dengan zikrullah.

Selain dari ucapan tasbih, tahmid, takbir serta hauqalah, termasuk berzikir adalah salat, kepada kita disunahkan/dianjurkan salat tasbih. Salat adalah zikir yang sempurna, Allah SWT berfirman: “wa aqimishalata lizdikri, artinya dirilah salat untuk mengingat aku.” (QS 20/14)

Ada ajaran sempalan aliran ilmu sebuku, kalau kita sudah mengingat Tuhan, maka apa gunanya sembahyang atau salat. Ajaran ini berkembang di daerah kita. Sangat sulit diberantas. Pengikutnya cukup banyak terdiri dari mereka yang memang tidak suka atau malas salat.

Dulu ada seorang tuan guru, yaitu tuan guru Haji Darman yang berceramah, siapa yang tidak salat matinya jadi babi. Kalau yang suami tidak salat sedang istrinya salat, itu ditunggang babi. Kalau sebaliknya jika istrinya yang tidak salat sedang suaminya salat, itu menunggang babi. Lalu ada yang bertanya,”Guru, bagaimana jika kedua-duanya tidak salat? Beliau menjawab “Itu babi main tunggang-tunggangan.” Semua hadirin pada tertawa mendengarnya.

Manusia sebenarnya ada unsur kesamaan dengan babi. Pada tahun 1982 saya masih ingat di Cipasung Jawa Barat dibahas apa hukum mengganti gigi dengan tulang babi, hukumnya haram. Tetapi mengapa mau mengganti gigi dengan tulang babi. Rupanya kalau gigi kita rusak penggantinya yang cocok adalah tulang babi. Hal ini berlaku di Eropa jika seseorang giginya rusak atau tidak teratur rapi, maka semua gigi itu dicopot dan diganti dengan tulang babi. Kalau katup jantung kita rusak, maka yang cocok penggantinya adalah katup jantung babi. Jadi manusia ada unsur kesamaan dengan babi. Makanya kita diharamkan memakan babi.

Masih ingatkah kasus di Jawa, seorang bernama Sumanto memakan manusia, ketika ditanya apa rasanya daging manusia, ia menjawab mirip daging babi. Ada pula di Jerman seorang bernama Arman, memakan bayi, ketika ditanya apa rasanya daging manusia, ia menjawab mirip daging babi. Itulah kenyataannya, padahal antara Arman dan dan Sumanto tidak pernah kontak.

Apakah dalam bertasbih kita hanya cukup dengan mengatakan subhanallah, walhamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar, wa la haula wa laa haula wa laa quwwata illa billah? Tidak, Ibnu Mas’ud ra berkata, “dzikruullahi tha’atuhu, faman dzakarallaha yuthi ‘uhu, waman lam yuthi’uhu laitsa bidzakirin walau kana katsirattasbihi, seorang yang berzikir adalah orang yang taat kepada Allah SWT, sedang seorang yang tidak taat Allah SWT adalah orang yang tidak berzikir walaupun ia banyak bertasbih. Inilah hakikatnya bertasbih yaitu mentaati perintah Allah SWT.

Rasulullah SAW menasihati Mu’az bin Jabal yang ditunjuk menjadi wali negeri di Yaman yang menghadapi kesibukan untuk berdoa Allahumma a’inni alaa dzikrika wa syukrika wa husni ibaadatika, Ya Allah tolonglah aku agar dapat mengingat Engkau, tolonglah aku agar bisa bersyukur akan nikmat-Mu dan bimbinglah aku agar dapat beribadah yang baik kepada-Mu. (*)

Editor: Eka Dinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved