Breaking News:

Jendela

Pasar Bebas Pencitraan di Medsos

Kita hidup di antara citra dan fakta, antara tampilan publik dan kenyataan pribadi.

istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - “Kau cantik bagai rembulan,” kata seorang pria pada isterinya. “Kau menyanjung atau menghina,” kata si isteri yang kebetulan baru saja belajar filsafat ontologis. Sang suami kaget. Tetapi si isteri melanjutkan, “Kalau kita lihat foto rembulan yang dirilis oleh NASA, maka permukaan rembulan itu tampak gersang dan bolong-bolong. Tetapi bulan purnama memang indah jika dilihat dari bumi.”

Kita hidup di antara citra dan fakta, antara tampilan publik dan kenyataan pribadi. Yang fakta dan pribadi adalah yang asli dan otentik, sedangkan yang citra dan tampilan adalah gambaran yang dihadirkan oleh kita dan ditangkap orang lain. Semua orang ingin citranya baik bahkan istimewa di mata publik. Berkat teknologi media sosial, kini setiap orang dapat ‘memasarkan’ dirinya dan orang lain dalam citra seindah mungkin di dunia maya. Media sosial adalah pasar bebas pencitraan.

Pasar bebas itu apa? Bebas bersaing, berkompetisi menawan hati para pembeli. Celakanya, yang dipasarkan tidak hanya barang dan jasa, tetapi juga diri sendiri. Di pasar bebas itu, kita adalah penjual sekaligus pembeli, pelanggan sekaligus produsen. Dalam persaingan itu tentu ada kalah dan menang. Tiap orang ingin menang, dan sebagian orang ingin menang dengan cara apapun, sementara penentunya adalah selera pembeli yang beragam dan tanpa kriteria yang pasti.

Ketika Anda mengirim foto, video atau tulisan ke akun media sosial, Anda pada dasarnya belum tahu seberapa besar respon warganet terhadap kiriman itu. Memang, Anda mungkin bisa menebak, kira-kita kiriman macam apa yang akan menarik perhatian. Ada yang menarik karena sesuai standar umum seperti indah, cantik, rapi, informatif, menghibur atau menggugah simpati. Ada pula yang menarik karena aneh dan di luar kebiasaan. Namun, tetap saja selera pasar itu tak mudah ditebak.

Seperti halnya persaingan bisnis di pasar bebas, persaingan pencitraan diri di pasar bebas media sosial mendorong sebagian orang untuk melakukan hal-hal yang wajar hingga yang kurang ajar. Foto saya dengan pakaian yang menutup aurat dan pantas tentu berbeda dengan foto telanjang. Pakaian adalah hiasan, dan saya akan menampilkan diri di media sosial dalam pakaian yang enak dipandang. Namun, agar lebih menarik perhatian, saya bisa juga berpakaian asal-asalan atau bahkan bugil.

Selain tampil aneh dan tidak seperti biasanya, untuk menarik perhatian warganet, orang kadangkala juga mengangkat diri dengan merendahkan orang lain. Dia tidak hanya berkampanye bahwa ‘kecap’ dirinya nomor satu di dunia, tetapi juga menghina kecap-kecap yang diproduksi orang lain. Cara seperti ini tentu akan memicu konflik, dan ujung-ujungnya jika tidak terkendali, bisa pecah dalam bentrokan di alam nyata atau berakhir di pengadilan dan penjara.

Seperti halnya pasar bebas dunia bisnis, pasar bebas media sosial juga melibatkan pemain-pemain yang berbeda tingkat kekuatan modal dan jaringannya. Seorang tokoh yang sudah memiliki pengikut yang banyak di alam nyata, tentu tidak sama dengan orang biasa. Seorang yang punya banyak uang dan mampu membayar pihak-pihak tertentu untuk pencitraan diri, tentu berbeda jauh dengan orang yang hanya punya ponsel murahan dengan kouta internet terbatas. Pasar bebas itu tidak egaliter.

Kalau menang di pasar bisnis orang dapat uang, di pasar media sosial orang dapat apa? Bagi para artis, hasilnya sama saja, uang juga. Mempunyai banyak pengikut berarti uang, karena bukan saja akan memicu penggunaan internet, melainkan juga menarik iklan-iklan barang dan jasa. Begitu pula, jika dia seorang politisi, maka jumlah orang yang suka akan sangat bermakna, khususnya di alam demokrasi. Semakin banyak orang yang menyukainya, semakin besar peluangnya untuk terpilih lagi.

Jika Anda bukan artis, bukan pula politisi, apa kiranya yang Anda dapatkan? Mungkin kepuasan diri. Tiap orang memang perlu merasa diakui dan diterima lingkungannya. Media sosial cukup membantu orang-orang yang kurang percaya diri. Seringkali terjadi, orang yang pendiam justru sangat ‘banyak bicara’ di media sosial. Bagi sebagian orang lagi, media sosial adalah sarana untuk memperkuat pertemanan yang sudah terjalin di dunia nyata, atau sekadar penghiburan di waktu senggang.

Persoalan menjadi rumit ketika tampil di media sosial dianggap sebagai masalah eksistensial. Jika Descartes mengatakan “Aku berpikir, maka Aku ada,” maka dia mengatakan, “Aku mem-posting, maka Aku ada.” Kirimanku di media sosial, menentukan keberadaanku. Jika aku tidak muncul di sana, maka aku sama dengan tidak ada. Orang semacam ini rentan kecanduan media sosial yang akan menguras banyak energinya. Dia juga gampang iri dan dengki melihat tampilan orang lain.

Alhasil, seperti halnya pasar bisnis di dunia nyata, pasar bebas pencitraan di media sosial menuntut kearifan kita. Jika berbelanja, belilah sesuai keperluan. Jika berjualan, juallah barang yang mutunya sesuai harganya. Tak perlulah melebih-lebihkan, apalagi merendahkan jualan orang lain. Selain itu, pasar adalah tempat jual-beli, bukan rumah kita. Tak sehat jika kita selalu berada di pasar. Kita perlu pulang ke rumah, yaitu keluarga kita dan diri pribadi kita yang otentik! (*)

Editor: Eka Dinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved