Breaking News:

Jendela

Belajar Melalui Keraguan

Kuliah memang bukan indoktrinasi. Tugas dosen bukanlah mendikte tetapi memancing gairah mahasiswa untuk terus mencari.

istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - “Saya masih ragu dengan penjelasan Bapak,” kata salah seorang mahasiswa di kelas daring yang saya ampu sore Jumat lalu. Ternyata, seorang mahasiswi di kelas itu juga berpendapat serupa. Saya pun kembali memaparkan argumen-argumen yang mendasari pendapat saya. Saya tidak tahu, apakah mereka akhirnya bisa menerima atau tidak penjelasan saya itu. Kuliah memang bukan indoktrinasi. Tugas dosen bukanlah mendikte tetapi memancing gairah mahasiswa untuk terus mencari.

Sebelum menutup kelas, seolah sudah bijak, saya menasihati para mahasiswa. “Saya hari ini gembira mengetahui bahwa sebagian dari Anda ragu dan tidak puas dengan pendapat saya. Itu menandakan bahwa Anda tengah berproses menuju pendapat Anda sendiri. Keraguan memang tidak nyaman. Keraguan adalah tempat tinggal yang buruk, tetapi jembatan emas menuju keyakinan. Keyakinan tanpa proses keraguan biasanya rapuh. Teruslah mencari hingga Anda yakin. Para filosof seperti al-Ghazali, Descartes bahkan Nabi Ibrahim, juga semula dilanda keraguan,” kataku.

Meskipun saya bukan orang yang arif-bijaksana, kegembiraan hati saya mengetahui keraguan para mahasiswa itu sungguh otentik. Dalam keraguan ada gairah untuk terus mencari, dan itulah hakikat belajar yang sejati. Keraguan juga menunjukkan bahwa seseorang tengah terlibat penuh dalam satu perkara untuk dicarikan pemecahannya. Dalam keraguan, manusia bukanlah penerima pasif pikiran dan informasi yang menghampiri dirinya, melainkan ia benar-benar menjadi agen, pelaku yang harus menentukan pilihan untuk dirinya sendiri.

Belajar yang terlibat sepenuh hati itu tampaknya kini semakin sulit. Dunia kita memang semakin paradoks. Di satu sisi, saluran komunikasi semakin banyak, mudah dan murah. Informasi juga melimpah ruah. Di sisi lain, kita dihadapkan kepada terlalu banyak pilihan sehingga dapat membuat kita bingung. Kita sangat sulit memusatkan perhatian. Kita terbiasa dengan multitasking, mengerjakan banyak hal di waktu yang bersamaan. Kita ingin dapat banyak, tetapi dangkal. Kita tidak lagi terlibat sepenuh hati pada satu hal yang kita kerjakan, termasuk belajar.

Tsunami informasi yang melanda setiap saat itu sangatlah memerlukan keraguan. Sudah maklum, tidak semua informasi yang beredar, lebih-lebih di dunia maya, dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Seperti arus tsunami yang menggulung, informasi saat ini bercampur baur antara air dan lumpur, sampah dan barang-barang berharga. Karena itu, diperlukan keraguan sebelum memilih dan memilah. Ketika jari-jemari kita menari-nari di layar ponsel, kita sebenarnya tengah belajar, dan dalam proses belajar itu, keraguan adalah penyaring yang sangat berguna.

Keraguan sebagai keterlibatan diri dalam mempelajari sesuatu bahkan memiliki makna eksistensial yang lebih dalam. Ketika saya mempelajari perdebatan tentang takdir dan ikhtiyar dalam teologi dan filsafat, dan saya meragukan berbagai pendapat yang ada, maka saya sebenarnya tengah mencari pendapat yang tidak saja dapat saya terima tetapi juga dapat menjadi pegangan hidup saya. Bukankah setiap orang berhadapan dengan takdir dalam hidupnya? Ini berarti, keraguan sebagai keterlibatan penuh pikiran membawa kepada ilmu yang fungsional, yang bermanfaat bagi hidup kita.

Apa yang dimaksud dengan ilmu yang bermanfaat? Bermanfaat artinya mendatangkan kebaikan atau memberikan jawaban atas berbagai persoalan hidup. Kemanfaatan itu akan dirasakan setelah proses keraguan dilalui. Ilmuan yang meneliti pemecahan satu masalah ilmiah di laboratorium ataupun di masyarakat, akan memulai dengan jawaban sementara yang diragukan, yang disebut hipotesis. Setelah proses keraguan itu bisa dibuktikan dan menjadi kebenaran ilmiah, maka hasilnya baru dapat menjadi pegangan. Hasil ini, jika digunakan dengan benar, akan membawa manfaat.

Bahkan bukan hanya ilmu, iman pun akan lebih berdaya guna setelah melewati keraguan. Agama mengajarkan, siapa yang menanam kebaikan akan memetik kebaikan pula, dan sebaliknya. Anda mungkin ragu dengan ajaran ini, kemudian mencoba membuktikannya dengan berbuat baik kepada diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Setelah itu, secara perlahan Anda membuktikan bahwa bibit perbuatan baik ternyata memang berbuah kebaikan. Keraguan Anda akhirnya melahirkan keyakinan.

Alhasil, keraguan adalah sifat alamiah batin manusia. Karena itu, keraguan tidak perlu ditakuti atau diabaikan. Keraguan adalah wujud keterlibatan diri dalam mencari kebenaran dan membuat keputusan. Minimal, keraguan adalah rayuan gombal yang memukau, seperti ditulis William Shakespeare dalam Hamlet: “Ragukan bahwa bintang-bintang itu api; Ragukan bahwa matahari itu bergerak; Ragukan bahwa kebenaran itu dusta; Tapi jangan ragukan cintaku.” (*)

Editor: Eka Dinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved