Berita Jakarta

Teror di Sigi Sulawesi Tengah Masih Ada

Teror terjadi di Lembatongoa, Sigi, Sulawesi Tengah, pelakunya adalah sisa-sisa kelompok Santoso yang sudah lebih dahulu diberangus aparat.

Editor: Alpri Widianjono
KOMPAS.COM/ERNA DWI LIDIAWATI
Terdeteksi berada di Kota Palu, Bojes alias Aan, alias Wahid, DPO teroris Poso diburu polisi, Senin (9/11/2020). 

Editor: Alpri Widianjono

BANJARMSINPOST.CO.ID, PALU - Cukup lama tak terdengar, tiba-tiba kelompok yang mengaku berafiliasi dengan Negara Islam Irak-Suriah (ISIS), yakni Mujahidin Indonesia Timur (MIT) melakukan teror.

Satu keluarga dibunuh di Lembatongoa, Sigi, Sulawesi Tengah. Pelakunya adalah sisa-sisa kelompok Santoso yang sudah lebih dahulu diberangus aparat.

Ali Kalora, pimpinan MIT pengganti Santoso dianggap sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas insiden sadis itu.

Namun, sejatinya rekam jejak MIT sejak dipimpin Santoso hingga pada 2016 dia ditembak mati aparat adalah jejak darah dan teror. Kelompok bersenjata ini tak segang menghabisi nyawa warga hingga perangkat keamanan pemerintah.

MIT yang kini dipimpin Ali Kalora mungkin hanya satu dari sejumlah sel teroris di Indonesia. Sel-sel itu tidak 100 persen lumpuh atau mati pascaupaya pemberantasan teroris gencar dilakukan oleh pemerintah Indonesia sejak beberapa tahun terakhir.

Detasemen Khusus (Densus) 88 yang menjadi ujung tombak penindakan kepada teroris pun sudah bekerja sangat keras untuk menindak sel-sel teroris itu.

Baca juga: Bantai 1 Keluarga, Pelaku Teror di Sigi Juga Bakar 7 Rumah, Polisi: Pelaku MIT Pimpinan Ali Kalor

Baca juga: Satu Keluarga di Sigi Dibantai Pembunuh Misterius, Warga Lain Ketakutan dan Lari ke Hutan

Baca juga: Evakuasi Jenazah Santoso, Polisi Gunakan Helikopter

 

Baca juga: Santoso Ditembak Mati, 19 DPO Masih Diburu

Namun, sel-sel teroris akan selalu ada jika masyarakat tidak turut membantu pemerintah memberantasnya. Sel-sel pembangun teror itu sementara mati suri dan menunggu saat yang tepat untuk kembali menebar ancaman.

Walaupun mungkin secara kasat mata kelompok-kelompok teror ini tidak terorganisir seperti beberapa tahun lampau ketika teroris berhasil melakukan aksi skala besar di negeri ini, namun mereka masih tetap hidup, masih tetap bisa beraksi. Walaupun skala dan intensitas tak seperti dulu.

Artinya, harus digarisbawahi adalah teror itu akan tumbuh dan berkembang lagi jika kesempatan ada. Peluang untuk melakukan terbuka.

Ada momen yang pas dan dapat digunakan untuk menebar ketakutan atau bahkan mungkin pula mendapatkan empati.

Pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang bakal digelar serentak pada 9 Desmeber 2020 mendatang bisa jadi ‘sumbu’ bagi pelaku teror untuk memperlihatkan eksistensinya.

Friksi yang terjadi di masyarakat karena pilihan calon pimpinan kepala daerah yang berbeda bisa jadi berkembang lebih luas kala ada teror oleh teroris yang mengatasnamakan agama atau kelompok tertentu.

Demikian pula konsentrasi aparat yang banyak tersedot Pilkada maupun penegakan disiplin penanganan covid-19, menjadi peluang bagi teroris untuk beraksi, karena merasa aman dan tidak terpantau.

Masyarakat juga tidak boleh lengah karena potensi teror itu tetap ada dan hanya eskalasinya yang berkurang sementara.

Jadi, kunci melawan teror itu hanya satu, jangan sampai sel-sel teroris ini berkembang bahkan menjadi besar.

Oleh karena itu, kerja sama antara aparat dan masyarakat untuk membendung faham yang mengedepankan kekerasan ini sangat diperlukan. Kedamaian hakiki adalah ketika teror tidak dapat berkembang karena kekuatan, persatuan, antara masyarakat dengan aparat keamanan. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved